Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dulu Benci Dengar Suara Azan, Kini Jadi Muazin

Ahmad Yani • Rabu, 21 April 2021 | 19:00 WIB
Novan Christianto masuk Islam sejak 2018 lalu. Ujian berat telah dia lewati, yakni diusir dari rumah. Namun, kini dia mantap menjadi muslim yang taat. (Galih Prasetyo/Radar Malang)
Novan Christianto masuk Islam sejak 2018 lalu. Ujian berat telah dia lewati, yakni diusir dari rumah. Namun, kini dia mantap menjadi muslim yang taat. (Galih Prasetyo/Radar Malang)
Hidup Novan Christianto sejak 2018 berubah total. Tepatnya sejak dirinya masuk Islam (menjadi mualaf). Tak mudah bagi dia memutuskan masuk Islam. Dia diusir dari rumah hingga uang kuliah distop. Tetapi, dia sudah bertekad bulat menjadi muslim.

------------

Hari-hari Novan kini banyak dihabiskan untuk beribadah. Mulai salat, belajar baca Alquran, dan kajian. Ini karena dia merasa harus banyak ”mengejar” ketertinggalan mendalami Islam. Apalagi dia merasa menyesal, sebelum masuk Islam, dirinya benci sekali dengan Islam. Di mata dia saat itu, Islam adalah agama yang keras dan banyak negatifnya. Bahkan, dia juga benci ketika mendengar suara azan. Sebab, dia anggap azan mengganggu telinganya saja.

”Sampai-sampai dulu itu saya pernah bilang, ’apakah tuli Tuhannya orang Islam itu ya, sampai harus dipanggil seperti itu (pakai speaker dan keras)’,” kenang pria berusia 25 tahun itu dengan penuh penyesalan.

Menurut dia, kebencian akan Islam itu mulai luntur saat duduk di bangku SMA. Dia mendapati sebuah kondisi yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Momen itu terjadi saat dia sakit dan harus mendapatkan pertolongan khusus.

”Saat itu di tengah proses recovery pascaoperasi usus buntu, sembari menunggu efek obat bius, dalam kondisi setengah sadar, di telinga saya itu tiba-tiba terdengar suara azan,” kisah dia. Lalu, dia menyebut, setelah suara azan, ada yang bilang apabila ingin sehat dan sembuh, dia harus mengikuti panggilan suara itu (azan).

Namun, peristiwa di rumah sakit tersebut tidak langsung membuatnya percaya jika jalan hidupnya akhirnya harus memeluk agama Islam. Hatinya bimbang. Sebab, dia merasa bisa jadi itu hanya halusinasi.
Terjadi pergolakan dalam batinnya. ”Setiap saya berusaha menjauh (dari azan), batin ini rasanya seperti ditarik untuk segera menuju sumber tersebut,” papar dia.

Lalu, puncaknya saat hati Novan mulai merasakan sesuatu saat mendengar lantunan suara azan. ”Setelah rangkai kejadian itu, setiap mendengar suara azan hati ini selalu bergetar,” katanya. Dia melanjutkan, sekujur tubuhnya merinding setiap ada panggilan untuk salat itu. Khususnya saat masuk kata-kata La Ilaha Ilallah (Tiada Tuhan selain Allah).

Usai momen-momen tersebut, Novan mengaku kalau hidupnya mengalami perubahan. Untuk menjawab rasa penasaran yang menyelimutinya itu, dia mulai belajar mengenai Islam. Mulai dari membaca huruf hijaiyah, mengenal apa itu Islam, lalu sedikit-dikit juga belajar ilmu fikih juga. ”Dulu didampingi guru agama Islam di sekolah saya,” jelasnya.

Meski semakin yakin dengan Islam, menjadi mualaf belum bisa segera terwujud. Ada banyak rintangan yang harus dijalaninya. Salah satunya adalah penolakan keras dari kedua orang tuanya. Dia menyebut, butuh waktu sekitar tiga tahunan untuk akhirnya memeluk Islam.

Novan mengisahkan, dia diam-diam menjadi mualaf tanpa diketahui orang tuanya. Saat itu akhirnya dia mantap masuk Islam pasca kuliah di UMM. Dia mengaku semakin nyaman dengan Islam. ”Alhasil, pada 2018 memutuskan untuk menjadi mualaf,” kenangnya.

Setelah masuk Islam, dia mendapatkan sebuah cobaan berat. Mahasiswa yang kuliah di jurusan perawat itu mengaku diusir dari rumah lantaran ketahuan masuk Islam. Kondisi yang dibilangnya sempat membuat dia down. Dia keluar rumah dengan kondisi tanpa punya apa-apa. Uang kuliahnya juga distop. ”Ketika itu sempat ada kekhawatiran bagaimana setelah ini menjalani hidup,” tutur Novan.

Beruntung, Novan punya tekad kuat. Hatinya lebih tenang. Sehingga segala persoalan itu dia pasrahkan segalanya kepada Allah SWT. Bagi dia, apa yang terjadi atas kehendak Allah. ”Saya mengimani apa yang terjadi dalam hidup saya saat itu sebagai bentuk rasa cintanya Allah kepada saya,” kata dia dengan penuh keyakinan.

Seiring berjalannya waktu, apa diyakini Novan ternyata benar. Allah menunjukkan jalan pada setiap problemnya. Masalahnya teratasi saat dia dipertemukan dengan orang-orang baik hati yang membantu finansialnya. Berkat hal itu, selain Novan bisa mencukupi kebutuhannya, kuliahnya terus berlanjut dan saat ini di tahap skripsi.

Sebagai mualaf, Novan terbilang sosok yang bisa belajar dengan cepat. Selain itu, dia rajin belajar. Sampai-sampai saat ini dia dipercaya untuk menjadi muazin Masjid Al Robithoh Bandara Abdulrachman Saleh. ”Alhamdulillah saya sangat bersyukur dengan apa yang terjadi dalam hidup saya,” terangnya.

Bagi dia, selepas menjadi mualaf, hidupnya lebih tertata, tenang, dan diberikan kepercayaan untuk menyebarluaskan agama Islam. Selain dipercaya menjadi muazin, dia juga kerap dimintai bantuan untuk mengislamkan seseorang. Lalu, saat bulan Ramadan seperti saat ini, dia juga acap kali ditunjuk jadi imam salat Tarawih di beberapa masjid di Kota Malang. Tidak berhenti di situ, Novan juga dipercaya untuk mengisi sebuah kajian. (rmc/gp/c1/abm)
Editor : Ahmad Yani
#jalan hidup #masuk Islam #Mualaf #berkah Ramadan #kisah inspiratif