”Nek wes cocok ambek model pakaian e, ndang silim ke kasir”
Silim
Kata ”silim” rutin dipakai untuk berkomunikasi pada masa kolonial Belanda. Kebanyakan yang menggunakan adalah keturunan Arab yang berdomisili di Malang.
Silim memiliki arti yang sama dengan ”rayab” alias bayar. Dalam Bahasa Arab, bayar adalah ”yadfae”. Sementara, ada referensi yang menyebut bahwa ”silim” adalah satu bahasa prokem Arab bersama kata-kata seperti ”ente” (kamu), ”fulus” (uang), dan ”harem” (istri). Namun tidak ada referensi yang menjelaskan asal mulanya. "Tidak banyak yang tahu. Di Malang juga lebih familiar bahasa walikan rayab,” ujar Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono.
Dia menyebut, ada dua kemungkinan asal mula kata tersebut. Pertama, celetukan warga keturunan Arab yang kemudian dicontoh beberapa orang. Periodenya diduga bersamaan dengan populernya bahasa Arab yang disebut 'kalam jama'ah', pada masa kolonial Belanda.
Kedua, serapan ulang dari Bahasa Inggris oleh orang Arab dari kata 'Slim' yang artinya ramping. ”Kalau mau dirasionalkan, dari sering membayar kemudian dompet menjadi slim alias tipis,” ujar dia.
Pendapat lain disampaikan oleh peneliti bahasa asal Universitas Negeri Malang (UM) Nurenzia Sidharta. Dia mengatakan, silim berasal dari Bahasa Arab. ”Secara harfiah artinya membayar dengan ketundukan atau kepatuhan,” ucap dia.(biy/dan)
Editor : A. Nugroho