BANYAK sosok lokal dari Malang Raya yang turut berperan dalam menyebarkan Islam di daerah asal.
Salah satunya yakni KH Ma’shum Mukhtar. Sejak lahir hingga wafat, kiai yang akrab disapa dengan Kiai Tar itu banyak menghabiskan waktu di Desa Tumpukrenteng, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.
Saat usianya belasan tahun, Kiai Tar sempat pergi ke Desa Turen. Di sana, kiai kelahiran tahun 1940 itu menimba ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes) Ittihadul Muslimin.
Selama belajar agama di pondok tersebut, Kiai Tar berada di bawah asuhan KH Manaf. Setelah tamat dari Ponpes Ittihadul Muslimin, hasrat Kiai Tar untuk mempelajari agama terus berlanjut.
Baca Juga: Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (23): KH Masduqi Berperan Mengubah Stigma Negatif Mergosono
Dia lantas mondok di Ponpes Miftakhul Huda di Jalan Gading Pesantren, Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Di sana, Kiai Tar berguru langsung kepada KH Muhammad Yahya atau Kiai Yahya yang merupakan pendiri ponpes.
Banyak ilmu agama yang dipelajari Kiai Tar dari Kiai Yahya. Salah satunya ilmu tarekat. Yakni ilmu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kemudian, Kiai Tar lanjut mondok di Ponpes Al Ihsan Jampes. Lokasinya berada di Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.
Keputusan untuk menuntut ilmu di Kabupaten Kediri itu dilakukan atas rekomendasi dari Kiai Yahya yang sudah lebih dulu menjadi santri di sana.
Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (21) : KH Moh. Said Ikut Menggembleng Dua Laskar
Selepas menuntut ilmu di Kabupaten Kediri, Kiai Tar kembali mondok. Kali ini di Pondok Pesantren Darusaalam Bolokagung di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi.
”Bapak baru kembali ke Turen saat usia 27 tahun,” cerita anak ketiga Kiai Tar yang bernama Syafaat Muhammad.
Selesai menuntut ilmu agama, Kiai Tar menikahi anak sulung dari Kiai Yahya yang bernama Nyai Chodijah.
Dia pun memboyong Nyai Chodijah ke Turen dan melakukan syiar Islam di kampung halamannya. Di sela-sela mengajar, Kiai Tar juga turut membantu perjuangan melawan penjajah. Termasuk pada saat Gerakan 30 September meletus tahun 1965.
”Keberadaan orang-orang PKI yang ideologinya tidak sesuai dengan Islam membuat Kiai Tar berupaya menjaga santri-santrinya,” kata Syafaat.
Penyebaran agama yang dilakukan Kiai Tar sedikit berbeda dengan pemuka agama lainnya. Dia tidak melakukan syiar dari panggung ke panggung.
Melainkan hanya fokus di Desa Tumpakrenteng dan sekitarnya. Putra dari Sarijan dan Marijah itu lebih banyak membina jamaah dari pondok yang didirikannya. Yakni Ponpes Manabiul Huda. Pondok tersebut didirikan pada akhir 1970.
”Dalam menyebarkan Agama Islam, Kiai Tar banyak berkomunikasi dengan warga maupun jamaahnya,” imbuh Syafaat.
Komunikasi yang dilakukan tidak hanya di pondok. Namun juga saat mengelola pertanian yang menjadi aktivitas sehari-hari dari Kiai Tar.
Selain itu, ada pendekatanpendekatan yang dilakukan seperti memberi nasihat atau masukan kepada warga yang membutuhkan. Dalam proses menyebarkan Islam, Kiai Tar sempat mendapat tantangan.
Sebab, sebagian warga di sana masih menganut kepercayaan kejawen. Ada yang memberi penolakan.
Namun, Kiai Tar tidak menyerah. Sebaliknya, beliau malah mempelajari tradisi-tradisi di sana. Salah satunya perhitungan weton. Beliau juga tidak pernah melarang warganya untuk menerapkan tradisi lokal. Malah meluruskan antara adat dan budaya warga yang kurang sesuai dengan ajaran Islam.
Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (20): Embong Arab Jadi Penanda Dakwah Warga Yaman
Setelah diberi pemahaman secara terus menerus, warga akhirnya mengerti. Dia juga menyampaikan kalau tidak ada salahnya menerapkan tradisi lokal.
Asalkan tidak sampai berbenturan dengan nilai-nilai Islam. Karena ajaran yang diterapkan, santri Kiai Tar semakin banyak. Tidak hanya dari Kecamatan Turen, namun juga datang dari daerah lain.
Seperti dari Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Lumajang, hingga Kabupaten Banyuwangi. Seluruh santri Kiai Tar dan warga setempat sampai sekarang masih mengamalkan dakwah yang sudah diajarkan.
Misalnya saja manaqiban hingga menggelar majelis taklim. Beberapa dakwah itu masih diteruskan enam keturunannya, termasuk Syafaat. Terutama setelah Kiai Tar wafat pada tahun 2009 karena sakit.
”Ada pula dua anaknya yang tinggal di luar Malang, yakni di Wajak dan Nganjuk. Keduanya juga mendirikan pesantren,” tambahnya. (*/by)
Editor : Aditya Novrian