PATI, RADAR MALANG – Ribuan nelayan di wilayah Juana, Pati, Jawa Tengah, memutuskan untuk berhenti melaut akibat lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi per 4 Mei 2026.
Kebijakan penyesuaian harga ini memicu aksi demonstrasi besar-besaran di Alun-alun Pati karena dinilai mematikan ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung sepenuhnya pada bahan bakar solar.
Baca Juga: Semakin Erat! Dubes Rusia Sergey Tolchenov Tegaskan Dukungan Energi dan Antariksa untuk Indonesia
"Kenaikan harga solar dari Rp17.000 menjadi Rp30.000 per liter di lapangan membuat kami tidak sanggup lagi membiayai operasional kapal," ujar salah satu perwakilan nelayan dalam aksinya pada Senin siang (4/5).
Dampak kenaikan ini sangat signifikan karena lebih dari 1.000 kapal nelayan kini hanya teronggok di dermaga tanpa aktivitas.
Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik Lagi, Pertamina Dex Tembus Rp27.900
Secara nasional, PT Pertamina (Persero) menetapkan kenaikan harga Pertamina DEX sebesar Rp4.000 menjadi Rp27.900 per liter.
Selain itu, harga Dexlight juga meroket ke angka Rp26.000 dari harga sebelumnya yakni Rp23.600 per liter.
Lonjakan ini mengakibatkan rantai pasokan ikan terganggu hingga menyebabkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) setempat terpaksa berhenti beroperasi.
Baca Juga: Viral! BBM Non-Subsidi Meroket, Mobil Listrik Kini Menjadi Incaran Utama Kalangan Kelas Menengah
Kondisi tersebut membuat ribuan nelayan terpaksa menganggur karena 70% biaya operasional mereka tersedot untuk pembelian BBM.
Mereka menuntut pemerintah segera menetapkan harga solar khusus bagi kapal nelayan di atas 30 GT guna menyelamatkan sektor perikanan dari kebangkrutan total.
Baca Juga: Bikin Lega, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Jamin Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir Tahun 2026
Jika tuntutan ini tidak segera dipenuhi, pasokan ikan di pasar diperkirakan akan menurun drastis dan memicu inflasi harga pangan.
Editor : Aditya Novrian