Itu dilakukan supaya Jhon Alfarizi dkk lebih bagus lagi performanya. Sebab Maung Bandung, julukan Persib, merupakan kesebelasan yang cukup tangguh.
Mereka menjelma sebagai salah satu tim dengan rasio kemenangan tinggi.
Dari 24 laga yang telah dilakoni, Persib mencatatkan 15 kemenangan, dan lima kekalahan.
Selama kurun waktu itu, mereka telah membuat 42 gol. Jumlah itu menjadi yang tertinggi keempat di antara kontestan Liga 1 lainnya.
|Baca Juga :
Penggawa Arema FC Mulai Tune-In dengan Skema Putu Gede
Pelatih Caretaker Arema FC I Putu Gede mengungkapkan, salah satu aspek yang perlu ditingkatkan untuk melawan Persih adalah finishing touch.
Dia ingin lini depan lebih tajam lagi. Sebab, dalam tiga laga terakhir, produktivitas lini serang Singo Edan belum konsisten. (Bersambung di halaman selanjutnya)
Berdasar catatan koran ini, usai laga melawan Rans Nusantara, 8 Februari lalu, belum ada lagi striker yang membuat gol.
Kemenangan terakhir melawan Barito utara di Stadion Candrabhaga, Bekasi dibuat pemain sayap Ilham Udin Armaiyn.
”Pada laga sebelumnya kami mempunyai banyak peluang. Tapi hanya satu yang berbuah gol,” kata Putu.
Menurutnya, hal tersebut tidak bisa terulang lagi di pertandingan besok. Dalam upaya membenahi lini serang, ada dua cara yang dilakukan Putu.
|Baca Juga :
Ekspektasi Manajemen Arema FC untuk Ketum PSSI yang Baru
Pertama, meningkatkan kepercayaan diri pemain. Kedua, memberikan latihan tambahan untuk para penyerang.
Untuk latihan tambahan, Putu meminta bantuan Singgih Pitono.
”Coach Singgih top skor Arema dua kali. Kami pikir dia bisa membantu memperbaiki kekurangan di sana,” tambahnya.(Bersambung di halaman selanjutnya)
Pada latihan kemarin, Putu menyebut kalau barisan penyerang di drill untuk memanfaatkan peluang di depan gawang.
Beranjak dari upaya tersebut, mantan pemain Persija Jakarta itu optimistis kalau performa para penyerang bisa lebih baik lagi.
|Baca Juga :
Lawan Barito Putera, Arema FC Kehilangan Bagas Adi Nugroho
”Saya percaya kalau mereka (para penyerang) pasti bisa lebih tajam,” tuturnya.
Sementara itu, Singgih Pitono mengaku kalau upaya mengembalikan ketajaman para penyerang dilakukan dengan menanamkan kepercayaan diri.
”Karena striker tidak boleh ragu-ragu atau pesimistis,” ucapnya. Saat modal kepercayaan diri dimiliki, keputusan yang cepat dan tepat bisa diambil seorang penyerang. (gp/by)
Editor : Bayu Mulya Putra