RADAR MALANG - Pelatihan fisik dan kedisiplinan yang dijalani mahasiswa Polinema di Rindam V Brawijaya selama empat hari bukan hanya tentang baris-berbaris atau belajar teori kebangsaan. Di balik rutinitas tegas itu, tumbuh satu aspek yang tidak kalah penting kedekatan emosional antara pelatih dan peserta.
Pendekatan ini membuktikan bahwa relasi manusiawi bisa terbentuk bahkan dalam situasi yang keras sekalipun. Di situlah kekuatan sebenarnya dari proses pembinaan ini membentuk karakter dengan hati, bukan sekadar aturan.
Kedekatan emosional yang terjalin dalam pelatihan ini dimulai sejak hari pertama. Para pelatih yang notabenya adalah prajurit TNI dengan pengalaman disiplin tinggi tidak bersikap otoriter semata.
Ketika ada peserta yang sulit beradaptasi, menutup diri, atau bersikap pasif, pelatih tak serta-merta menghukum. Mereka memilih untuk mendekat secara personal, mengajak berbicara, memberi motivasi, bahkan menyentuh sisi emosional yang membuat mahasiswa merasa didengar.
Ini bukan pendekatan yang umum dijumpai dalam pelatihan militer konvensional, tetapi di sinilah kekhasan pembinaan ini terasa kuat.
Ada kalanya, kedekatan ini muncul dalam momen sederhana seperti saat makan bersama, istirahat, atau ketika pelatih ikut membantu peserta yang tampak kelelahan. Dari situ, kepercayaan tumbuh.
Mahasiswa tak lagi melihat pelatih sebagai sosok yang menakutkan, melainkan sebagai pembimbing yang peduli dan ingin melihat mereka tumbuh.
Kedekatan ini menciptakan efek domino. Mahasiswa yang sebelumnya kurang disiplin mulai berubah yang awalnya enggan berpartisipasi mulai menunjukkan antusiasme. Mereka tidak ingin mengecewakan pelatih yang sudah begitu peduli pada proses mereka.
Proses pengawasan pun bukan hanya soal kinerja, tapi juga kondisi mental dan emosional. Inilah bentuk pembinaan karakter menyeluruh yang berdampak jangka panjang.
Kedekatan emosional yang terjalin dalam pelatihan mahasiswa Polinema di Rindam V Brawijaya menjadi fondasi penting dalam pendidikan karakter. Pendekatan tegas yang dibarengi dengan empati, pengawasan yang dibalut perhatian, serta komunikasi dua arah menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan sikap dan mental secara alami.
Lebih dari sekadar pelatihan kedisiplinan, pengalaman ini menjadi ruang tumbuh bersama di mana pelatih dan peserta saling membentuk, saling memahami, dan pada akhirnya, saling menghargai. Di sinilah bukti bahwa pendidikan karakter sejati tak hanya mengubah perilaku, tapi juga membangun hubungan hati. (fie)
Editor : A. Nugroho