Kedua bangunan menjadi pelengkap indahnya desa kecil itu. Terlihat dari jauh, gereja dan kubah masjid berjejer rapi layak dua bangunan dalam satu pekarangan. Walaupun masih ada beberapa bangunan yang menjadi pembatasnya. Umat kedua agama itu saling bertoleransi. Seperti halnya saat hari menjelang Kenaikan Isa Almasih. Umat Kristiani menjalankan serangkaian kegiatan seperti Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). KKR itu sendiri digelar di lapangan terbuka umat Kristiani di Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang tepat sebelah kiri bangunan gereja.
Biasanya, KKR digelar untuk memperingati hari-hari besar mereka. Salah satunya memperingati kenaikan Isa Al Masih, mulai dari Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah. Saat KKR, jemaat akan berkeliling pawai obor menuju lapangan di samping gereja. Kemudian dilanjut rentetan kegiatan yang sudah tersusun rapi. “Saat KKR itu digelar, hampir setiap jemaat memberikan respons dengan mengangkat tangan dan bernyanyi bersama ketika para Worship Leader mengajak menyanyikan lagu rohani dari atas panggung dilanjut dengan pembacaan khotbah,” ucap Tumadi, 49, salah satu umat Kristiani.
Sedangkan untuk umat Islm, yang kebetulan rumah ibadahnya berdampingan, mereka ikut berpartisipasi menjaga keamanan saudara non-muslim saat menjalankan ibadah. “Pemuda agama umat Islam yang tergabung dalam Banser tersebut mengamankan kami dari hal-hal yang mengganggu ketenangan peribadatan kami,“ katanya. ”Kebersamaan dan kekeluargaan kami sangat kuat sekali. Tak sedikit pun gejolak menimpa desa kami walau beda agama,” lanjut pria paro baya.
Sejak GKJW berdiri hingga usai 90 tahun, umat muslim selalu membantunya. Tak hanya saat sekarang ini saja. Dalam hari-hari besar seperti Natal, pun aktif menjaga keberlangsungan ibadah. Sebagai warga Pujiharjo yang baik, Tumadi mengatakan, tak pernah menemukan kerukunan serukun desanya tentang persoalan toleransi. Tumadi yang saat itu juga menjabat sebagai ketua pelaksana perayaan kenaikan Isa Almasih mengatakan, hal itu bisa terjadi sebab desa itu terus memupuk kekeluargaan antarakedua umat beragama.
Terbukti, semisal saat umat Islam kesusahan, umat Nasrani ikut membantu. Begitu pula sebaliknya. Tidak ada sekat penghadang kerukunan. Hal yang harus dijadikan contoh juga adalah, di bulan suci Ramadan kali ini, GKJW Pujiharjo membentangkan kalimat besar tepat di depan gereja. Tulisan tersebut berisini ucapan “Selamat menunaikan ibadah puasa dan menyambut Hari Raya Idul Fitri, semoga ikatan tali persaudaraan makin erat, mohon maaf lahir batin”.
Tak hanya di gereja, di berbagai titik lokasi terbentang pula kalimat tersebut. Ucapan-capan tersebut tentu menjadi penyejuk bagi umat muslim di sana, ataupun warga pendatang. “Itu kan hanya simbol tulisan, kami juga pernah memberikan makanan kepada saudara kita. Artinya saling membantu dan menjaga kerukunan hingga sekarang. Kan kita hanya beda agama saja to?,” ucap dia dengan muka serius.
Selain ucapan, ada juga tentang KKR. Katanya, untuk KKR tahun ini, umat Kristiani meniadakan upacara tersebut. Alasannya, untuk menghormati umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa dan tadarus. Mereka tidak ingin mengganggu ketenangan umat Islam apalagi saat siang hari dan malam hari. “Kami nanti akan mengundang mereka, berhubung hari ini bulan puasa, maka kami juga menghormati saudara kita,” ucap dia. Saking toleransinya, umat Kristiani sampai rela mengabsenkan upacara agung digelar.
Walaupun, Ketua Ansor sekaligus pengurus Masjid Al Mujahidin Pemut Suwanto Adi, 45, menyampaikan saat forum umat beragama yang digelar di balai desa, ia menyampaikan, untuk tahun ini, urusan agama diurus individu. Sebab umat muslim juga menjalan kan ibadah puasa. “Jika kami tidak berpuasa, kami yang menjaga gereja mulai dari Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah hingga KKR,” tutup dia. (abm) Editor : Mardi Sampurno