JAKARTA, RADAR MALANG - Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) korban tawanan tentara Israel akhirnya berhasil dipulangkan dengan selamat ke Tanah Air.
Namun, kepulangan para relawan kemanusiaan tersebut membawa kisah pilu mengenai kekejaman luar biasa yang mereka alami di tahanan.
Baca Juga: Update! 9 WNI Anggota Global Sumud Flotilla 2.0 Telah Tiba di Indonesia
Para korban menceritakan secara detail bahwa mereka mendapatkan siksaan fisik dan mental yang sangat keji.
Momen kepulangan serta penyambutan resmi para korban berlangsung haru di Bandara Soekarno Hatta pada Minggu (24/5/2026).
Baca Juga: Keluar Hotel Tanpa Bawa Identitas, Jemaah Haji Asal Indonesia Dikabarkan Hilang
Detail Penyiksaan Fisik Hingga Kondisi Tidak Manusiawi Selama Penahanan
Militer Israel atau IDF (Israel Defend Force) dilaporkan melakukan tindakan kekerasan secara membabi buta selama proses interogasi dan penahanan berlangsung.
Siksaan berat selama empat hari berturut-turut tersebut mengakibatkan banyak tawanan mengalami cedera fisik yang sangat parah.
"Penyiksaan oleh IDF nyata, keji, dan brutal. Mulai dari patah rusuk, tangan, kaki, hingga pelecehan seksual," ungkap Herman Budianto.
Perwakilan korban tersebut membeberkan bahwa sekitar 40 orang tawanan mengalami patah tulang yang cukup serius.
Kekejaman tidak berhenti di situ karena para tawanan juga dipaksa hidup dalam kondisi yang sangat buruk.
Mereka harus berjalan merangkak menggunakan lutut dengan posisi kepala menunduk dan dilarang keras menatap sipir.
Para relawan antarnegara didekam di dalam sel tanpa diberi selimut dengan kondisi pakaian yang basah kuyup.
"Kondisi kami ketika ada di penjara diperlakukan seperti hewan, tidur di lantai dingin," pungkas Herman.
Editor : Aditya Novrian