CABOR-CABOR baru di Kota Malang menghadapi beragam tantangan untuk menjaga eksistensi.
Salah satu problem yang sering menjadi batu sandungan mereka berupa kesulitan melakukan penjaringan atlet.
Cabang olahraga Barongsai Kota Malang contohnya.
Ketua Persatuan Liong dan Barongsai Seluruh Indonesia (PLBSI) Brilliant Matriwiria mengatakan, pada pra pusat pelatihan kota (Puslatkot) pihaknya baru mendapatkan 11 atlet.
Mereka membutuhkan 14 atlet lagi untuk bisa turun di semua nomor yang di pertandingan dalam Porprov Jawa Timur IX tahun depan.
Nanti total terdapat 13 nomor yang dilombakan pada ajang tersebut.
”Kami sebetulnya punya stok atlet untuk mencukupi kuota itu tapi kebanyakan masih SMP,” tutur pria 41 tahun itu.
Menurutnya, para atlet tersebut belum cukup untuk berlaga di ajang seperti Porprov.
Itu karena fisiknya masih mengalami masa pertumbuhan.
Mengingat barongsai merupakan olahraga beregu, maka semua atletnya harus dalam kondisi fisik yang setara.
Brilliant mengatakan, kekurangan atlet disebabkan barongsai yang masih dianggap pertunjukan.
Pelaku olahraga barongsai juga terkesan eksklusif untuk kalangan tertentu.
Lalu akibat pengurusan baru terbentuk pada tahun 2022 membuat belum banyak kegiatan.
”Lomba-lomba barongsai juga belum ada di Kota Malang,” papar warga Kelurahan Ketawanggede, Kota Malang itu.
Karena itu, PLBSI Kota Malang berencana melakukan sosialisasi di sejumlah SMA di Kota Malang.
Tujuannya untuk memenuhi kuota atlet.
Usaha itu akan mereka lakukan mulai bulan September sampai Desember.
Meski masih diterpa masalah kekurangan atlet, tetapi PLBSI Kota Malang tetap membidik target meraih lima medali emas. (tio/gp)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana