Prabowo Hentikan Penjelasan Peneliti BRIN soal Uranium, Momen di Istana Jadi Sorotan

Hanif Pratama • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:08 WIB
Presiden Prabowo Subianto mengunjungi stan riset BRIN saat pameran inovasi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). (Foto: BPMI Setpres)
Presiden Prabowo Subianto mengunjungi stan riset BRIN saat pameran inovasi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). (Foto: BPMI Setpres)

JAKARTA, RADAR MALANG – Momen Presiden Prabowo Subianto meminta mikrofon dimatikan saat peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan kemampuan Indonesia mengolah uranium menjadi perhatian publik. Peristiwa tersebut terjadi dalam pameran hasil riset BRIN di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Acara tersebut dihadiri sekitar 150 peneliti BRIN yang memamerkan berbagai hasil inovasi kepada Presiden. Turut mendampingi Prabowo, antara lain Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Kepala BRIN Arif Satria.

Saat mengunjungi stan Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Presiden mendengarkan paparan Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri. Dalam penjelasannya, Syaiful menyebut pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia dibagi menjadi dua sektor, yakni energi dan nonenergi.

Untuk sektor energi, BRIN tengah menyiapkan berbagai aspek pendukung pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Sementara pada sektor nonenergi, teknologi nuklir dimanfaatkan untuk bidang kesehatan, pangan, dan berbagai kebutuhan riset lainnya.

Baca Juga: Wartawan Se-Malang Raya Gelar Aksi Damai Minta Presiden Prabowo Subianto Tarik Ucapan soal "Londo Ireng"

Syaiful juga menjelaskan Indonesia memiliki potensi sumber daya yang cukup besar, yakni sekitar 89 ribu ton uranium dan 143 ribu ton thorium. Menurutnya, sumber daya tersebut menjadi modal penting apabila Indonesia mengembangkan energi nuklir pada masa mendatang.

Namun suasana berubah ketika Syaiful mulai menjelaskan kemampuan BRIN dalam memurnikan uranium. Sebelum penjelasan itu berlanjut, Presiden Prabowo mengangkat tangan ke arah mikrofon sambil meminta agar perangkat tersebut dimatikan.

Momen tersebut sempat terekam dalam siaran resmi Sekretariat Presiden dan kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak Istana mengenai alasan permintaan penghentian mikrofon tersebut.

Meski demikian, kunjungan Presiden ke stan BRIN tetap berlanjut. Kepala BRIN Arif Satria memaparkan sejumlah pengembangan fasilitas riset strategis yang tengah dibangun, mulai dari reaktor nuklir, laboratorium genomik, observatorium, hingga pusat komputasi berkinerja tinggi. Menurutnya, berbagai fasilitas tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi, kesehatan, pangan, dan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Baca Juga: Pimpin Akad Massal 62 Ribu Debitur KPR FLPP, Presiden Prabowo Tegaskan Sinergi Pemerintah hingga Perbankan, BRI Perkuat Peran sebagai Penggerak Ekonomi Kerakyatan

Sorotan terhadap momen di Istana ini muncul hanya beberapa hari setelah pernyataan Presiden Prabowo mengenai isu senjata nuklir Iran menjadi perbincangan publik. Saat itu, bagian pidato yang menyinggung kepemilikan senjata nuklir Iran tidak lagi muncul dalam rekaman resmi yang diunggah kembali oleh Sekretariat Presiden.

Kontroversi tersebut bahkan berlanjut ke ranah hukum setelah dua orang ditetapkan sebagai tersangka terkait unggahan di media sosial yang membahas potongan pidato tersebut. Menanggapi hal itu, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengingatkan bahwa kegaduhan di ruang digital tidak serta-merta memenuhi unsur tindak pidana sebagaimana putusan Mahkamah Konstitusi. Sementara pihak Istana menyatakan proses hukum tersebut merupakan kewenangan aparat kepolisian

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
nuklir BRIN Prabowo Subianto