MALANG - Bukan soal skill. Bukan soal strategi. Tapi rasa lapar untuk menang. Hal itulah yang terlihat dalam final Piala FA antara Crystal Palace versus Manchester City tadi malam (17/5).
Seluruh pemain The Eagles tampil begitu heroik. Mulai dari kiper hingga penyerang benar-benar bermain dengan hati. Seperti tak ada hari esok bagi skuad asal London Selatan ini. Mereka mengorbankan semuanya demi laga ini.
Hasilnya, laga final kompetisi tertua di dunia ini menjadi milik mereka. Gol tunggal Eberechi Eze di menit ke-16 jadi penentu. 1-0.
Seperti biasa, Manchester City tampil dominan. Nyaris 80 persen penguasaan bola jadi bukti. Soal peluang apalagi. Berkali-kali City mengancam gawang Palace.
Namun Haaland, Marmoush, hingga Doku tak mampu menaklukkan ketangguhan penjaga gawang Palace, Dean Henderson. Mantan kiper Manchester United ini melakukan berbagai penyelamatan istimewa. Refleksnya luar biasa.
Bahkan, penalti Marmoush pun berhasil dia bendung.
Crystal Palace tak bermain neko-neko. Melawan salah satu tim dengan kontrol permainan paling tinggi di Inggris, skuad asuhan Oliver Glasner ini menerapkan garis pertahanan rendah. Bertahan total. Mereka memancing pemain City untuk masuk ke dalam jebakan. Jika bola berhasil direbut, serangan balik cepat dilancarkan. Layaknya gol Eze, hanya lima sentuhan sebelum bola menghujam deras ke gawang Stefan Ortega. Skema itu terus diulangi dalam sejumlah kesempatan.
Kemenangan ini jelas menjadi akhir yang manis bagi Palace musim ini. Apalagi mereka meraihnya di Stadion Wembley yang monumental. Seluruh pemain hingga staf kepelatihan dan suporter Palace tampak menikmati momen ini. Juara yang diraih dengan kerja keras dan kegigihan.