KOTA MALANG - Umumnya pegiat kesenian tarik suara tradisional Jawa tak asing dengan kata “Slendro”. Mereka memaknai”slendro” adalah naik turun nada yang cenderung cepat dan mengalun.
Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono menjelaskan bahwa ”Slendro” adalah istilah untuk sistem tangga nada atau laras dalam musik gamelan yang bersifat pentatonik (lima nada dalam satu oktaf) dengan pola jarak antar nada yang relatif sama. ”Laras slendro ini menggunakan nada-nada 1-2-3-5-6-1' (atau C-D-E-G-A-C') dan umumnya memberikan kesan lincah, gembira, dan semangat,” kata dia.
Akan tetapi, di masyarakat non-pegiat seni, istilah Slendro juga bermakna ”Gila”. Dwi menegaskan bahwa kata “ gila” dalam hal ini tidak mengarah kejiwaan. Melainkan menunjukkan adanya abnormalitas. "Jadi ada deviasi makna. Ini gila karena tingkah seseorang itu lincah dan agak lain saja, seperti nada slendro itu," imbuhnya.
Diperkirakan, istilah tersebut mulai diucapkan pada periode 1970 sampai 1980-an. "Zaman mbah-mbah kita belum didapati," tandas dia. (biy/dan)
Editor : A. Nugroho