El Niño Sangat Kuat Picu Kekeringan Ekstrem dan Ancaman Karhutla di Indonesia

Difa Aurelia Rahmayanti • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 15:30 WIB
Ilustrasi musim kemarau panjang di Malang Raya.
Ilustrasi musim kemarau panjang di Malang Raya.

MALANG, RADAR MALANG - Fenomena El Niño berkategori "Sangat Kuat" yang melanda Indonesia sepanjang paruh kedua tahun 2026 ini membawa rentetan dampak serius di berbagai sektor kehidupan. Berdasarkan data terbaru dari BMKG dan BNPB anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik mencapai angka ekstrem +2,63, membuat musim kemarau berlangsung jauh lebih kering, ekstrem, dan memicu kemunduran awal musim hujan hingga November–Desember 2026.

Kabupaten Bantul, DIY secara resmi memecahkan rekor periode Hari Tanpa Hujan terlama di Indonesia yang mencapai 131 hari berturut-turut.

BMKG merilis status waspada dan awas kekeringan di sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, hingga Sumatra bagian selatan. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), daerah seperti Bima, Sumbawa, dan Lombok Timur bahkan sudah menetapkan Status Tanggap Darurat Kekeringan karena ratusan ribu jiwa mulai kesulitan mendapatkan air bersih.

Baca Juga: Sungai Barito Surut Disebabkan Oleh Kemarau Ekstrem, Hamparan Pasir Bermunculan

Tekanan El Niño yang masif menyebabkan 98 Zona Musim (ZOM) yang biasanya basah (memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun) kini berbalik mengalami kekeringan. Penyusutan embung dan kolam penampungan air bahkan mulai berdampak pada pasokan air harian masyarakat dan pekerja di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kementerian Pertanian memperkirakan sekitar 50.000 hektare lahan pertanian di seluruh Indonesia terdampak kekeringan hebat. Gagal panen sentra padi, di Jawa Timur saja, ribuan hektare lahan pertanian terdampak langsung, di mana ratusan hektare di antaranya sudah dinyatakan puso atau gagal panen total.

Sebagai respons, pemerintah menggenjot program pompa air, pemanfaatan sumur bor, hingga penyesuaian jadwal tanam dengan varietas yang berumur lebih pendek.

Atmosfer yang sangat kering memicu lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan. Wilayah rawan seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, dan Riau mencatatkan ribuan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Selain merusak vegetasi, kondisi ini sempat menimbulkan kabut asap pekat yang mengganggu kesehatan pernapasan warga sekitar.

BMKG memperingatkan bahwa akhir dari kemarau panjang ini justru menyimpan risiko baru. Ketika musim hujan yang mundur ini akhirnya tiba secara bertahap pada akhir tahun, curah hujan diprediksi akan turun dengan intensitas sangat tinggi dalam durasi singkat.

Tanah yang kering, retak, dan mengeras akibat kemarau panjang tidak akan mampu menyerap debit air dalam jumlah besar secara mendadak, sehingga memicu risiko tinggi terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di berbagai daerah.

Baca Juga: Imbas Kemarau Panjang di Malang, Produksi Padi Menurun hingga Musim Tanam Mundur

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dari berbagai sumber
karhutla Pertanian Kemarau el nino