Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

95 Cabor Malang Minim Fasilitas, Tempat Latihan Nomaden

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Jumat, 17 Februari 2023 | 19:00 WIB
TERBIASA NOMADEN: Dua atlet anggar Kabupaten Malang berlatih di halaman salah satu kelas di SMP Negeri 2 Jabung, kemarin sore (16/2). (Darmono / Radar Malang)
TERBIASA NOMADEN: Dua atlet anggar Kabupaten Malang berlatih di halaman salah satu kelas di SMP Negeri 2 Jabung, kemarin sore (16/2). (Darmono / Radar Malang)
 

MALANG RAYA - Beberapa menit sebelum memulai latihan kemarin (16/2) pukul 15.00, lima atlet anggar Kabupaten Malang sudah tiba di SMPN 2 Jabung.

Di sana lah mereka biasa berlatih. Meski seadanya, mereka tetap bersemangat untuk menempa diri.

Alhamdulillah tidak hujan, kemarin (Selasa lalu) sempat hujan soalnya. Akhirnya latihan terpaksa dibatalkan,” kata Pelatih Anggar Kabupaten Malang Imam Hasan.

Selain tempat latihan yang terbatas, peralatan untuk atlet-atlet anggar Kabupaten Malang juga belum lengkap. Hanya ada dua pakaian anggar dan dua pedang untuk lima atlet.

Alhasil, mereka harus bergantian untuk menggunakan. ”Ya karena alatnya memang tidak mencukupi,” tambah pria yang menjabat sebagai Ketua Harian Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) Kabupaten Malang itu.

Hasan mengakui bila latihan atlet-atletnya masih jauh dari standar. Seharusnya, ada landasan khusus yang dipakai atlet. Panjangnya 14 meter, lebarnya 1,5 meter.
Baca Juga : Dilantik, Pengurus KONI Tak Pasang Target Muluk.

Seharusnya juga ada alat recording yang menempel di baju atlet. Alat itu berguna untuk mencatat jumlah tusukan yang masuk.

Pria yang menjadi guru olahraga di SMP Negeri 2 Jabung itu menyebut bila atlet-atletnya sudah terbiasa berpindah-pindah tempat latihan. Rutinitas itu sudah dijalani sejak 2015.

”Pernah di Pakis, Tumpang, sampai terakhir Jabung ini,” imbuhnya. Meski serba terbatas, Hasan memastikan bila atlet-atletnya tetap bersemangat melakoni latihan.

Selain anggar, cabang olahraga (cabor) selam atau finswimming juga menghadapi tantangan berupa minimnya fasilitas latihan.

Mereka harus rela berbagi tempat karena terbiasa latihan di tempat umum. Akibatnya,

Pelatih Persatuan Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Kabupaten Malang Sodiq menyebut bila program latihan harus disesuaikan lagi. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



”Salah satu bentuk penyesuaiannya seperti mengurangi jumlah lintasan renang, dari enam menjadi tiga,” kata dia.

Dari keterangan yang digali Jawa Pos Radar Malang, problem minimnya fasilitas latihan itu terjadi merata di Malang raya. Total ada 95 cabor yang memiliki keterbatasan itu.

Harus nomaden atau berpindah-pindah latihan, menjadi rutinitas pasti para atlet. Belum lagi pengurus cabor yang harus menyewa tempat khusus untuk latihan.

Di Kota Malang, salah satu cabor yang minim tempat latihan adalah sepatu roda. Terkadang, atlet-atletnya terpaksa berlatih di jalanan.

”Iya, satu tempat latihan kami ada di jalanan menuju Bandara Abdulrachman Saleh,” kata Pelatih persatuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) Kota Malang Eko Dewa Sukayanto.

Kondisi itu tentu kurang ideal. Sebab ada potensi gangguan eksternal.
Baca Juga : Eks Sekda Pimpin KONI Kota Malang.

Kabar baiknya, Pemkot Malang sudah menuntaskan pembangunan lintasan sepatu roda di area GOR Ken Arok, akhir 2022 lalu.

Sayangnya, spesifikasi lintasan sepatu roda di sana masih dikeluhkan beberapa pihak. Ada yang menyebut bila ukurannya tidak sesuai standar.

Di tempat lain, Kabid Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI Kota Malang Danny Agung Prasetyo mengakui beratnya upaya pemenuhan fasilitas ini.

Sarana untuk cabor-cabor masih di-support Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang.

”Fasilitas latihan masih di bawah naungan mereka,” kata dia. Contohnya fasilitas latihan renang, sepak bola, dan balap sepeda.

Bila ada pengurus cabor yang harus menyewa tempat latihan, dia menyebut bila biayanya masuk dalam uang pembinaan.

”Pengajuan penambahan alat latihan juga bisa dilakukan ke KONI,” imbuh Danny. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Sementara itu, Ketua KONI Kabupaten Malang Rosyidin tidak menampik minimnya fasilitas latihan masih menjadi problem klasik.

Dia lantas menyebut bila tempat latihan dan prestasi adalah hal yang saling berhubungan. ”Fondasinya ada di sana (tempat latihan, red),” tuturnya.

Dia yang melatih atlet senam Kabupaten Malang juga harus merogoh kocek pribadi untuk memenuhi sejumlah fasilitas.

Rosyidin mengestimasi, diperlukan biaya sekitar Rp 800 juta untuk membuat tempat latihan senam lantai.

Ke depan, warga Kecamatan Turen itu mengaku masih berusaha untuk menambah fasilitas dan alat latihan.

”Ke depan saya juga mencoba mencari CSR (corporate social responsibility) untuk menunjang itu,” kata dia.
Di Kota Batu, Latihan 7 Cabor Masih Berpindah-pindah

Dari 34 cabor yang berada di bawah naungan KONI Kota Batu, baru ada 12 cabor yang telah memiliki tempat latihan representatif.

Sedangkan, sebanyak 15 cabor lainnya masih belum memiliki tempat latihan yang memadai. Beberapa di antara mereka juga masih harus menyewa.

Selain itu, tujuh cabor di Kota Batu juga belum mempunyai tempat latihan sendiri. Ketua KONI Kota Batu Sentot Ary Wahyudi membenarkan.

Ketujuh cabor itu di antaranya yakni renang plus selam, berkuda, menembak, panahan, sepeda BMX, atletik, dan tenis lapangan.

”Kami perlu kolam renang untuk pembibitan altet renang dan selam. Sebab atlet selam telah menunjukkan prestasi luar biasa hingga tingkat PON,” jelas dia.

Menurutnya, antusias olahraga renang dan selam di Kota Batu juga cukup tinggi. Sayangnya, Kota Batu masih belum memiliki kolam renang yang sesuai standar. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



”Selama ini atlet renang dan selam latihannya di kolam renang Arhanud, Gajayana Malang, dan sebagainya. Sedangkan, khusus atlet selam laut latihannya justru di Pasir Putih, Situbondo,” papar Sentot.

Selain itu, dia juga menyebut bila olahraga berkuda juga memerlukan lapangan yang sesuai standar.

Kemudian, olahraga menembak juga memerlukan fasilitas yang memadai. Pasalnya, Kota Batu masih belum punya lapangan tembak yang indoor.

Untuk latihan, atlet-atletnya masih menumpang di Lapangan Menembak Divif II Kostrad di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Selain itu, fasilitas track sepeda BMX juga masih belum layak.

”Kalau Kota Batu punya sirkuit sendiri justru bagus. Jadi, bukan hanya atlet dari Kota Batu saja yang merasakan manfaatnya. Tapi, atlet dari luar daerah juga dapat terfasilitasi,” imbuh Sentot.
Baca Juga : Pelatih dan Pengurus Cabor masih Tunggu Bonus Porprov Cair.

Selain itu, pihaknya juga masih belum bisa berbuat banyak untuk mendukung atlet-atlet atletik. Sebab latihan mereka masih berpindah-pindah.

Kadang di Stadion Gajayana, Kota Malang, kadang di lapangan Universitas Negeri Malang (UM).

”Saya berharap ke depan jangan hanya pariwisata saja yang ditata. Olahraga juga harus diprioritaskan. Karena, jika fasilitas olahraga di Kota Batu memadai, otomatis juga bisa mendatangkan wisatawan,” bebernya.

Di tempat lain, Ketua Klub Panahan Seneng Manah Kota Batu Arif Fatchur Iscahyana membenarkan bila fasilitas selama ini kurang memadai. Khususnya untuk atlet panahan berkuda.

”Kami berharap ada pembangunan fasilitas panahan dan berkuda di Kota Batu. Sehingga, atlet muda yang berpotensi dapat terwadahi dan latihannya lebih optimal,” kata dia. (gp/ifa/by)
Fasilitas Atlet di Malang Raya

Kabupaten Malang

Kota Malang

Kota Batu

Sumber: Pengurus Cabor dan KONI di Malang raya. Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#cabor #KONI ##beritamalang #radarmalang #Olahraga ##jawaposradarmalang #prestasi ##mediaonlinemalang ##beritamalanghariini