Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mayoritas Anak Tidak Sekolah di Malang Raya Terpaksa Bekerja

Fathoni Prakarsa Nanda • Kamis, 6 Maret 2025 | 18:00 WIB

Ilustrasi sekelompok siswa SMA di Indonesia. (Freepik)
Ilustrasi sekelompok siswa SMA di Indonesia. (Freepik)

Di Kota Malang Mencapai 523 ATS

MALANG RAYA – Jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Malang Raya mencapai 15.938 jiwa.

Alasannya bermacam macam.

Paling banyak karena faktor ekonomi, bahkan membuat mereka terpaksa bekerja (selengkapnya baca grafis).

Grafis penyebab anak tidak sekolah di Malang Raya.
Grafis penyebab anak tidak sekolah di Malang Raya.

Di Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu, kondisinya hampir serupa.

Faktor ekonomi keluarga yang kekurangan membuat anak yang seharusnya melanjutkan pendidikan terpaksa harus bekerja.

Dengan banyaknya waktu yang tersita untuk mencari nafkah, anak-anak tersebut mengabaikan pendidikan.

Saat ini di Kota Malang terdapat 3.406 ATS.

Dari jumlah itu sudah dilakukan verifikasi kepada 1.125 anak.

Alasan paling banyak tidak melanjutkan pendidikan adalah karena sudah bekerja.

Total mencapai 523 anak.

”Awalnya, kondisi ekonomi memaksa anak-anak bekerja. Terus lama kelamaan nyaman mencari uang, sehingga pendidikannya diabaikan,” terang Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana.

Merespons kondisi itu, disdikbud terus memberikan dorongan agar ATS tetap melanjutkan sekolahnya.

Alasan karena tidak bisa membagi waktu antara bekerja dan sekolah sudah ada solusinya.

Yakni mereka bisa melanjutkan pendidikan melalui sekolah nonformal atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

”Mereka bisa ikut kejar paket melalui PKBM. Kami sudah kerja sama dengan PKBM, dan biaya pendidikan akan gratis,” terang Jana.

Meskipun menjadi faktor paling banyak, alasan kesulitan ekonomi tergolong lebih mudah ditangani.

Mereka sebenarnya ingin kem bali bersekolah, tapi terbentur dengan waktu untuk mencari uang.

Berbeda jika penyebab ATS berasal dari diri sendiri.

Atau tidak ada niatan kembali melanjutkan pendidikan.

Menurut Jana, penanganan karena faktor tersebut jauh lebih susah.

Dari data disdikbud, terdapat 170 anak yang memang tidak ingin bersekolah.

“Kemudian yang sudah menikah juga banyak. Ketika kami datangi, alasan tidak bersekolah karena dilarang suaminya,” papar Jana.

Dari pendataan sementara, terdapat 57 anak yang sudah menikah dan tak melanjutkan sekolahnya.

Untuk penanganan tidak ada niat melanjutkan sekolah dan sudah menikah, disdikbud membutuhkan waktu lebih lama.

Itu karena perlu pendekatan yang lebih dalam kepada keluarga maupun suami atau istri.

“Selain upaya yang dilakukan pemkot, kami berharap orang tua lebih sadar tentang pentingnya pendidikan anak,” tandas pria kelahiran Bantul itu.

Lebih Kompleks

Dengan wilayah yang sang at luas, problem ATS di Ka bupaten Malang cenderung lebih kompleks.

Hingga kini yang terdata tidak sekolah mencapai 11.907 anak.

Baik jenjang SD maupun SMP.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang Suwadji menjelaskan, mereka yang kondisi ekonominya menengah ke bawah cenderung memutuskan tidak bersekolah.

Bahkan banyak orang tua yang menyuruh anaknya bekerja untuk membantu perekonomian.

Problem lainnya adalah jarak rumah dan sekolah yang terlalu jauh.

Hal itu juga membuat anak malas melanjutkan pendidikan.

Terutama bagi anak yang rumahnya di pelosok Kabupaten Malang.

Yang tak kalah berpengaruh adalah lingkungan.

Misalnya kecanduan narkoba atau pergaulan bebas.

Suwadji bahkan menyebut masih banyak anak yang putus sekolah karena hamil di luar nikah.

Akhirnya, anak tersebut dinikahkan meski pun masih usia sekolah.

”Lingkungan mberot-mberot itu juga sedikit berpengaruh. Ternyata ada yang putus sekolah demi ikut mberot,” ucap pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Berbagai upaya terus dilakukan pemkab untuk menurunkan jumlah ATS.

Tapi itu tidak mudah.

Ada saja kendala yang dihadapi di lapangan.

Misalnya, banyak orang tua di Kabupaten Malang yang belum memahami pentingnya pendidikan jangka panjang bagi masa depan anak mereka.

”Atau sebaliknya, orang tua ingin anaknya sekolah, tapi anaknya yang tidak mau,” imbuh Suwadji.

Dukungan finansial maupun nonfinansial dari berbagai pihak juga menjadi salah satu kendala pemkab.

Sebab, selain biaya pendidikan, banyak ATS yang membutuh kan dukungan lain.

Seperti akses transportasi, seragam, alat tulis, hingga bimbingan belajar.

Termasuk fasilitas untuk anak-anak disabilitas yang memerlukan penanganan khusus.

“Sosialisasi pentingnya pendidikan itu tidak kurang-kurang kami berikan. Tetapi kalau tidak ada motivasi dari anak maupun orang tua, kami tentu kesulitan,” pungkasnya.

Godaan Mendapat Uang

Faktor ekonomi tetap menjadi penyebab ATS di Kota Batu, meski dengan karakteristik berbeda.

Hingga kini masih tersisa 625 ATS.

Dengan keunggulan Kota Batu sebagai kota wisata, mereka memilih bekerja dan sangat menikmati ketika sudah mendapatkan uang.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu M. Chori menyebut keluarga memiliki andil penting dalam memotivasi anak melanjutkan studi.

Kenyataannya, sebagian orang tua justru beranggapan bahwa anak tidak perlu menempuh sekolah tinggi.

Mereka dibiarkan bekerja dan menghasilkan uang.

”Apalagi di Kota Batu ini wilayah pariwisata. Sehingga anak biasanya dibiarkan bekerja di hotel atau bertani,” jelasnya.

Di daerah pinggiran seperti Dusun Brau yang akses dan fasilitas pendidikannya minim, minat anak untuk sekolah juga berkurang.

Akhirnya pemkot mengarahkan mereka menempuh studi di pusat kegiatan belajar masy arakat (PKBM).

Jam sekolahnya dapat menyesuaikan.

Kepala bidang (Kabid) Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Batu Hariadi juga menyebut faktor lingkungan memiliki pengaruh yang cukup besar.

Misalnya lingkungan yang memang tidak menga jarkan pentingnya sekolah dan memilih berkesenian. ”Tahun lalu kami mencatat empat siswa SMP berhenti sekolah karena ikut grup ban tengan,” jelasnya.

Empat siswa itu berasal dari SMP yang sama di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu.

Hariadi mengaku sempat berkunjung ke rumah mereka untuk mengajak kembali bersekolah.

Tapi hasilnya nihil.

Anak-anak itu tetap tidak mau melanjutkan pendidikan meski sudah ditawari beasiswa.

Dengan berbagai temuan kejadian, Hariadi berharap peran keluarga sangat penting untuk memotivasi anak.

Sebab, Pemkot Batu juga telah menawarkan berbagai solusi alternatif untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat juga peduli terhadap pentingnya pendidikan,” tandasnya. (adk/yun/ori/fat)

Editor : A. Nugroho
#faktor internal #faktor eksternal #Malang Raya #Faktor Ekonomi #jumlah anak tidak sekolah #pendidikan #sekolah