RADAR MALANG - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, secara blak-blakan menyebut Indonesia tidak siap menghadapi perang.
Pengakuan mengejutkan tersebut didasari oleh perhitungan riil mengenai keterbatasan jumlah amunisi dan kekuatan armada tempur nasional saat ini.
Baca Juga: Pertalite Dihapus? Beberapa BBM Jenis Pertalite Dikabarkan Hilang di Sejumlah Wilayah Indonesia
Pernyataan terbuka mengenai kondisi pertahanan negara tersebut disampaikan beliau dalam acara seminar nasional pada hari Selasa, (19/05).
Keterbatasan logistik tempur ini dinilai membuat posisi kedaulatan Indonesia cukup rentan di tengah eskalasi konflik global.
Baca Juga: 400 Kader Dikumpulkan di Hambalang, Presiden Prabowo Bentuk Karakter Tangguh Calon Pemimpin BUMN
Fakta Keterbatasan Logistik Tempur TNI
Pemerintah membeberkan perhitungan matang mengenai daya tahan angkatan darat, angkatan laut, serta angkatan udara jika terlibat konflik bersenjata.
Berdasarkan kalkulasi teknis militer, stok persenjataan nasional dilaporkan akan habis dalam hitungan yang sangat singkat.
"Laut kita dalam kondisi terus terang tidak siap perang, kita paling mampu perang empat hari," ucap Menko Yusril Ihza Mahendra.
Baca Juga: BKHM Kemendikdasmen Gelar Forum Komunikasi Publik di Makassar, Bahas Kolaborasi dan Mutu Pendidikan
Beliau menegaskan setelah melewati masa empat hari tersebut pasukan Indonesia dipastikan kehabisan amunisi pertahanan.
Menko Yusril menjelaskan bahwa keterbatasan militer inilah yang mendasari Indonesia wajib menjalankan politik luar negeri bebas aktif secara konsisten.
Baca Juga: Bantah Isu Kepentingan Politik, Ini Alasan Kuat Presiden Prabowo Dorong Reformasi UU Polri
Langkah netralitas diambil demi melindungi kepentingan domestik dari incaran negara adidaya yang memburu sumber mineral baru.
Kedekatan geografis pangkalan militer Amerika Serikat di Guam dengan wilayah Papua juga menjadi alarm kewaspadaan tersendiri bagi pemerintah.
Baca Juga: Update Kasus Ijazah Jokowi: Polda Metro Jaya Limpahkan Berkas Ke Kejaksaan dan Siapkan Kejutan
Oleh sebab itu, diplomasi pragmatis yang mengedepankan keselamatan nasional dipandang jauh lebih bijaksana daripada ikut mengecam konflik.
Editor : Aditya Novrian