MALANG – Tidak mau ribet! Itulah alasan sejumlah petani di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang lebih memilih menjual buah jeruk begitu saja.
Alih-alih mengolahnya menjadi aneka minuman, snack, atau buka kios jus, mereka justru lebih suka langsung menjual jeruk siam Pontianak ke pengepul. “Langsung dijual,” ujar Jumaat, salah satu petani jeruk di Kecamatan Dau.
Bukan hanya dari area Malang, namun Jumaat mengatakan justru banyak pengepul berasal dari luar kota. Seperti di antaranya dari Blitar dan Lamongan.
Mereka membeli jeruk hasil para panen para petani dalam jumlah besar. Tak jarang ada yang sampai memborong habis panen-panen itu.
Namun seperti dikatakan Jono, petani lainnya, jarang ada pengepul yang membeli jeruk sebelum panen. Pengepul biasanya hanya membeli buah yang sudah dipanen. “Mereka nyari yang jelas-jelas saja. Makanya selalu beli yang sudah dipanen,” bebernya.
Jono sendiri mengaku selalu menjual ke pengepul. Tidak pernah dia menjual langsung ke pabrik olahan jeruk atau semacamnya. Hal ini karena menurutnya, pengepul sudah memberikan harga yang cukup bagus.
Soal olah-mengolah, seperti kebanyakan petani lainnya, Jono mengaku hanya berfokus pada proses penanaman dan perkembangan jeruk hingga panen. “Itu saja sudah banyak makan waktu dan tenaga, jadi nggak sempat kalau harus ngolah segala,” ungkapnya.
Modal Kerap Jadi Kendala
Seperti kebanyakan petani kecil, masalah modal masih menjadi problem bagi mereka. Apalagi, dana yang dibutuhkan untuk menanam jeruk ini cukup banyak. “Ya bibit, belum pupuk, obatnya, juga pembasmi hama. Semua butuh biaya,” ungkap Jumaat.
Karena keterbatasan modal itu pula, dia acapkali harus berutang ke penjual obat. “Kalau pas lagi nggak punya uang untuk membeli obat-obatan, terpaksa harus utang dulu. Nanti bayarnya saat hasil panen laku terjual,” sambung Jumaat.
Para petani menyadari perputaran modal ini harus cepat. Ini juga jadi alasan tidak ada yang membuka usaha olahan jeruk. Mereka lebih suka langsung menjual jeruk ke pengepul. (dbr)
Editor : A. Nugroho