MALANG – Mengelola bisnis sambil kuliah bukan hal mudah, apalagi bagi mahasiswa yang baru pertama kali berbisnis. Tidak hanya soal ide atau modal, pengelolaan keuangan menjadi tantangan terbesar. Bagaimana caranya mencatat pemasukan, mengatur pengeluaran, dan menjaga perputaran uang agar usaha tetap berjalan adalah pelajaran yang harus dipelajari sejak dini.
Naula, 23, mahasiswa yang juga pemilik BannerBliss, merasakan langsung proses belajar itu. Ia memulai usahanya dari penjualan kue lumpur secara offline yang kurang berhasil. Dari pengalaman itu, ia mulai membuat catatan keuangan secara rapi dan disiplin, mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran, termasuk biaya bahan baku dan operasional.
Seiring waktu, usaha BannerBliss berkembang pesat. Pesanan banner mulai berdatangan, bahkan sempat mencapai 30 order per hari. Dari situ, Naula belajar mengelola arus kas lebih kompleks dan akhirnya merekrut karyawan untuk membantu produksi dan pengiriman. Pengalaman ini mengajarkan Naula bagaimana menyusun prioritas pengeluaran, menyisihkan modal untuk investasi peralatan baru, serta memanfaatkan keuntungan untuk strategi promosi, termasuk iklan digital.
Mengatur Keuangan dari Awal
“Memang bisnis butuh uang, tapi kita harus bisa memulai dan memutarkan kembali. Dari kegagalan jualan kue lumpur, saya mulai membuat catatan keuangan yang detail,” ujar Naula. “Setiap pesanan masuk, saya langsung catat. Kalau ada pengeluaran untuk bahan atau iklan, dicatat juga. Dengan begitu, arus kas tetap jelas dan saya bisa rencanakan langkah selanjutnya.”
Selain pengalaman bisnis sendiri, Naula juga belajar banyak dari pengelolaan keuangan organisasi kampus. “Dari organisasi, saya terbiasa bikin budget kegiatan, hitung biaya operasional, dan alokasi dana cadangan. Semua itu saya terapkan di BannerBliss. Alur keuangannya jadi lebih rapi dan keputusan bisnis lebih terukur,” tambahnya.
Konsistensi dan Strategi Finansial
Saat orderan meningkat, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi kualitas banner sekaligus memastikan modal cukup untuk produksi. “Kalau ramai, tenaga dan waktu harus diatur. Tapi kalau sepi, jangan sampai panik. Yang penting arus kas terjaga dan setiap keputusan keuangan tercatat,” kata Naula. Ia menekankan bahwa disiplin finansial adalah fondasi utama agar bisnis bisa bertahan dan terus berkembang.
Dari pengalaman Naula, terlihat jelas bahwa kesalahan awal bukan akhir dari usaha. Kegagalan justru menjadi pembelajaran, dan pengelolaan keuangan yang disiplin adalah kunci agar bisnis mahasiswa tetap sehat, bahkan ketika pesanan membludak. BannerBliss membuktikan bahwa pencatatan yang teliti, strategi modal yang tepat, dan konsistensi dalam keuangan dapat menjadi sekolah nyata sebelum terjun ke dunia profesional. (id)
Editor : A. Nugroho