Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Makam Keluarga Dinger Belanda di Kota Batu Jadi Cagar Budaya

Shuvia Rahma • Minggu, 14 November 2021 | 05:00 WIB
Makam Tuan Dinger yang berada di Kota Batu ini masuk daftar cagar budaya. (Anugrah Budiamin/Radar Malang)
Makam Tuan Dinger yang berada di Kota Batu ini masuk daftar cagar budaya. (Anugrah Budiamin/Radar Malang)
KOTA BATU – Makam warga Belanda di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menarik perhatian sejumlah pengunjung. Maklum bangunan makam itu terlihat klasik dan kokoh. Pintu beserta engselnya masih menggunakan yang asli. Makam ini terlihat cukup mewah jika dibandingkan dengan makam-makan pada umumnya. Sebab desain arsitektur bergaya Eropa sangat khas. Selain itu bangunan ini berdiri kokoh dan berada di tengah-tengah area perkebunan milik warga.

Makan itu kini dikenal dengan sebutan Makam Dinger. Hal itu diketahui dari sebuah ukiran yang tertera di bagian atas pintu bangunan ini. Bertuliskan Familie Graff J Dinger, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti makam keluarga J Dinger. Di sebelah kiri dan kanan tulisan itu, terdapat ukiran yang bertuliskan Anno 1917 yang berarti Tahun 1917.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, pemilik bangunan itu adalah hartawan asal Belanda bernama Jon Dinger. Selain itu dia merupakan seorang tuan tanah dari berbagai kebun yang ada di Desa Tulungrejo.

“Dinger ini dulu adalah tuan tanah, hampir seluruh tanah yang ada di sini milik dia. Namun sayangnya tidak ada data berapa luas tanah yang dia miliki saat itu,” ungkap Deny Omboh, pria yang merawat dan menjaga makam tersebut.

Pria yang akrab disapa Deni itu mengatakan, tuan tanah ini wafat pada tahun 1917 dan dimakamkan di dalam bangunan ini. Istrinya bernama Elisabeth Malvine Ernestine juga turut dimakamkan di sini pada tahun 1938. Deni mengatakan, dulu makam ini dikelilingi sebuah kolam yang cukup besar.

Di depan pintu bangunan ini terdapat sebuah jembatan di atas kolam. Di sebelah kiri makam, terdapat sebuah kincir air yang cukup besar. Saat ini, kolam beserta kincir air tersebut sudah tidak tampak. Dan yang tersisa hanyalah jembatan yang terhubung ke pintu masuk bangunan ini.

“Mungkin dulu dirawat dan dipercantik oleh istrinya, karena ada rentan waktu cukup lama sekitar 21 tahun, sebelum istrinya meninggal. Kemudian dirawat anaknya sebelum kedua jenazah tersebut dikirim ke Belanda,” beber pria berusia 62 tahun itu.

Kini bangunan yang berusia ratusan tahun itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Saat ini Pemkot Batu telah memasang pagar di sekeliling bangunan itu. “Pembangunannya sebelum pandemi, sekitar tahun 2019. Mulai dipasangi pagar, lampu, jalan masuk sudah dipasangi paving block. Tapi sejak pandemi pengerjaan terhenti,” katanya.

Pria yang sudah merawat bangunan ini sejak tahun 1973 berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian lebih terhadap bangunan bersejarah ini. Deni sangat yakin, bangunan tua ini berpotensi menambah jumlah destinasi wisata di Kota Batu.

Hal itu terbukti saat wartawan koran ini berada di makam tersebut. Dua orang pemuda asal Kabupaten Malang turut mampir dan mengabadikan moment di area makam. “Biasanya kalau lewat pagarnya terkunci, tadi kebetulan lewat sini dan terbuka jadi mampir mau lihat-lihat,” ujar pria mengenakan sweter hijau tersebut. (cj5/lid).

Editor : Shuvia Rahma
#cagar budaya batu #makam belanda #makam tuan dinger