RADAR MALANG - Keanekaragaman seni dan budaya dapat ditemukan di Malang, Jawa Timur. Kota wisata ini tidak hanya menyuguhkan keindahan alam yang menyegarkan mata, tetapi juga kekayaan budaya yang masih dijaga hingga kini. Salah satunya adalah Tari Bapang, sebuah tarian tradisional yang tetap eksis dan sering ditampilkan dalam berbagai acara budaya dan seremoni penting.
Tari Bapang merupakan bagian dari seni pertunjukan Topeng Malangan, yang ditandai dengan penggunaan topeng karakter bernama Bapang. Tokoh ini dikenal dalam cerita wayang Panji sebagai seorang punggawa atau bangsawan yang gagah berani, sedikit ugal-ugalan, tetapi setia dan tangguh. Topeng Bapang biasanya berwarna merah terang, berhidung panjang, dan bermata lebar menjadi simbol keberanian, ketegasan, serta jiwa kepemimpinan.
Dalam momen penutupan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025 yang digelar di Kabupaten Malang, Tari Bapang tampil memukau sebagai simbol semangat dan perayaan budaya. Tarian ini bukan hanya menjadi hiburan visual semata, tetapi menyampaikan nilai-nilai luhur masyarakat Malang dan Jawa Timur secara luas tentang keberanian, kekuatan, pengabdian, dan semangat pantang menyerah.
Filosofi Tarian Bapang: Antara Kekuatan, Keberanian, dan Kearifan Lokal
Tari Bapang memiliki koreografi yang energik, penuh loncatan, hentakan kaki, dan gestur tangan yang kuat. Hal ini mencerminkan filosofi tentang:
1. Kekuatan dan Keberanian
Gerakan cepat dan tegas menggambarkan karakter Bapang yang tangguh di medan laga. Filosofi ini mengajarkan kita pentingnya keberanian menghadapi tantangan hidup, serta kekuatan fisik dan mental untuk bertahan dan terus berjuang.
2. Keseimbangan Emosi
Di balik sosok yang gagah, Tari Bapang juga menampilkan bagian lembut yang menunjukkan bahwa kekuatan sejati juga datang dari kemampuan mengendalikan emosi. Dalam konteks kehidupan modern, ini mengajarkan pentingnya ketenangan dalam menghadapi tekanan.
3. Kesetiaan dan Pengabdian
Dalam cerita Panji, Bapang adalah pengikut setia Raja Panji. Tarian ini menyiratkan nilai pengabdian terhadap pemimpin, masyarakat, dan negara. Nilai ini terasa relevan dalam semangat sportivitas dan solidaritas selama Porprov.
4. Kearifan Lokal
Sebagai representasi seni khas Malang, Tari Bapang mengandung nilai-nilai lokal yang kaya. Topeng, musik pengiring, hingga kostum tradisionalnya mencerminkan identitas budaya yang kuat dan tak tergantikan oleh zaman.
5. Perjuangan Tanpa Henti
Gerak yang konsisten sepanjang pertunjukan melambangkan semangat juang tanpa lelah. Pesan ini selaras dengan semangat para atlet yang telah bertanding selama Porprov.
Lebih dari Sekadar Tarian
Tari Bapang bukan hanya pertunjukan estetika, tapi juga representasi sejarah dan spiritualitas masyarakat Malang. Asal-usulnya dapat ditelusuri sejak masa Kerajaan Kanjuruhan, berkembang pada masa Kediri, Singosari, hingga era Majapahit. Cerita Panji menjadi sumber utama narasi Tari Topeng Malangan yang ditampilkan secara turun-temurun di berbagai daerah seperti Tumpang, Kedungmonggo, hingga sanggar Asmorobangun yang terkenal.
Karakter topeng yang berwarna merah menggambarkan keberanian dan hawa nafsu. Gerakan seperti kalong mawas, randa ngawi, dan geber malangangku memberi identitas khas yang membedakan Tari Bapang dari tari topeng lainnya.
Dengan tampilnya Tari Bapang Malangan di penutupan Porprov Jatim 2025, masyarakat tidak hanya disuguhi tarian tradisional yang indah, tapi juga diajak untuk merenungkan kembali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam warisan budaya. Melalui keberanian, kesetiaan, dan semangat juang yang ditampilkan, Tari Bapang menyampaikan pesan yang kuat: bahwa identitas budaya adalah sumber kekuatan bangsa.
Sebagai generasi penerus, kita diajak untuk tidak hanya menikmati keindahan seni ini, tapi juga melestarikannya, menjadikannya sumber inspirasi dalam kehidupan sehari-hari dalam dunia yang terus berubah, nilai-nilai lokal tetap relevan sebagai fondasi karakter dan identitas kita bersama.
Editor : A. Nugroho