DARI tiga daerah di Malang raya, Kabupaten Malang menjadi daerah yang paling banyak memiliki produk pertanian unggulan. Total ada 10 komoditi pertanian yang jadi andalan di sana.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Budiar Anwar mengatakan bila 10 komoditi itu sudah masuk ke pasar ekspor. Catatan itu menjadi pencapaian tersendiri untuk bidang pertanian di Kabupaten Malang.
Sebagai contoh, dia menyebut ada dua jenis pisang unggulan yang berasal dari Kabupaten Malang. Pertama yakni pisang emas dan pisang cavendish. Saat ini, komoditi itu sudah diekspor sampai ke negara Inggris. ”Pisang unggulan itu produktivitasnya sampai 57,6 ton per hektare dalam satu tahun,” kata dia.
Budidaya jenis pisang itu banyak dilakukan di daerah Malang selatan. Seperti di Kecamatan Ampelgading, Dampit, dan Tirtoyudo. Proses menanamnya menggunakan model monokultur, atau budidaya di lahan pertanian yang hanya menanam satu jenis tanaman satu area. Di lahan seluas sekitar 40 hektare. Tak hanya buahnya, saat ini negeri lain juga mulai melirik daun pisang dari Kabupaten Malang. ”Kami tidak tahu persis untuk apa, tetapi permintaan daun pisang juga cukup tinggi,” imbuh Budiar.
Produk unggulan berikutnya yakni kubis dan sawi putih. Komoditi itu banyak dibudidayakan di Kecamatan Poncokusumo. Pemasarannya sudah diekspor sampai ke Taiwan. Dikatakan Budiar, pembudidayaan produk itu mulanya dipelopori oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, saat berkunjung ke Poncokusumo. ”Setiap hari kami bisa mengirim dua kontainer sayuran ke luar negeri. Baik kubis, sawi dan sayuran lainnya,” kata dia.
Selanjutnya ada komoditi alpukat pameling, yang banyak ditanam di Kecamatan Lawang. Alpukat dengan daging yang memiliki ketebalan tinggi itu sudah dijual sampai ke Hongkong dan Uni Emirat Arab. ”Satu pohon bisa menghasilkan 150 kilogram,” terang mantan Kasubag Humas Pemkab Malang itu.
Tak ketinggalan juga ada Kopi Dampit, baik yang jenisnya arabika atau robusta. Budiar menyebut bila produktivitas kopi dari Kecamatan Dampit itu terus meningkat. Dari awalnya hanya mencatatkan angka produksi 700 kilo hektare, kini menjadi 4 ton per hektare. Capaian itu dilandasi proses edukasi kepada para petani terkait pemupukan, dan proses lainnya. ”Saat ini juga sudah banyak ke luar negeri (kirimnya). Seperti ke Hongkong,” tutur dia.
Selanjutnya ada Jeruk Kalamansi. Komoditi yang banyak ditanam di Kecamatan Dau dan Poncokusumo itu juga sudah masuk pasar ekspor. Kebanyakan peminatnya datang dari negara Inggris. ”Produksinya bisa mencapai 60 kilogram per pohon,” kata Budiar. Ada pula lemon california organik. Tanaman yang per pohonnya bisa menghasilkan 30 kilogram itu sudah dipasarkan hingga Singapura. Kemudian ada Salak organik yang distribusinya sudah merambah ke empat negara.
Pemkot Batu Merevitalisasi Lahan Apel
Di Kota Batu, komoditi pertanian unggulannya masih didominasi buah dan sayur. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, produksi Apel Batu bisa mencapai 50 kuintal per tiga bulan. Begitu juga dengan Jeruk Siam, yang angka produksinya mencapai 80 ribu kuintal. Sedangkan untuk jenis sayuran masih didominasi sawi, yang setiap bulannya bisa menghasilkan 8 ribu kuintal.
Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso mengakui bila komoditi Apel Batu ada penurunan hasil produksi. Dia lantas menyebut bila angka produksi pada 20 tahun lalu bisa mencapai dua kali lipat. ”Petani kami itu dulu sering menggunakan obat pertanian insektisida, sehingga unsur hara di dalam tanahnya berkurang. Itu berpengaruh dengan kondisi sekarang,” kata dia.
Beberapa waktu yang lalu ketika musim hujan, para petani Apel Batu sering kali mengeluhkan penyakit mata ayam atau lalat buah. Sehingga harga jual apel naik turun, sesuai dengan kualitas yang ada.
”Kami ada yang namanya PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) di setiap kecamatan. Itu kami maksimalkan dan pemberian pupuk organik puluhan ton juga kami lakukan,” jelasnya. Rata-rata setiap tahun, Dinas Pertanian Kota Batu menganggarkan Rp 400 juta untuk mendukung revitalisasi lahan apel. Perlu diketahui, di Kota Batu saat ini ada 1.044 hektare lahan apel. ”Kami sudah melakukan pembenahan lahan apel di Desa Bumiaji, Desa Bulukerto, Desa Sumbergondo, Desa Punten, Desa Tulungrejo dan lainnya. Setiap tahun ada sekitar 6 hektare lahan yang kami bina,” jelasnya.
Kota Malang Masih Miliki 5.200 Petani
Meski lahan pertaniannya lebih sedikit dibandingkan dua daerah tetangga, Kota Malang tetap mempunyai komoditi unggulan. Beras berkualitas premium seperti inpari 32 dan inpari 42 jadi contohnya. Dua jenis tersebut menjadi andalan Kota Malang selama beberapa tahun terakhir. Kabid Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Prandoyo Santoso mengatakan bila produktivitas beras di Kota Malang terbilang apik. Sebab, dari lahan pertanian seluas 995 hektare, 881 hektare di antaranya merupakan lahan pertanian padi.
”Kalau dirinci lagi hasil pertanian kami itu 7,4 ton per hektare, yang bisa dibilang di atas standar nasional yang terletak di angka 6 ton per hektare,” kata dia. Selain padi, ada tebu dan beberapa tanaman holtikultura lainnya yang jadi produk andalan. Para petani holtikultura kini banyak memanfaatkan program urban farming. Secara umum, Prandoyo melihat bila produk pertanian di Kota Malang masih bisa bersaing dengan wilayah lain. Terutama dari sisi harga pasaran.
Beras inpari 32 dan inpari 42 kini memiliki harga pasaran sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu. Pangsa pasarnya pun juga beragam. Prandoyo menyebutkan bila Surabaya jadi daerah pemasaran pasti untuk beras tersebut. Meski secara produktivitas apik, dia mengaku masih ada sejumlah kendala yang terjadi di pertanian Kota Malang. Salah satunya yakni para petani yang mayoritas sudah berusia lanjut. (rmc/fik/nug/adn/by)
Editor : Ahmad Yani