MALANG- Siapa tokoh yang pantas menjadi calon wakil presiden (cawapres) pada kontestasi Pilpres 2024 menjadi bahasan khusus. Apalagi dua calon presiden (capres) yakni Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo hingga saat ini belum menentukan siapa yang akan dipinang sebagai calon RI-2 meskipun sejumlah nama mulai mengerucut.
Hal itu pun tak luput dari perhatian para tokoh NU di Malang Raya. Bahkan Rabu (4/10), bertempat di Hotel Pelangi 2, Kota Malang, mereka mengadakan diskusi publik menyoal Cawapres Potensial di Jawa Timur.
Beberapa pembicara yang dihadirkan adalah KH Ahsani Fathurrohman (Gus Sani) dari PP Al Islahiyah Singosari, Direktur Demostat Indonesia Fatlur Rozi, mantan rektor UB Prof KH Muhammad Bisri, KH Khoiruddin dari PP An Nur Bululawang, dan akademisi Yunan Syaifullah SE ME.
Kenapa Jawa Timur? Karena wilayah ini merupakan salah satu provinsi di Pulau Jawa dengan potensi pemilih sekitar 16 persen dari total pemilih di Indonesia.
Berdasarkan hasil empat Pilpres sejak 2004 hingga 2019, pemenang Pilpres selalu merupakan pasangan yang juga unggul di Jawa Timur selain di wilayah potensial lain tentunya. Artinya, Jawa Timur merupakan salah satu kunci kemenangan dalam Pilpres. Untuk memenangkan Pilpres, tidak bisa tidak, pasangan calon dan timnya harus memperhitungkan Jawa Timur sebagai salah satu prioritas.
Mengetahui kecenderungan itu, para calon pun berebut dukungan NU menjelang pemilu. Baik dengan mengusung calon berlatar belakang NU atau mengunjungi para Kyai NU untuk menunjukkan kedekatan, dengan harapan gerbong mereka akan ikut tergerak untuk mendukung calon tersebut.
“Jika kita merujuk pada beberapa rilis
dari lembaga survei seminggu terakhir ini, maka terdapat beberapa nama yang sangat kuat dan merupakan keterwakilan dari kalangan NU,” ungkap Gus Sani.
Hal senada disampaikan Yunan Syaifullah. Menurutnya, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan memenangkan Jawa Timur, potensi menjadi pemenang pada pilpres 2024 sangat besar. “Pemilih di Jawa Timur merupakan pemilih loyal dan jumlahnya sangat besar,” kata dia.
Sementara itu, Prof Bisri menekankan, pentingnya para kandidat cawapres memiliki kekuatan di akar rumput. "Para cawapres ini harus memiliki kaki-kaki yang mampu masuk secara riil ke perkampungan untuk meraup suara rakyat. Terutama menggunakan elemen para kiai kampung yang intens berhubungan dengan masyarakat," tegasnya.
Yang menarik, dalam diskusi itu, menteri BUMN dinilai layak mendampingi salah satu capres. Bahkan dengan adanya nama Erick Thohir di urutan pertama di hampir semua lembaga survei, ditambah kapasitasnya sebagai ketua Umum PSSI, dia dinilai sebagai figur yang pas. (Jprm2)