Peternak Diimbau Melakukan Antisipasi Mandiri
MALANG RAYA – Mengganasnya kembali Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi dan kambing menjadi perhatian pemerintah pusat.
Vaksin sudah digelontorkan melalui pemerintah daerah beberapa waktu lalu.
Tapi, jumlahnya tidak mampu meng-cover seluruh hewan ternak yang rentan virus PMK.
Misalnya di Kabupaten Malang.
Jatah vaksin yang diberikan sebanyak 7.000 dosis untuk sapi.
Sedangkan untuk kambing dan domba masih diupayakan.
”Vaksin sampai di kami sejak Jumat pekan lalu (17/1). Senin sudah diambil oleh dokter hewan untuk didistribusikan,” ucap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang Eko Wahyu Widodo saat ditemui.
Karena jumlahnya terbatas, peternak yang tidak mendapat bagian diimbau untuk melakukan pengadaan vaksin secara mandiri.
Imbauan itu sudah disampaikan kepada kelompok peternak maupun KUD yang mengelola produksi susu sapi sejak awal meng ganasnya PMK pada Oktober 2024 lalu.
Sebab, bantuan vaksin baru bisa diberikan pada pertengahan Januari 2025.
”Harga vaksin PMK di pasaran bervariasi. Mulai dari Rp 17.100 hingga Rp 25.300 per dosis,” imbuhnya.
Sebagai bentuk antisipasi lain, dia meminta peternak memperhatikan keamanan dan kebersihan kandangnya.
Seperti yang diterapkan oleh Suwaji, salah satu peternak sapi di Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis.
“Setiap hari sapi dibersihkan, makan yang teratur, dan kami berikan vaksin secara mandiri,” kata Suwaji.
Vaksin tersebut normalnya diberikan empat kali dalam satu tahun (tiga bulan sekali).
Hingga saat ini dia baru dua kali memberikan vaksin tersebut.
Sebenarnya dia sedikit keberatan jika harus membeli vaksin secara mandiri karena PMK merupakan musibah.
Harapannya ada subsidi vaksin meskipun tidak bisa gratis 100 persen.
Jika ditotal, Suwaji bisa menghabiskan Rp 100.000 hingga Rp 200.000 untuk memvaksin satu ekor sapi.
Itupun hanya untuk pembelian vaksin.
Belum termasuk jasa untuk membantu penyuntikan ke sapinya.
Saat awal-awal PMK masuk pada 2022 lalu, beberapa sapinya pernah terjangkit virus tersebut.
Supaya tidak terulang, dia semakin ketat menjaga kebersihan kandang.
Orang yang masuk kandang pun terbatas, selain dirinya sebagai pemilik.
Kota Malang Tunggu Vaksin Lanjutan
Di Kota Malang, penanganan PMK oleh pemkot juga masih berjalan hingga kemarin (24/1).
Bentuknya bermacam-macam.
Mulai dari vaksinasi hingga pengelolaan kandang.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang drh Anton Pramujiono mengatakan, pada tahap awal pihaknya baru mendapat 200 dosis vaksin.
Vaksin tersebut bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) dan mulai disalurkan ke peternak pada 16 Januari.
Hingga kemarin sudah ada 50 dosis yang disalurkan.
Rinciannya untuk 23 sapi di Kelurahan Bakalankrajan, 12 sapi di Kelurahan Mulyorejo, dan 15 sapi di Kelurahan Buring.
Penyaluran vaksin selanjutnya dijadwalkan pada 21 Januari.
Sasarannya 50 sapi di Kelurahan Lesanpuro dan Kelurahan Tlogowaru.
Sehari kemudian dijadwalkan penyaluran vaksin untuk 18 ekor sapi di Kelurahan Lesanpuro.
“Sisanya akan kami salurkan secara bertahap ke sapi-sapi di kelurahan lain,” imbuh pejabat eselon III B Pemkot Malang tersebut.
Untuk sapi-sapi yang belum mendapat vaksin, pihaknya masih menunggu informasi dari Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jawa Timur dan Kementan.
Seperti pada 2024 lalu, pihaknya mendistribusikan vaksin sebanyak 2.460 dosis.
Sembari menunggu vaksin lanjutan, dispangtan menyalurkan desinfektan dan obat-obatan.
Jumlahnya mencapai ratusan botol.
“Itu dilakukan untuk pencegahan maupun pengobatan,” tegas imbuh.
Wartawan koran ini mencoba melakukan survei ke salah satu toko yang menyediakan pakan, obat-obatan, suplemen, dan peralatan ternak.
Yakni Toko Sawahan Agromakmur di Jalan Yulius Usman Nomor 53, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen.
Pemilik toko yang bernama Richie Nelson mengungkapkan, kondisi PMK pada 2025 tidak separah tahun 2022.
Pada 2022 lalu banyak peternak yang kehilangan hewan sampai 20 ekor.
Bahkan, Richie pernah sampai membuka toko pada malam hari untuk kondisi emergency.
Untuk sekarang, sehari hanya sekitar 10 orang yang membeli.
Pelaku usaha yang mencari obat dan suplemen rata-rata berasal dari Kecamatan Dau dan Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.
Terkait dengan vaksin mandiri, Richie sendiri belum mendapat informasi.
Sebab, sepengetahuan nya, vaksin untuk hewan besar tidak dijual bebas.
Biasanya, toko-toko hanya menjual vaksin untuk ayam.
Toko yang menjual obat pun biasanya rutin diperiksa Kementan.
Untuk penanganan PMK, ada tiga jenis obat yang biasanya dicari.
Yakni penurun demam dengan kandungan analgesik, antipiretik, dan antispasmodik.
Obat itu hanya diberikan kalau sapi demam.
”Kalau di toko saya, salah satu merek harganya Rp 50 ribu dengan isi 100 mililiter,” jelasnya.
Selanjutnya adalah antibiotik spektrum luas.
Obat tersebut digunakan untuk mengobati infeksi sekunder akibat bakteri lain.
Misalnya bakteri yang masuk ke sapi karena adanya luka PMK.
Harganya berkisar Rp 120 ribu dengan isi 100 mililiter.
Ada juga vitamin untuk agar imunitas sapi bertambah.
Harganya sekitar Rp 100 ribu.
“Seluruh obat biasanya diberikan dengan cara injeksi,” terang Richie.
Manfaatkan Eco Enzim Sementara itu, upaya alternatif juga dilakukan para peternak di Kota Batu.
Seperti yang dilakukan warga Desa Beji, Kecamatan Junrejo.
Mereka memanfaatkan eco enzim dan jamu untuk mengobati sapi yang terpapar PMK.
Kepala Desa Beji Deny Cahyono mengatakan, saat ini sudah ada 23 ekor sapi di wilayahnya yang terkena PMK.
Salah satu penanganan yang dilakukan oleh desa ialah dengan menyediakan eco enzim.
Cairan fermentasi itu di semprotkan ke bagian mulut dan kaki sapi yang terluka.
“Pada PMK sebelumnya, kita juga menggunakan eco enzim untuk desinfektan,” ujarnya.
Ibu-ibu kelompok wanita tani (KWT) Desa Beji memang sudah sering membuat cairan eco enzim.
Selain digunakan untuk penanganan PMK 2023 lalu, eco enzim digunakan untuk pupuk dan pestisida sayuran organik.
Pembuatan eco enzim sangat sederhana, yakni berbahan dasar limbah atau kulit buah dan sayur.
Bahannya 150 liter air, 15 kg sisa sayur dan buah, dua liter tetes tebu, dan 500 mi liter EM 4.
Bahan-bahan itu kemudian didiamkan selama 40 hari dengan sesekali membuang gasnya.
Salah satu tanda jika pembuatan eco enzim berhasil ialah menimbulkan bau harum.
“Memang cukup berefek. Kandangnya jadi tidak bau,” ujarnya.
Di bagian lain, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Batu sudah menyusun anggaran kebutuhan untuk menangani wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
Mereka mengajukan sekitar Rp 1,5 miliar untuk penanganan selama satu tahun.
Kebutuhan anggaran diajukan lewat pos belanja tidak terduga (BTT).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Heru Yulianto mengatakan, anggaran tersebut akan dirupakan vaksin, vitamin, obat obatan, dan biaya operasional.
Untuk satu dosis vaksin PMK harganya sekitar Rp 27-28 ribu.
“Penyediaan vaksin berdasarkan anggaran adalah 30 ribu dosis,” ujarnya.
Sasaran utama vaksin adalah ternak sapi.
Di Batu, populasi sapi saat ini di angka 11 ribuan hewan.
Sebagian besar didominasi sapi perah.
Sementara sapi pedaging berkisar 2.500 ekor.
Saat ini Kota Batu juga sudah mendapatkan bantuan vaksin dari provinsi sebanyak 3.525 dosis.
Petugas kesehatan hewan juga mulai turun ke lapangan untuk melakukan vaksinasi.
Lebih dari 923 dosis yang sudah disuntikan.
“Dan harus selesai pada akhir Januari,” tandasnya. (yun/mel/iza/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana