Radar Malang - Produsen otomotif asal Jepang, Nissan, sedang menghadapi situasi krisis yang serius akibat penurunan penjualan selama semester pertama tahun 2024.
Berdasarkan laporan terbaru, penjualan Nissan turun sebesar 3,8% secara global. Penurunan yang signifikan terjadi di pasar utama seperti China sebesar 14,3% dan Amerika Serikat sebesar 2,8%.
Krisis ini memicu spekulasi bahwa Nissan hanya memiliki waktu satu tahun untuk bertahan. Salah satu eksekutif Nissan bahkan mengungkapkan bahwa perusahaan membutuhkan arus kas tambahan dari pasar Jepang dan Amerika Serikat untuk menyelamatkan kondisi keuangan mereka.
"Kami hanya memiliki waktu 12 hingga 14 bulan untuk bertahan. Situasi ini sangat berat, dan pada akhirnya, kami membutuhkan dukungan dari Jepang dan AS untuk menghasilkan arus kas," ujar CEO Nissan, Makoto Uchida.
Untuk mengatasi kesulitan ini, Nissan menerapkan sejumlah kebijakan efisiensi biaya dengan target penghematan sebesar $2,6 miliar atau sekitar Rp41,36 triliun. Beberapa langkah drastis yang telah diambil antara lain:
- Pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 9.000 karyawan atau 6% dari total tenaga kerja.
- Pengurangan kapasitas produksi global sebesar 20%.
- Penjualan saham di Mitsubishi Motors.
- Penundaan peluncuran model baru.
Di tengah upaya pemulihan, para petinggi Nissan juga terkena dampaknya. Gaji CEO Nissan dipangkas hingga 50%, sementara Kepala Keuangan Nissan, Stephen Ma, memutuskan untuk pensiun.
Krisis ini diperburuk oleh langkah Renault, mitra lama Nissan, yang mengurangi kepemilikan sahamnya di perusahaan tersebut.
Dari awalnya memegang 43% saham, kini Renault hanya memiliki 36% saham Nissan, dan kepemilikannya diprediksi terus menurun.
Akibat pengurangan tersebut, Nissan kini mencari investor utama baru. Honda disebut-sebut sebagai kandidat potensial, terlebih kedua perusahaan sedang menjalin kerja sama dalam pengembangan kendaraan listrik.
Mantan CEO Nissan, Carlos Ghosn, pernah menyatakan bahwa kemitraan ini bisa menjadi langkah awal bagi Honda untuk mengambil alih Nissan.
Meskipun demikian, hingga saat ini Nissan belum memberikan pernyataan resmi terkait kemungkinan tersebut.
Situasi darurat ini menjadi tantangan besar bagi Nissan untuk mempertahankan eksistensinya di industri otomotif global.(Dzulfiqar Arifuddin)
Editor : Aditya Novrian