MALANG RAYA - Meski sudah dua pekan beroperasi, belum semua sarana dan prasarana (Sarpras) fasilitas bus Trans Jatim tersedia. Contohnya seperti shelter atau halte. Juga, jalur yang masih bisa berubah. Untuk itu, Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur mengebut pengerjaan dan memastikan kelengkapan bus rampung pada 31 Desember mendatang.
Manajemen Trans Jatim dan Staf Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dishub Provinsi Jawa Timur Cito Eko Yuli Saputro mengatakan, kelengkapan berupa shelter sudah digarap. Namun saat ini masih dirangkai di sebuah workshop. Sebab, bentuknya berupa bangunan dengan struktur sementara (portable).
”Per tanggal 25 November sudah ada sembilan shelter yang terpasang rangkanya,” kata Cito. Meliputi rangka untuk Shelter Kajoetangan, Shelter Ketawanggede 1, Shelter Dau 2, Shelter Bukit Panderman 1, Shelter Bukit Panderman 2, dan Shelter Kementan BSIP 1.
Berikutnya Shelter Kementan BSIP 2, Shelter Balai Desa Tlekung 1, dan Shelter Balai Desa Tlekung 2 (selengkapnya baca grafis). Salah satu shelter akan dilengkapi dengan rest area. Fasilitas rest area terdapat di lahan kosong milik UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki). Selain itu, di sana juga bisa digunakan untuk UMKM, ATM center, dan area parkir.
Adanya shelter dengan rest area di sana merupakan kerja sama dengan UIN Maliki. Sesuai kontrak dengan penyedia, shelter dijadwalkan rampung terbangun pada 31 Desember. JIka molor, dishub akan memberikan sanksi kepada pihak penyedia. Di shelter juga akan dilengkapi dengan platform untuk menampilkan iklan.
Terkait dengan pengelolaan iklan, nanti masyarakat atau calon penyewa bakal membayar retribusi kepada Dishub Provinsi Jawa Timur. Besaran tarifnya disesuaikan dengan Perda Jawa Timur Nomor 8 Tahun 2023. Penyewa atau masyarakat yang memasang iklan juga dibebankan pajak. Meliputi PPN, PPH, dan pajak reklame.
”Untuk iklan, sudah ada satu perusahaan advertising dari Jakarta yang ingin bekerja sama. Kebetulan perusahaan itu bermitra dengan beberapa perusahaan,” kata Cito. Namun pemasangan iklan baru bisa dilakukan tahun depan.
Sebab, dishub tidak ingin terburu-buru mengingat Bus Trans Jatim memiliki orientasi berupa layanan kepada masyarakat (service oriented). Selain shelter, dishub juga berencana menambah ritase bus.
Saat ini, satu bus berjalan dalam tiga ritase atau enam kali perjalanan pulang maupun pergi. Sementara animo masyarakat yang bepergian menggunakan Bus Trans Jatim di koridor 1 Malang Raya menunjukkan peningkatan.
”Dengan kondisi seperti itu, ada rencana penambahan ritase yang nantinya diterapkan pada enam bus atau tujuh bus,” ucapnya. Jika ritase ditambah, nanti akan berjalan dengan empat ritase atau delapan kali perjalanan pulang maupun pergi.
Kemudian, dishub juga sudah berkoordinasi dengan PT KAI agar Bus Trans Jatim bisa masuk ke Stasiun Malang. Sebab, sebelumnya masih berbayar. Karena itu, sebelumnya bus tidak bisa berhenti di Stasiun Malang pintu timur (Jalan Panglima Sudirman).
Namun, kemarin mulai dilakukan uji coba untuk berhenti di pintu tersebut itu. Manajer Humas KAI Daop 8 Surabaya Luqman Arif mengatakan, pihaknya menyambut positif layanan Bus Trans Jatim agar bisa masuk ke Stasiun Malang.
Baik dengan sistem pemberhentian di pintu timur maupun barat. Sebab, kehadiran bus di stasiun bisa memudahkan masyarakat yang ingin melanjutkan perjalanan ke lokasi-lokasi lain di Malang.
Terlebih, setiap hari jumlah masyarakat yang menggunakan kereta bisa mencapai tiga ribu orang. Hal tersebut tentu bisa mengerek jumlah penumpang bus. ”Untuk memastikan bus bisa masuk ke stasiun, dishub sudah menggelar pertemuan dengan PT KAI terkait pembebasan tarif masuk,” terangnya.
Royce Giovano Sutikno, salah satu warga Kota Malang yang beberapa waktu lalu mencoba Bus Trans Jatim dari Terminal Hamid Rusdi sampai Terminal Batu menyampaikan bahwa layanan yang ada sudah cukup nyaman. Hanya saja, dia menilai shelter dan rambu yang ada kurang teduh.
”Akan lebih baik jika setiap pemberhentian diberi teduhan, terutama yang berada di tengah kota. Lalu juga perlu tempat duduk dan wayfinding (petunjuk) untuk membantu masyarakat mengetahui rute,” kata mahasiswa yang kini berkuliah di Teknik Sipil ITS itu.
Royce berharap lokasi pemberhentian dibuat senyaman mungkin. Tujuannya agar terlindung dari hujan dan panas. Selain pembenahan lokasi pemberhentian, dia juga berharap ke depan ada penambahan armada. Misalnya saja Bus Trans Jatim model luxury hingga feeder untuk menarik penumpang dan membantu operasional di dalam kota.
Untuk feeder, Royce menilai perlu memprioritaskan kawasan kota dengan bangkitan tertinggi. Misalnya saja di perumahan, sekolah, kampus, dan tempat wisata. Dengan demikian, mobilitas masyarakat semakin lancar dan tidak semahal menggunakan kendaraan online.
Warga lain yang sempat menjajal Bus Trans Jatim adalah Wahyu Styo Pratama. Dia juga berharap agar lokasi pemberhentian dilengkapi dengan tempat duduk dan teduhan. Seperti yang ada di daerah lain. Contohnya di Surabaya dan Jakarta.
Wahyu memberi contoh di Jakarta ada beberapa lokasi pemberhentian dengan fasilitas yang mendukung. Salah satunya halte di Gelora Bung Karno 3. Di sana terdapat halte berukuran 12 meter persegi. ”Sepertinya cocok kalau dibangun di lokasi yang masih memiliki lahan seperti di Jalan Veteran dan Jalan Ijen,” terangnya.
Kemudian, Wahyu juga berharap agar ke depan terdapat feeder seperti Wirawiri Suroboyo atau mikrotrans Jakarta. Dengan demikian, masyarakat yang berada di jalur kecil bisa terangkut menuju jalur utama yang dilalui bus medium atau bus besar.
Selain itu, perlu ada pengembangan rute besar. Baik yang berada di dalam Kota Malang maupun yang menjangkau kawasan-kawasan di Kabupaten Malang. (mel/by)
Editor : A. Nugroho