”Karena risiko Covid-19 datang dari mana-mana. Jadi (siswa) harus bawa bekal sendiri dari rumah,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Malang Rachmat Hardijono beberapa waktu lalu.
Pejabat eselon II B Pemkot Malang itu mengatakan, sekolah tatap muka dilaksanakan sesuai rencana, yakni 12 Juli mendatang. Dia mengaku sudah menginstruksikan ke masing-masing kepala sekolah (kepsek) untuk mempersiapkannya. ”Siap tidak siap, sekolah harus siap (melaksanakan pembelajaran tatap muka), namun harus tetap memperhatikan prokes,” ungkapnya.
Bagi sekolah yang selama ini belum pernah melakukan uji coba sekolah tatap muka, Rachmat meminta mereka melakukan simulasi pada 5 Juli mendatang. Dalam simulasi itu diatur prosedurnya, yakni menggunakan teknis pergantian kelas atau pergantian jam. ”Masing masing sekolah harus ada prosedur itu, sesuai kebijakan dan kapasitas sekolahnya,” tambah dia.
Selain itu, dia mengatakan, PTM harus mendapat persetujuan dari orang tua. Jika ada orang tua yang tidak mengizinkan anaknya mengikuti PTM, Rachmat tidak akan memaksa. ”Mungkin belum yakin dengan prosedur sekolah, maka harus ada solusinya untuk itu,” terangnya.
Senada, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dr Arbani Mukti Wibowo mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan disdik terkait penanganan jika terjadi kasus Covid-19 di internal lembaga pendidikan. ”Salah satunya harus lapor ke satgas pendidikan atau satgas kecamatan agar bisa langsung dieksekusi ke faskes terdekat,” kata Arbani.
Untuk Kabupaten Malang, Satgas Covid-19 dibagi dua, yakni sebagai pengawas dan sebagai pembina. Misalnya, di lingkup kecamatan atau desa ada yang tidak disiplin prokes, maka pengawas harus mengambil tindakan.
Sedangkan, untuk pembina adalah perangkat daerah di lingkungan Pemkab Malang. ”Kalau di sekolah artinya pembinanya adalah satgas pendidikan dari disdik, tapi yang melakukan pengawasan adalah dari satgas setempat,” paparnya.
Sementara di Kota Malang, sekolah tatap muka masih dikaji. Apalagi setelah Kota Malang masuk dalam pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketat. Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur terkait rencana pelaksanaan sekolah tatap muka.
Dari hasil koordinasi tersebut, sekolah tatap muka dilaksanakan sesuai jadwal, yakni Juli mendatang. Namun pelaksanaannya harus disertai prokes ketat. ”Pemprov menginstruksikan untuk dikembalikan ke daerah. Prinsipnya kami siap (menggelar sekolah tatap muka),” ujar Sutiaji.
Pria yang juga menjabat ketua Satgas Covid-19 Kota Malang itu menegaskan, sekolah tatap muka harus tetap dijalankan. Tujuannya supaya tidak membuat masyarakat panik, apalagi para orang tua siswa sudah bosan selama setahun lebih melihat anaknya belajar secara daring. Sutiaji juga melihat pelaksanaan simulasi PTM pada April lalu menunjukkan hampir semua sekolah siap menggelar PTM. (rmc/ulf/adn/c1/dan)
Editor : Ahmad Yani