PERINGATAN Hari Guru, kemarin (25/11) ikut dirayakan Asisten Pelatih Arema FC Siswantoro.
Itu karena, pria berusia 57 tahun itu tidak hanya meniti karier di bidang kepelatihan, khususnya di Arema FC.
Asisten Pelatih Arema FC itu juga seorang guru olahraga di SMAN 1 Tumpang, Kabupaten Malang.
Lantas, bagaimana dia bisa menjadi seorang guru?
Seperti diketahui, jarang sekali mantan pemain nasional terjun di dunia tersebut.
Umumnya, fokus pemain seusai gantung sepatu menjadi pelatih atau mendirikan sekolah sepak bola.
Kemarin kepada Jawa Pos Radar Malang Siswantoro bercerita, kariernya menjadi guru dimulai saat membela Persik Kediri pada 2003 silam.
Pada waktu itu, dia ikut mengantarkan klub berjuluk Macan Putih itu menjadi juara Divisi Utama Liga Indonesia.
”Setahun kemudian, saya mendapat surat tugas menjadi guru,” tuturnya kemarin.
Tempat bertugas pertamanya di SMAN 8 Kota Kediri.
Menurutnya, alasan menjadi guru karena mempunyai latar belakang yang mendukung.
Dia merupakan alumnus Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Budi Utomo.
Konsentrasi kuliahnya ilmu pendidikan olahraga dan kesehatan.
”Karena itu, kesempatan menjadi guru terbuka lebar bagi saya,” jelas dia.
Terlebih, dia juga mendapat dukungan dari Manajer Persik Kediri waktu itu Iwan Budianto.
Dia merasa menjadi guru merupakan jalan dari sang-pencipta yang diberikan kepadanya.
Seusai itu, pada tahun 2006 dia memutuskan untuk gantung sepatu.
Siswantoro lalu mulai lebih fokus berkarier sebagai guru.
Sembari, memperdalam ilmu kepelatihan.
Pada 2016, Siswantoro dipercaya menjadi pelatih Persekam Metro FC.
Tiga tahun setelahnya, dia dipanggil menjadi asisten pelatih Arema FC sampai sekarang.
Menurutnya, bertugas di dua profesi itu memiliki pendekatan yang berbeda.
Sebagai guru di sekolah, dia mempunyai kewajiban untuk mendidik para siswanya.
Tapi ketika menjadi pelatih, pendekatannya lebih profesional lagi.
Meski begitu, Siswantoro melihat, terdapat persamaan sebagai guru dan pelatih.
Dia mencontohkan, mengenai kemampuan menyampaikan materi secara jelas.
”Yang beda kalau sebagai guru berarti yang harus berhadapan dengan siswa. Kalau pelatih berarti pemain,” tutur dia.
Dia merasa, tidak pernah menghadapi kesulitan selama menjalani dua profesi itu.
Menurutnya, sudah terbiasa untuk membagi waktu dan peran. (tio/gp)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana