Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sering Mendominasi Turnamen Cabor Wushu di Nomor Berpasangan: Empat Kakak Beradik dari Blimbing Kota Malang

Bayu Mulya Putra • Jumat, 2 Agustus 2024 | 20:18 WIB
PANEN PRESTASI: Dari kiri, Ahmad Ghozali, Asma Ghaitsani, Ahmad Ghifari, dan Aqila Ghaidah Fauziah setelah berlaga di ajang Indonesia Martial Art Games 2023 di GOR Padjajaran Kota Bogor, Oktober 2023.
PANEN PRESTASI: Dari kiri, Ahmad Ghozali, Asma Ghaitsani, Ahmad Ghifari, dan Aqila Ghaidah Fauziah setelah berlaga di ajang Indonesia Martial Art Games 2023 di GOR Padjajaran Kota Bogor, Oktober 2023.

Rumah pasangan Ahmad Faizin dan Ersty Istyawati di Plaosan Permai, Pandanwangi, Kecamatan Blimbing tampak sepi.

Saat Jawa Pos Radar Malang bertamu ke sana Rabu lalu (31/7), hanya ada Faizin, Ersty, dan anak bungsu mereka Asma’ Ghaitsani, 17.

Tiga anak Faizin dan Ersty lainnya, yakni Ahmad Ghozali, 24, Ahmad Ghifari, 22, dan Aqila Ghaidah Fauziah, 18, tidak berada di rumah sejak beberapa waktu lalu.

Ketiganya sedang menjalani pusat pelatihan daerah (Puslatda) Wushu Jawa Timur untuk PON 2024, September nanti.

”Ghozali dan Ghifari kemarin baru saja berangkat untuk latihan di Tiongkok. Sedangkan Aqila masih di Surabaya sekarang,” terang Faizin.

Situasi rumah yang seperti itu sudah akrab akhir-akhir ini.

Itu berbanding terbalik dengan 16 tahun lalu.

Saat itu, rumah pasangan Faizin dan Ersty selalu riuh dengan tingkah putra pertama dan keduanya.

”Seperti pada umumnya anak-anak, mereka suka sekali lari dan lompat sana-sini,” kenang Faizin.

Melihat anak-anaknya yang tidak bisa diam di rumah, dia lantas mencari tempat penyaluran sifat ’aktif’ kedua anaknya.

Dia lantas mengikutkan Ghozali dan Ghifari olahraga bela diri pada 2009.

Namun saat itu istrinya sempat tidak mengizinkan.

Ersty tidak ingin anaknya harus melakukan aktivitas fisik yang membahayakan.

 

Akhirnya, mereka sepakat untuk memilih bela diri Wushu dengan disiplin Taolu. Sebab, olahraga itu lebih mengarah ke pertunjukan seni daripada pertarungan.

Perguruan Wushu Lima Benua Kota Malang menjadi tempat Ghozali dan Ghifari menimba ilmu.

Mereka ternyata sangat tertarik dengan seni bela diri itu.

Setiap pulang sekolah, kakak-beradik itu selalu bersemangat berlatih Wushu.

Tingkah pecicilan mereka di rumah akhirnya bisa berkurang dengan drastis.

”Mungkin hobi mereka lompat-lompat itu semua tersalur di Wushu,” canda pria berusia 52 tahun itu.

Setelah berlatih Wushu selama dua tahun, pada 2011 untuk pertama kalinya Ghozali dan Ghifari mendapat prestasi.

Mereka berhasil mendapat predikat juara satu dalam kejuaraan Wushu di Surabaya.

Melihat kakak-kakaknya yang pulang membawa piala, muncul motivasi dari dalam diri Aqila.

Saat usianya baru lima tahun, dara kelahiran 2006 itu memutuskan untuk mengikuti jejak kakaknya.

Sampai pada 2015 lalu, tiga saudara kandung itu mewakili Kota Malang dalam ajang Porprov Jawa Timur di Banyuwangi.

Meski baru pertama mengikuti turnamen tersebut, mereka berhasil membawa medali perak dan perunggu.

Sejak saat itu ketiganya dilirik pengurus cabang olahraga (cabor) Wushu Jawa Timur.

Turnamen-turnamen nasional dan internasional mulai dicicipi kakak beradik tersebut.

Salah satunya yakni World Junior Wushu Championship 2018 di Brasil.

Saat itu Ghifari sukses membawa pulang satu medali perak dan satu medali perunggu.

Sedangkan Aqila berhasil memperoleh satu medali perak.

Tak hanya prestasi di tingkat junior, pada bulan Maret lalu Ghozali mendapat satu perunggu dan Ghifari membawa pulang dua perunggu dalam ajang Moscow Wushu Stars 2024.

Yang terbaru, pada ajang ASEAN University Games 2024 Juli lalu, Ghozali berhasil mendapatkan satu emas dan satu perak.

Sementara Ghifari dapat dua perak.

”Adik mereka yang paling kecil, Asma, juga kami ikutkan wushu pada 2014. Dia juga sudah menang kejuaraan di tingkat daerah dan nasional,” tutur Faizin.

Melihat prestasi empat anaknya yang gemilang di wushu, Faizin dan Ersty memberi dukungan yang penuh.

Salah satu bagian rumah mereka telah dipugar agar bisa menjadi tempat latihan anak-anaknya.

Mereka melengkapinya dengan karpet dan kaca.

Sehingga anak-anaknya tetap bisa berlatih meski tidak berada di perguruan mereka.

”Bisa latihan bersama di rumah membuat kami mudah dalam membangun chemistry,” jelas Asma.

Maka tidak mengherankan, nomor berpasangan atau duilian menjadi andalan empat kakak beradik itu.

Ghozali selalu dipasangkan dengan Ghifari.

Sementara Aqila selalu berduet dengan Asma.

Dengan sering turun di turnamen yang sama, pengalaman duet mereka pun terus bertambah.

Meski memberi support penuh, pasangan Faizin dan Ersty tetap memperhatikan pendidikan anak-anaknya.

Empat kakak beradik itu mengenyam pendidikan di sekolah reguler hanya sampai jenjang SMP.

”SMA mereka kami masukan home-schooling semua, biar bisa fokus dengan olahraga,” jelas Ersty.

Ghozali dan Ghifari sudah mendapat gelar sarjana di bidang Teknik Informatika dari Universitas Binus.

Aqila masih menjalani kuliah jurusan Manajemen Bisnis di kampus yang sama.

Sedangkan Asma masih duduk di kelas tiga SMA.

Saat ini, Faizin dan Ersty fokus mendukung tiga anak mereka yang akan bertanding di PON 2024, bulan September nanti.

Mereka percaya anak-anaknya bisa memperoleh medali dalam multi-event olahraga terbesar di Indonesia itu.

”Kami berharap setelah itu mereka bisa dipanggil di pemusatan latihan nasional (pelatnas) PB Wushu Indonesia,” kata Ersty. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#blimbing malang #cabor wushu #kakak beradik