KEPANJEN - Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang untuk menekan angka stunting (pertumbuhan terhambat). Salah satunya dengan cara menaikkan tingkat konsumsi ikan.
Tingkat Konsumsi Ikan
- Per Februari 2025, angka stunting di Kabupaten Malang mencapai 9.829 anak atau 6,26 persen dari 156.948 anak yang diukur
- Pemkab Malang menekan angka stunting melalui gerakan makan ikan
- 2024, tingkat konsumsi ikan berkisar 32 kilogram per kapita per tahun
- 2025 tingkat konsumsi ikan mencapai 43,8 kilogram per kapita per tahun
Sepanjang 2024, tingkat konsumsi ikan 32 kilogram per kapita per tahun. Kemudian pada tahun ini meningkat menjadi 43,8 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut masih di bawah Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan nasional yang sudah melebihi 59 kilogram per kapita per tahun.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring menyampaikan, konsumsi terbesar masih di rumah makan atau restoran. “Sedangkan di rumah tangga masih rendah, yaitu hanya 13 kilogram per kapita per tahun,” ucapnya.
Pihaknya akan terus mendorong masyarakat untuk konsumsi ikan. Sebab, produksi ikan di Kabupaten melimpah, baik perikanan budidaya maupun perikanan tangkap. Tahun ini, produksi perikanan tangkap per semester pertama mencapai 14.000 ton.
“Gizi di ikan juga sangat lengkap dan aman untuk balita hingga lansia. Makanya terus kami dorong peningkatan konsumsi ikan. Minimal, gizi masyarakat tercukupi dan angka stunting kami bisa turun,” imbuh pejabat eselon II B Pemkab Malang itu. Mulai dari protein, asam lemak omega-3, vitamin, mineral, lemak sehat, hingga rendah kalori.
Menurut data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, jumlah anak stunting pada Februari lalu mencapai 9.829 jiwa. Dengan anak yang diukur berjumlah 156.948 anak, maka prevalensinya mencapai 6,26 persen. Jika tingkat konsumsi ikan ditingkatkan, minimal setara provinsi, diharapkan stunting bisa menurun, bahkan bisa zero stunting.
Salah satu cara untuk meningkatkan konsumsi ikan yakni dengan mengolahnya menjadi makanan yang menarik. Khususnya bagi anak-anak dan balita. Seperti yang diterapkan oleh anggota PKK Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung.
Anggota PKK Desa Ternyang Srianingsih menjelaskan, desa tersebut memiliki peternakan lele dan pohon kelor. Produk-produknya diolah menjadi makanan ringan yang menarik dan dibagikan kepada anak-anak yang terindikasi stunting. “Seminggu sekali kami memproduksi makanan tambahan tersebut. Sekali produksi, kami membuat tiga resep dan menjadi sekitar 220-an biji,” ujar Sri.
Cara membuatnya pun sama dengan kue kering lain. Hanya saja ada tambahan tepung kelor atau tepung lele. Kue kering tersebut dibentuk semenarik mungkin. Supaya anak-anak mau memakannya. Seperti kue kering tepung lele yang dibentuk menyerupai karakter monster berwarna kuning atau kue kering kelor yang diberi toping cokelat. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho