MALANG - Para petani jeruk di kawasan Dau, Kabupaten Malang, tengah menghadapi tantangan berat tahun ini. Permintaan pasar terhadap jeruk menurun drastis, begitu pula dengan harga jualnya.
Jono, seorang warga lokal berusia sekitar 60 tahun yang telah lama berkecimpung dalam dunia pertanian jeruk, membagikan pengalamannya tentang situasi sulit yang ia hadapi.
“Jumlah permintaan pasar dan harga jeruk kami per kilonya di tahun ini menurun sih mas. Tahun-tahun sebelumnya permintaan pasar bisa sampai 10 sampai 11 ton dengan harga 8.000 per kilonya. Tahun ini cuma 4 ton dan dengan harga 5.000 rupiah per kilonya,” ungkap Jono dengan nada prihatin.
Penurunan permintaan dan harga jeruk ini membuat banyak petani di kawasan Dau harus bekerja lebih keras untuk menutupi biaya produksi. Dengan hasil panen yang melimpah namun tidak diimbangi permintaan, sebagian besar petani mengaku keuntungan yang mereka peroleh tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
Jeruk dari daerah Dau dikenal dengan kualitasnya yang manis dan segar. Kawasan ini bahkan menjadi salah satu pusat produksi jeruk terbesar di Kabupaten Malang.
Namun, kondisi pasar yang lesu dan harga yang merosot membuat para petani harus memutar otak agar tetap bisa bertahan. Jono sendiri mengandalkan pengalaman puluhan tahun dalam bertani untuk menjaga kualitas hasil kebunnya, meski harga tak menentu.
Menurut Jono, penurunan harga seperti ini bukan kali pertama terjadi, tetapi tahun ini terasa lebih berat karena biaya perawatan kebun terus meningkat. “Pupuk dan obat tanaman harganya naik, tapi harga jeruk malah turun. Ya mau bagaimana lagi, kami tetap harus merawat kebun supaya jeruknya bagus,” jelasnya.
Meski situasinya sulit, semangat para petani seperti Jono tetap tinggi. Mereka terus merawat kebun dengan penuh ketelatenan agar jeruk yang dihasilkan tetap berkualitas.
Banyak yang berharap agar pasar kembali stabil dan harga jeruk dapat naik, sehingga usaha pertanian di Dau bisa kembali memberikan keuntungan layak bagi petani.
Kisah Jono menjadi cerminan perjuangan petani lokal dalam menjaga ketahanan pangan dan ekonomi daerah.
Di tengah ketidakpastian pasar, mereka tetap bekerja keras dan berharap jerih payahnya suatu hari nanti akan kembali terbayar. Jeruk-jeruk segar dari Dau pun tetap menjadi simbol kesuburan tanah Malang dan kerja keras warganya. (cj)
Editor : A. Nugroho