Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 26 tentang Seorang Majusi yang Diampuni Allah karena Memberi Makan Keluarga Muslimah

A. Nugroho • Minggu, 15 Maret 2026 | 16:13 WIB
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 26 tentang Seorang Majusi yang Diampuni Allah karena Memberi Makan Keluarga Muslimah
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 26 tentang Seorang Majusi yang Diampuni Allah karena Memberi Makan Keluarga Muslimah

MALANG - Hadis ke-26 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat ‘Aisyah. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Orang dermawan adalah orang yang dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang pelit adalah orang yang jauh dari Allah, jauh dari makhluk, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah daripada orang alim yang pelit.”

Nabi juga bersabda: “Kedermawanan merupakan pohon di surga yang ranting-rantingnya menjulur ke dunia. Barang siapa mengambil satu ranting saja sebagai pegangan maka ranting tersebut akan menuntunnya ke surga.

(Sebaliknya) sifat pelit merupakan pohon di neraka yang ranting-rantingnya menjulur ke dunia. Barang siapa mengambil satu ranting saja sebagai pegangan maka ranting tersebut akan menuntunnya ke neraka.”

Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 25 dan Kisah tentang Penghuni Surga yang Selalu Muda dan Punya Kekuatan 100 Kali Lipat

Sesuai dengan hadis di atas, ada sebuah kisah tentang seseorang yang bernama Bahram yang menganut kepercayaan Majusi. 

Abdullah bin Mubarak bercerita: Setiap tahun, aku melaksanakanvibadah haji. Pada waktu itu, aku berada di Hijr Ismail. Kemudian aku tidur dan memimpikan Rasulullah SAW yang berkata kepadaku:

“Ketika kamu pulang ke Baghdad, pergilah ke suatu kampung. Carilah seseorang bernama Bahram al Majusi. Sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya kalau Allah meridhai apa yang telah ia lakukan.”

Kemudian aku terbangun dan membaca Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billaahi al-‘Aliyyi al- ‘Adhiim. Mimpi ini berasal dari setan. Kemudian aku berwudhu, salat, dan tawaf di Ka’bah sebisa mungkin. 

Di tengah-tengah aktivitas ibadahku, aku merasa mengantuk dan tidur. Di dalam tidurku, aku mendapat mimpi yang sama seperti sebelumnya sebanyak tiga kali. 

Setelah aku menyelesaikan ibadah hajiku, aku pun pulang ke Baghdad dan mencari kampung dan alamat yang disebutkan oleh Rasulullah dalam mimpiku. Kemudian aku mendapati seorang laki-laki tua. 

“Apakah Anda adalah Bahram al-Majusi?” tanyaku.

“Ya. Aku adalah Bahram al-Majusi,” jawabnya.

“Apakah kamu memiliki suatu amal baik di sisi Allah?” tanyaku.

“Ya. Aku memilikinya. Aku pernah mengutangi orang-orang 10 dirham dan menagihnya 11 dirham. Menurutku ini adalah perbuatan baik,” jawabnya.

“Itu merupakan perbuatan yang haram. Apakah ada perbuatan baik selain itu?”

“Ya. Ada. Aku memiliki 4 anak perempuan dan 4 anak laki-laki. Kemudian aku menikahkan masing-masing anak perempuanku dengan masing-masing anak laki-lakiku.”

“Itu juga merupakan perbuatan yang haram. Apakah ada perbuatan baik selain itu?”

Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 25 dan Kisah tentang Senyum Bidadari yang Membuat Jibril Langsung Bersujud 

“Ya. Ada. Aku mengadakan suatu acara walimah bagi orang-orang majusi ketika aku menikahkan anak-anak perempuanku itu.”

“Itu juga merupakan perbuatan yang haram. Apakah ada perbuatan baik selain itu?”

“Ya. Ada. Aku memiliki seorang anak perempuan sangat cantik. Kemudian aku tidak mendapati laki-laki yang sepadan dengannya. Akhirnya aku menikahinya sendiri dan mengadakan walimah pada malam hari itu, yaitu malam pertamaku dengannya. Orang- orang Majusi yang hadir pada malam itu lebih dari 1.000 orang.”

“Itu juga merupakan perbuatan yang haram. Apakah ada perbuatan baik selain itu?”

“Ya. Ada. Pada malam hari di mana aku menjimak (menyetubuhi) anak perempuanku itu, ada seorang wanita muslimah dari ahli penganut agamamu meminta api dari oborku untuk menyalakan obornya. Kemudian ia pulang dan memadamkan obornya.

Kemudian aku menjimak anak perempuanku untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba aku melihat wanita muslimah itu menyalakan obornya lagi melalui oborku. Kemudian ia pulang dan memadamkan obornya lagi. 

Kemudian aku menjimak anak perempuanku untuk yang ketiga kalinya. Kemudian wanita muslimah itu menyalakan obornya lagi melalui oborku. Kemudian ia pulang dan memadamkan obornya lagi.  

Lalu aku curiga barangkali wanita muslimah ini adalah mata-mata untuk mencuri. Aku pun membuntutinya dari belakang. Aku melihat ia masuk ke dalam rumahnya dan menemui anak-anak perempuannya.

“Ooh Ibu! Apakah ibu membawa sesuatu makanan? Kami sudah tidak kuat dan tidak tahan karena lapar,” ratap bocah-bocah itu. 

Wanita muslimah itu meneteskan air mata dan berkata, “Aku malu kepada Allah kalau aku meminta kepada selain-Nya, apalagi kepada musuh Allah, yaitu orang Majusi.”

Setelah mendengar itu, aku pun pulang ke rumah. Aku mengambil nampan dan mengisinya dengan banyak makanan. Lalu aku mengantarkannya sendiri ke wanita muslimah itu.”

Mendengar cerita Bahram tersebut, aku (Abdullah bin Mubarak) langsung menyambut antusias, “Inilah perbuatan baik itu. Ada kabar gembira untukmu.”

Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriah, Hadis 11 Kisah tentang Sekerat Lemak dan Secarik Kain yang Jadi Pelindung dari Api Neraka 

Kemudian aku menceritakan kepada Bahram tentang mimpiku bertemu Rasulullah dan pesan beliau untuknya. Mendengar ceritaku ini, Bahram langsung bersyahadat. “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.”

Setelah mengucapkan syahadat itu ia langsung jatuh tersungkur dan meninggal. Aku pun memandikan, mengafani, menyalati, dan mengubur jenazahnya.

Abdullah bin Mubarak lalu memberi wejangan, “Wahai para hamba Allah! Bersikap dermawanlah kepada sesama makhluk Allah karena sikap dermawan dapat mengubah para musuh menjadi para kekasih.” 

Hadis dan kisah ini mengajarkan kepada kita tentang keutamaan sikap dermawan. Bukan hanya akan mendekatkan pelakunya kepada sesama makhluk, tapi sikap ini juga membawanya kepada surga dan ampunan Allah. Seorang Majusi yang banyak melakukan dosa bahkan bisa diampuni Allah karena sikap ini. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

Editor : A. Nugroho
#ushfuriyah #Ngaji #hadis #rasulullah #makan #muslimah #kitab