Ari Ambarwati menggeluti dunia kepenulisan cerita anak karena resah dengan bacaan yang kurang representatif untuk anak di Indonesia. Dosen Universitas Islam Malang (Unisma) itu menilai bacaan-bacaan yang beredar selama ini terlalu Java-centris. Padahal Indonesia terkenal dengan multikultural. Apalagi dia besar di Surabaya dengan teman-teman yang latar belakang suku budayanya begitu heterogen.
”Saat itu saya punya teman-teman dari luar pulau Jawa. Tapi tempat asalnya, kebiasaan bahasanya, ciri wajahnya, tidak pernah tergambarkan dalam bacaan-bacaan anak. Terutama dalam teks bacaan mata pelajaran,” terangnya.
Ari mengaku sudah menulis cerita anak sejak 2009. Karyanya tersebar di berbagai media cetak, seperti majalah dan a koran. Beberapa karyanya juga diterbitkan menjadi sebuah buku bersama dalam antologi cerpen anak dan antologi puisi. Terakhir, puisi anak karya Ari dengan judul Anak Bajo di Buku Sekolah dinobatkan sebagai puisi terbaik oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI).
Dalam puisi itu, Ari mengangkat kehidupan anak-anak di Bajo yang selama ini juga jarang terekspos. Perempuan kelahiran 7 Januari 1972 itu menggambarkan bagaimana kehidupan anak-anak di Bajo yang dikelilingi laut. “Bahkan halaman sekolah mereka bukan rumput, tapi samudra,” ucapnya.
Ari begitu apik menggambarkan keindahan alam dan betapa bahagianya kehidupan anak-anak di sana. Tentu saja dengan bahasa anak-anak. (dre/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana