RADAR MALANG - Selain keindahan alam dan suasananya, Kota Malang juga dikenal dengan tradisi dan seni yang masih hidup hingga saat ini. Mulai dari tari, kesenian rakyat, hingga kerajinan topeng. Semua ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Kota Malang.
Salah satu yang menarik perhatian adalah Topeng Malangan. Topeng ini merupakan salah satu kerajinan seni sebagai media ekspresi visual dan naratif khas kota ini.
Topeng Malangan juga mengandung karakter, cerita, hingga nilai sejarah di dalamnya. Setiap topeng mewakili tokoh tertentu dengan warna dan bentuknya yang khas. Yuk kita bedah bersama-sama!
Sejarah Topeng Malangan
Topeng Malangan sendiri sudah ada sejak masa Kerajaan Kanjuruhan tepatnya pada abad ke-8 Masehi saat pemerintahan Raja Gajayana.
Pada waktu itu, topeng digunakan untuk ritual keagamaan dan upacara tradisi. Seiring waktu, seni topeng Malang kemudian berkembang tak hanya sebagai ritual melainkan menjadi bagian dari pertunjukan budaya.
Salah satu tokoh penting yang melestarikan Topeng Malangan adalah sang maestro dari Sanggar Asmorobangun, yakni Mbah Mun. Ia berjasa dalam meneruskan tradisi ini dan melatih generasi selanjutnya dalam pembuatan, penggunaan, hingga pertunjukan tari topeng.
Sanggar ini juga sampai saat ini masih aktif melahirkan talenta muda yang diharapkan mampu menjaga dan mewariskan budaya dan tradisi khas Kota Malang.
Jenis Topeng Malangan sebenarnya sangat banyak, namun terdapat beberapa karakter yang paling sering muncul. Berikut adalah 6 karakter dari Topeng Malangan yang perlu kamu kenal!
1. Panji Asmoro Bangun
Topeng yang satu ini menggambarkan tokoh protagonis yang gagah berani, gesit, dan penuh kebajikan. Topengnya berwarna hijau dengan mata seperti bulir padi. Hal ini menunjukkan sifatnya yang jujur dan sabar.
Bibirnya dibentuk yang sedikit terbuka juga melambangkan sifat yang berbudi luhur. Sementara titik emas di antara alisnya melambangkan bahwa ia adalah keturunan dewa.
Topeng ini sendiri digunakan dalam lakon Panji sebagai tokoh utama. Biasanya juga digambarkan sebagai pencari cinta sejati seperti kisahnya dengan Dewi Sekartaji.
2. Dewi Sekartaji
Topeng Dewi Sekartaji digambarkan sebagai sosok putri yang lemah lembut dan penuh dengan cahaya. Tokoh ini merupakan simbol dari kemurnian, kesucian, serta cinta kasih digambarkan dalam topengnya yang berwarna putih.
Semua detail dari wajahnya menggambarkan keindahan dan kelembutan. Mulai dari bentuk mata, alis, hingga hidungnya.
Ia merupakan tokoh yang sangat penting dalam cerita Panji, yakni sebagai pasangan dari Panji Asmoro Bangun.
3. Gunung Sari
Gunung Sari merupakan karakter wanita bangsawan yang menjadi sahabat dari Panji. Wajah topeng ini juga digambarkan dalam warna putih dengan ekspresi lembut dan bentuk mata yang agak sipit.
Gerak tari yang dibawakan oleh topeng ini juga umumnya anggun dan menggambarkan sifat feminin serta kesopanan.
4. Dewi Ragil Kuning
Dewi Ragil Kuning merupakan adik dari Dewi Sekartaji. Dewi ini digambarkan memiliki sifat kombinasi antara lembut, namun juga tegas dan pemberani dalam konteks tertentu. Hal ini juga tergambarkan dalam bentuk mata, bibir, serta alisnya.
Dominasi warna kuning dalam topeng ini juga menggambarkan keceriaan, kehangatan, serta kecerdasan. Wajah serta ornamen mahkotanya juga dihias dengan hiasan yang menonjol. Hal ini menggambarkan bahwa dirinya memiliki status bangsawan dalam cerita.
5. Klana Sewandana
Topeng yang ini merupakan tokoh antagonis dalam cerita. Ia digambarkan sebagai raja atau pemimpin yang kuat dan pemberani namun juga keras dan pemarah.
Topengnya berwarna merah dengan mata yang besar, hidung besar nan panjang, mulut, serta brewok yang membuat karakternya semakin kuat.
Ia merupakan tokoh yang menjadi lawan dari Panji dan membawa konflik. Namun, di beberapa versi cerita lain, ia justru digambarkan sebagai tokoh raja yang bijaksana.
6. Bapang
Terakhir adalah bapang. Topeng ini merupakan tokoh pembantu dari Klana Sewandana. Ia juga memiliki warna merah dengan karakter yang sombong dan licik.
Topeng ini juga memiliki mata yang besar, hidung panjang, dengan gigi atasnya yang nampak memberikan bentuk yang ekspresif. Ia seringkali digunakan sebagai karakter dramatis pendukung.
Dengan memahami setiap karakter dari Topeng Malangan ini, kita juga turut mewariskan nilai-nilai budaya yang berkembang di Kota Malang. Semoga semakin banyak orang yang mengenal dan melestarikan Topeng Malangan ini ya! (kdk)