PERJUANGAN Triathlon Kota Malang menjaga eksistensi tidak semudah menutup pintu. Cabor tersebut harus berjuang meraih prestasi untuk semakin dikenal.
Sekaligus, melawan stigma miring yang kerap melabeli triathlon sebagai olahraga mahal. Ketua Federasi Triathlon Indonesia (FTI) Kota Malang Yose Beal tidak memungkiri situasi itu membuatnya dan pengurus harus kerja ekstra. Khususnya dalam menjaring atlet baru.
”Untuk mengikuti olahraga ini memang membutuhkan uang tidak sedikit,” paparnya.
Atlet perlu merogoh sakunya cukup dalam untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan dan penunjang. Itu menyusul, triathlon menggabungkan tiga olahraga, renang, bersepeda, dan lari.
Baca Juga: Pentathlon Kota Malang, Jaring Atlet dari Cabor Lain
Menurutnya, untuk sepeda saja harganya bisa puluhan juta dan itu belum perlengkapan lain. Yose menjabarkan, upaya cabor memperkenalkan triathlon ke masyarakat Malang dengan sejumlah jurus.
Mulai dari melakukan sosialisasi sampai memberi fasilitas untuk latihan. Triathlon Kota Malang memang harus jemput bola.
Tujuannya, menciptakan wadah untuk mereka ingin terjun dan punya potensi besar di olahraga tersebut.
”Kami membantu fasilitas baik dari venue ataupun perlengkapan yang diberikan,” katanya.
Baca Juga: IBC-MMA Kota Malang Datangkan Dua Atlet Luar Jawa Timur
Sejauh ini, usaha mereka dalam pencarian atlet dilakukan dengan cara merekrut dari cabang olahraga lain. Triathlon Kota Malang membidik atlet yang ingin mencoba tantangan baru. Atau bisa berprestasi di triathlon.
Meski begitu, Triathlon Kota Malang terbantu dengan menjamurnya event olahraga tersebut di sejumlah daerah. Dari sana, dilihatnya triathlon mulai menarik banyak minat anak-anak muda.
”Sekarang kami mempunyai sekitar 25 atlet,” paparnya.
Mereka akan disiapkan untuk menghadapi Porprov Jatim 2025. Target mereka, dalam kejuaraan multi-event cabor tersebut meraih lima medali emas. (wb3/gp)
Editor : A. Nugroho