BAGI sebagian orang, melatih insting navigasi racing pigeon mungkin sekadar hobi. Tapi bagi para breeder, kegiatan itu adalah kebanggaan dan seni ketekunan. Mereka tak hanya memelihara burung, tetapi juga merawat naluri alamiah kemampuan seekor merpati untuk kembali pulang menembus jarak ratusan kilometer dari kandangnya.
Tradisi memelihara merpati pos di Kota Malang bukan hal baru. Sejak zaman penjajahan Belanda, burung ini sudah jadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun dalam dua tahun terakhir, geliatnya kembali terasa. Tahun 2023 menjadi titik kebangkitan tren racing pigeon.
Indikatornya sederhana tapi jelas. Permintaan ring atau cincin kaki sebagai tanda pengenal merpati meningkat drastis. Cincin kecil yang diimpor dari Tiongkok itu ibarat KTP bagi seekor merpati pos.
”Kami bisa mendatangkan 4.000 ring dalam satu tahun, padahal anggota kami masih puluhan orang,” ujar Bambang Irawan, Ketua Arjuna Racing Pigeon Club (ARPC) Malang.
Lonjakan permintaan itu menandakan tumbuhnya antusiasme baru di kalangan penghobi. Setelah merpati dipasangi ring, mereka siap ikut lomba. Jenis lomba paling bergengsi adalah lepasan pulau. Perlombaan di mana burung dilepaskan dari lokasi jauh. Bahkan menyeberang laut, lalu dinilai dari kecepatan pulangnya ke kandang.
Sekali lomba, panitia bisa membawa hingga 400 ekor burung. ”Setiap breeder bisa mengikutkan dua sampai lima puluh ekor. Prinsipnya, semakin banyak burung yang dilepas, semakin besar peluang menang,” tutur Bambang.
Harga seekor racing pigeon pun tidak murah. Untuk jenis lokal bisa mencapai Rp 5 juta. Sedangkan impor mencapai empat kali lipatnya.
Namun di balik kompetisi yang penuh gengsi, ada ikatan hangat antaranggota komunitas. ARPC rutin mengadakan pertemuan untuk berbagi strategi, berdiskusi soal perawatan, hingga latihan lepasan jarak pendek sejauh 10–50 kilometer.
Bagi anggota yang fokus beternak, pembahasan bisa serius soal pemilihan indukan unggul dan pencatatan silsilah atau bloodline. Banyak yang memilih bibit impor dari Belanda, negara yang dikenal sebagai pusat pengembang merpati pos dunia. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho