Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tren Penyakit Jantung Masih Meningkat, Seribu Penderita Baru Per Tahun di Kota Malang

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 1 Oktober 2024 | 00:45 WIB
Photo
Photo

MALANG KOTA – Hari Jantung Internasional diperingati setiap 29 September.

Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan jantung melalui perilaku hidup sehat.

Sayang, jumlah penderita penyakit jantung masih meningkat setiap tahun akibat perilaku hidup yang tidak sehat.

Di Kota Malang, peningkatan jumlah pengidap penyakit jantung tak bisa dianggap remeh.

Tiap tahun ditemukan sekitar 1.000 pasien baru.

Ada dua jenis penyakit jantung yang biasanya didata oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang

Yakni hipertensi serta penyakit jantung koroner (PJK).

Berdasar data dinkes pada 2021, terdapat 83.922 orang yang terdeteksi menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Jumlah tersebut meningkat drastis dibanding 2020 yang hanya 39.172 orang.

Bisa jadi, pada 2021 tidak banyak orang yang berani memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Peningkatan jumlah penderita hipertensi masih terjadi pada 2022, yakni mencapai 128.525 orang.

Kemudian pada 2023 terdata 202.064 orang.

Sementara hingga Agustus tahun ini sudah ada 60.684 penderita hipertensi.

Jika hipertensi tidak ditangani, maka bisa berlanjut ke PJK.

Yakni kondisi saat pembuluh darah utama jantung mengalami kerusakan.

Pelaksana Pengelola Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2­PTM) Dinkes Kota Malang dr Rully Sumartiningsih menyebut, setiap tahun pihaknya selalu mencatat kasus baru PJK.

Seperti pada 2021, ada 675 penderita baru, sehingga total dengan penderita lama menjadi 2.489 orang.

Kemudian pada 2022 terdata 1.098 penderita PJK baru dari total 3.363 penderita PJK.

Tahun 2023 terdapat 1.227 penderita PJK baru dari total 4.592 penderita PJK.

”Sementara tahun ini, sampai Agustus sudah ada 666 penderita PJK baru dari total 2.056 penderita PJK,” beber Rully.

Agar penyakit jantung bisa ditangani lebih awal, saat ini pemerintah sedang mendorong program deteksi dini.

Dalam program itu ada sembilan penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi prioritas pemeriksaan.

Yakni hipertensi, diabetes mellitus, obesitas, stroke, penyakit jantung, penyakit paru obstruksi kronis, kanker payudara, kanker leher rahim, serta gangguan indra.

Menurut Rully, deteksi dini penting untuk dilakukan.

Apalagi tren penderita penyakit jantung merambah kelompok usia produktif dengan rentang 15-64 tahun.

Untuk mendukung deteksi dini, 16 puskesmas sudah dilengkapi alat elektrokardiogram (EKG).

Alat tersebut bisa mencatat dan mendeteksi aktivitas listrik jantung.

”Setiap puskesmas punya satu sampai dua unit EKG,” ucapnya.

Rully melanjutkan, pemeriksaan menggunakan EKG biasanya dilakukan pada orang berusia 40 tahun ke atas.

Terutama mereka yang memiliki riwayat hipertensi serta diabetes mellitus.

Dari pemeriksaan melalui EKG, ada beberapa hal yang bisa diketahui.

Antara lain irama jantung, denyut jantung, suplai darah dan oksigen, serta struktur jantung.

Jika ada gejala-gejala tertentu, puskesmas biasanya memberi edukasi dan obat-obatan.

”Misalnya edukasi untuk menjaga pola hidup sehat hingga olahraga teratur. Untuk obat sekarang juga sudah gratis,” imbuh Rully.

Dia menyebut tingkat kepatuhan minum obat sudah cukup tinggi.

Yakni mencapai 60 persen.

Fluktuatif di Kabupaten Malang

Di Kabupaten Malang, jumlah penderita penyakit jantung terbilang fluktuatif.

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, pada 2022 terdata 10.000 orang.

Namun, pada 2023 menurun menjadi 6.000 orang.

Sementara untuk tahun ini (Januari-Juni), data kunjungan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan menyebut 9.000 orang mengidap penyakit jantung

Dokter Spesialis Jantung RSUD Kanjuruhan dr Fahmy Rusnanta SpJP menyebutkan, dari 9.000 orang yang mengunjungi poli jantung, ada tiga penyakit dengan penderita terbanyak.

“Di antaranya 4.000 pasien gagal jantung, 2.600 hipertensi, dan 1.700 jantung koroner,” ujarnya saat ditemui di RSUD Kanjuruhan.

Menurutnya, gagal jantung terjadi karena komplikasi dari salah satu penyakit jantung yang belum teratasi dengan maksimal.

Biasanya karena pasien dengan penyakit jantung koroner atau penyumbatan pembuluh darah yang tidak teratasi.

Sehingga kinerja jantung dalam memompa darah terhambat.

Gagal jantung juga bisa diperparah dengan faktor risiko lain.

Seperti hipertensi atau gula darah yang tidak terkontrol.

Sementara itu, tingkat kematian penyakit jantung berada di kisaran 30 persen.

Itu dihitung dari tingkat kematian di salah satu Intensive Cardiology Care Unit (ICCU) pada 2023 lalu.

“Dalam satu tahun, dari 867 pasien perawatan kritis, 60 persen pasien dirawat di ruangan insentif. Tingkat kematiannya 20-40 persen,” jelas Fahmy.

Jika dihitung, dari 867 pasien perawatan kritis, terdapat sekitar 520 pasien dirawat di ICCU.

Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen atau 156 pasien berakhir meninggal dunia.

Karena cukup berbahaya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang terus berupaya melakukan pencegahan terhadap penyakit jantung.

Selain promosi kesehatan (promkes), pihaknya juga melakukan skrining Penyakit Tidak Menular (PTM).

Salah satunya penyakit jantung.

Skrining tersebut sudah berjalan sejak awal 2024.

Sepanjang Januari-Juni, sudah terlaksana skrining untuk sekitar 30 persen dari 1,6 juta sasaran atau 480.000 orang.

“Skrining dilakukan untuk penduduk usia 15 tahun ke atas hingga lansia dan wajib tercapai 100 persen,” ujar Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular (PTM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Paulus Gatot Kushariyanto beberapa waktu lalu.

Dia menyebutkan skrining tersebut sebagai deteksi dini faktor risiko PTM.

Terutama diabetes dan hipertensi yang menjadi faktor risiko komplikasi penyakit lain.

Khususnya penyakit jantung.

Usia 29 Tahun Kena Jantung

Kasus di Kota Batu menunjukkan penyakit jantung makin merambah usia yang lebih muda.

Temuan RSU Karsa Husada menyebut ada pasien penyakit jantung yang masih berusia 29 tahun.

Selain faktor genetik, hal itu bisa dipicu perilaku hidup yang tidak sehat.

Dokter spesialis jantung RSU Karsa Husada dr Ikhwan Handi R Sp Jp mengatakan pembuluh darah manusia akan mulai mengeras dan kaku pada usia 40 atau 50 tahun.

Namun, kondisi tersebut bisa lebih cepat maupun lebih lambat bergantung pola hidup.

Misalnya, kebiasaan memakan fast food, merokok, dan malas bergerak bisa menjadi pemicu penyakit jantung.

Penyakit bawaan seperti kolesterol, hipertensi, dan diabetes juga menjadi faktor risiko.

Hal lain yang perlu diketahui, laki-laki lebih rawan terkena penyakit jantung.

Itu karena perempuan memiliki hormon protektif untuk melindungi dari penyakit jantung.

”Biasanya pembuluh darah perempuan akan mulai mengeras dan kaku setelah menopause,” jelasnya.

Mengenai angka harapan hidup penderita jantung, di Kota Batu termasuk tinggi, yakni di atas 90 persen.

Itu karena teknologi kesehatan yang telah mumpuni untuk rehabilitasi pasien penderita penyakit jantung.

Apalagi ditunjang deteksi dini yang sangat membantu penanganan.

Masyarakat pun diimbau untuk melakukan deteksi dini terkait faktor risiko penyakit jantung melalui medical cek up.

Hal tersebut bisa dilakukan minimal setahun sekali untuk laki-laki usia di atas 40 tahun dan perempuan di atas 50 tahun.

”Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah tekanan darah, lingkar perut, kadar kolesterol, dan juga diabetes,” imbuh Ikhwan.

Untuk memperlambat proses pembuluh darah yang mengeras dan kaku, masyarakat bisa menerapkan aktivitas aerobik 3 hingga 5 kali dalam seminggu.

Durasinya 30 sampai 60 menit. Aktivitas aerobik bisa berupa jalan kaki, jogging, senam, bersepeda, berenang, dan lainnya. (mel/yun/sif/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#tren #penyakit jantung #Meningkat #Masih