RADAR MALANG - Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dilaporkan mulai hilang dan tidak lagi dijual di sejumlah wilayah Indonesia.
Fenomena kelangkaan ini memicu kekhawatiran masyarakat mengenai rencana penghapusan total produk bahan bakar penugasan tersebut.
Baca Juga: Mulai Rp11,2 Juta per Semester, Cek Daftar Biaya Studi Semester (BSS) Program Doktor S3 UMM 2026
Langkah pengurangan pasokan di lapangan ini dinilai sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional jangka panjang.
Berdasarkan pantauan data rilis pada Kamis (7/5), pola pembatasan ini mulai bergerak secara masif.
Pengamat kebijakan publik menilai beban subsidi energi yang membengkak menjadi salah satu faktor utama pembatasan pasokan. Selain masalah keuangan negara, pemerintah juga berkomitmen mengejar target penerapan standar emisi gas buang Euro 4.
Baca Juga: 400 Kader Dikumpulkan di Hambalang, Presiden Prabowo Bentuk Karakter Tangguh Calon Pemimpin BUMN
"Pertalite dinilai masih setara Euro 2 sehingga kurang mendukung target pengurangan emisi nasional," ungkap Agus Pambagio. Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia tersebut menambahkan masyarakat kini perlahan diarahkan ke Pertamax.
Faktor keterlambatan pembayaran dana kompensasi subsidi dari pemerintah kepada Pertamina juga turut mengganggu kelancaran distribusi.
Baca Juga: Bantah Isu Kepentingan Politik, Ini Alasan Kuat Presiden Prabowo Dorong Reformasi UU Polri
Akibatnya, korporasi kini memperbanyak jaringan SPBU komersial atau tipe signature yang hanya menyediakan BBM nonsubsidi. Meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai penghapusan total, pengetatan kuota di daerah dinilai sangat nyata.
Editor : Aditya Novrian