JAKARTA, RADAR MALANG - Eskalasi pelemahan pasar keuangan domestik memicu respons darurat dari pucuk pimpinan negara setelah nilai tukar rupiah ambles memecahkan rekor terendah baru di level Rp17.656 hingga Rp17.675 per dolar Amerika Serikat.
Menanggapi situasi kritis tersebut, Presiden Prabowo Subianto langsung memanggil jajaran menteri ekonomi, termasuk Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa, dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo ke Istana Negara.
Langkah pemanggilan darurat ini bertepatan dengan tensi tinggi di parlemen, di mana Komisi XI DPR RI mencecar habis-habisan performa bank sentral dan mempertanyakan kredibilitas klaim "stabilitas moneter" yang selama ini didengungkan ke publik.
Tanggapan Menkeu Purbaya Usai Prabowo Sebut Orang Desa Tidak Pakai Dolar
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa pasang badan meredam kepanikan pasar finansial.
Menkeu menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional saat ini sangat jauh berbeda dengan krisis moneter tahun 1998 yang kala itu dipicu kesalahan regulasi akut serta guncangan sosial-politik pasca resesi panjang.
Guna menghentikan aliran modal keluar (capital outflow) dari investor asing yang mengkhawatirkan capital loss, Kemenkeu memastikan pemerintah mulai masuk melakukan intervensi masif ke pasar obligasi (bonds) per hari ini.
Baca Juga: Prabowo Saat Rupiah Loyo: Rakyat Desa Enggak Pakai Dolar, tapi Begini Kenyataannya
Purbaya juga mengklarifikasi pidato Presiden Prabowo di Nganjuk yang menyebut "warga desa tidak pakai dolar" sebagai bentuk komunikasi psikologis taktis agar tidak terjadi kepanikan massal di masyarakat bawah.
Dampak Rupiah Melemah Terhadap Warga
Kendati otoritas fiskal mengklaim gejolak finansial global jarang bersentuhan langsung dengan denyut nadi pedesaan, realitanya di lapangan justru mulai menunjukkan dampak berantai yang mengkhawatirkan.
Baca Juga: Kompak Tolak Rematch Final LCC 4 Pilar, Badan Sosialisasi MPR Abraham Lianto Berikan Respon Positif
Gejala imported inflation (inflasi barang impor) nyata dirasakan oleh pelaku usaha kecil di daerah, salah satunya para perajin tahu di Desa Paledah, Pangandaran, Jawa Barat.
Akibat ketergantungan pasokan bahan baku luar negeri, merosotnya nilai tukar rupiah langsung mengerek harga kedelai impor dari Rp9.600 menjadi Rp10.800 per kilogram.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.672 per Dolar AS, Ini Daftar Barang yang Terancam Naik Harganya
Kenaikan biaya produksi mingguan yang membubung tinggi ini memaksa pelaku usaha lokal memutar otak lebih keras demi menjaga kelangsungan hidup rantai distribusi pedagang keliling di tingkat akar rumput.
Editor : Aditya Novrian