MALANG RAYA – Memasuki musim penghujan, pemerintah daerah di Malang Raya mulai mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi. Mulai dari pengecekan dan penambahan perangkat Early Warning System (EWS), pembangunan drainase, dan meningkatkan kesiagaan masyarakat.
Di Kota Malang, tahun ini ada penambahan 8 EWS atau alat peringatan dini bencana alam. Terdiri dari tujuh EWS banjir dan satu EWS bencana tanah longsor. Tujuh EWS banjir telah dipasang di Jalan Mergan, Jalan Muharto, Jalan Raya Tlogomas, Jalan Ahmad Yani, Jalan Sunandar Priyo, Jalan Jaksa Agung Suprapto, dan Jalan Ki Ageng Gribig.
Sedangkan EWS tanah longsor masih dalam tahap perencanaan. Kemungkinan bakal dipasang Desember mendatang. Lokasinya di Joyogrand, Kelurahan Merjosari. Alat itu akan memberikan sinyal ketika terjadi tanda-tanda bencana.
”Tambahan EWS banjir dan longsor tahun ini kami anggap sudah cukup optimal. Karena kalau mengandalkan pemeriksaan manual sangat sulit. Apalagi pada malam hari,” terang Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Malang Prayitno.
Upaya lain yang dilakukan adalah melengkapi peralatan penanggulangan bencana. Perahu karet ukuran kecil akan disiagakan di lima kecamatan. Tujuannya sebagai alat evakuasi jika terjadi banjir dengan luapan tinggi. Perahu kecil itu menyesuaikan kondisi gang-gang di Kota Malang.
Prayitno juga memastikan bahwa perahu kecil itu sudah sesuai dengan standar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kapasitas angkutnya maksimal empat orang. "Perahunya lebih tebal jika dibanding buat wisata. Ini dibeli dari Jakarta," tuturnya.
Selain peringatan dini, Pemkot Malang juga berupaya mengurangi genangan banjir. Caranya dengan membangun drainase di sembilan titik langganan banjir. Contohnya di kawasan Bandulan, Sawojajar, Pisang Candi, Jatimulyo, Cemorokandang, Tlogowaru, Oro-Oro Dowo, Buring, dan Wonokoyo.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan Kawasan Pemukiman (DPUPRKP) Kota Malang Dandung Djulharjanto mengatakan, drainase yang dibangun bisa mengurangi genangan hingga 85 persen. Fokus utama pembangunan tahun ini berada di Kelurahan Sawojajar dan Madyopuro.
Empat saluran drainase sedang dibangun di wilayah tersebut. Mulai dari Jalan Danau Toba, Jalan Raya Ki Ageng Gribig, Jalan Danau Bratan, dan Jalan Danau Jonge. ”Total panjang proyek drainase di Sawojajar mencapai 1,75 kilometer,” ujarnya.
Menurut Dandung, seluruh pengerjaan ditargetkan rampung bulan ini. Progresnya di delapan titik sudah lebih dari 90 persen. Khusus untuk di Sawojajar, karena drainase yang dibangun paling panjang, progresnya berada di 70 persen.
Tak Bisa Bergantung Alat
Sementara itu, perangkat EWS di Kabupaten Malang masih terbatas. Hingga kini baru ada 11 EWS. Tiga EWS banjir berada di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) dan delapan EWS tanah gerak untuk antisipasi longsor ada di empat kecamatan. Yakni satu unit di Kecamatan Kasembon, satu unit di Kecamatan Dampit, lima unit di Kecamatan Poncokusumo, dan satu unit di Kecamatan Ngantang.
Kondisi itu masih jauh dari ideal, mengingat daerah paling rawan longsor dan banjir ada enam. Yakni Kecamatan Tirtoyudo, Ampelgading, Sumawe, Kasembon, Ngantang, dan Pujon. ”Awal tahun ini di Ngantang ada tanah gerak. Tepatnya di Desa Tulungrejo. Tapi, EWS di sana rusak," ujar Penata Penanggunalangan Bencana Ahli Muda Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Malang Yulius Dharmawan.
Karena keterbatasan anggaran, BPBD Kabupaten Malang belum bisa melakukan pengadaan EWS baru. Selama ini perangkat EWS juga diperoleh dari BPBD Provinsi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Langkah yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang saat ini sudah dibentuk di 94 desa.
Dengan adanya destana, pihaknya berharap masyarakat setempat bisa melakukan penanganan awal saat terjadi bencana. Sebab bencana biasanya terjadi begitu cepat. Masyarakat yang sudah mendapatkan pembinaan akan bisa menyelamatkan diri pada awal-awal terjadinya bencana. ”Saat ini destana masih bergantung kepada kami. Makanya, perlu kami optimalkan lagi,” lanjutnya.
Yudha, menambahkan, destana memiliki Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) yang beranggotakan sekitar 25-30 orang. Mereka diberi pemahaman terkait kebencanaan sekaligus simulasinya. ”Simulasi itu terkait pertolongan pertama. Kami ajarkan cara evakuasi dan menolong korban bencana dengan ilmu medis dasar,” kata dia.
Kota Batu Rawan Tanah Longsor
Kota Batu memiliki kawasan yang rawan tanah longsor. Bahkan selama tiga tahun terakhir (2021-2023) tercatat 273 bencana longsor di kota wisata itu. Pemkot berusaha mengoptimalkan 12 unit EWS untuk melakukan antisipasi sekaligus mencegah terjadinya korban.
Kepala BPBD Kota Batu Agung Sedayu menjelaskan, 12 unit EWS itu ditempatkan di titik-titik rawan. Di antaranya di Dusun Jurangkuali, Dusun Lemahputih, Dusun Kekep, Dusun Payan, Dusun Kungkuk, Desa Punten, Dusun Santrean, Desa Sumberejo, Dusun Ngebruk, Dusun Jantur, Dusun Claket, dan Dusun Brau. Tahun ini pihaknya tidak melakukan penambahan EWS.
”Tapi kami ingin memiliki alat EWS khusus banjir yang bisa memantau peningkatan debit air di daerah hulu Sumber Brantas," bebernya. Menurutnya, biaya untuk membeli EWS cukup mahal, yaitu sebesar Rp 150 juta untuk yang digital.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Nugroho menjelaskan, EWS tanah longsor sangat bermanfaat untuk memberikan sinyal kepada masyarakat. Di salam unit EWS itu ada ekstensometer. ”Saat ada rekahan tanah berukuran kurang lebih 7 sentimeter, maka sinyal warning langsung berbunyi," terangnya.
Penjabat (Pj) Wali Kota Batu Aries Agung Paewai menjelaskan, sekitar 57 persen wilayah di Kota Batu adalah lingkup Perhutani. Apabila musim kemarau, dia selalu mendapat laporan bencana kebakaran hutan dan lahan hingga keluhan kekeringan. Karena itu, potensi banjir dan longsor harus diwaspadai.
Aries menyebut sejumlah upaya yang sudah dilakukan pemerintah. Di antaranya membersihkan saluran irigasi. Pada 8 November 2023 juga sudah terlaksana apel siaga bencana di Taman Rekreasi Selecta. ”Pada intinya, kami ingin bukan hanya desa yang tangguh terhadap bencana. Tapi, semua destinasi wisata di Kota Batu juga tangguh bencana," pungkasnya. (adk/yun/ifa/mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana