SIAP BERBENAH: Para pemain Arema FC merayakan gol ke gawang PSBS Biak dalam laga BRI Liga 1 pekan ke-33 di Stadion Lukas Enembe, kemarin.
Akibat Lima Kali Sanksi Komdis PSSI
MALANG KOTA - Denda dan sanksi Komisi Disiplin (Komdis) PSSI masih mewarnai perjalanan Arema FC mengarungi kompetisi.
Sejak BRI Liga 1 2021/2022 sampai sekarang, Singo Edan tidak pernah absen menerima dua hal itu.
Sedangkan sampai kompetisi pekan ke-33 musim ini, mereka sudah merasakan denda sebesar Rp 130 juta.
Sanksi dan denda terbaru yang Arema FC rasakan, adalah larangan menggelar laga kandang tanpa penonton satu kali.
Dan denda Rp 20 juta akibat tindakan tidak terpuji oknum yang melempar bus Persik Kediri dengan batu.
Insiden itu terjadi setelah laga pekan ke-32 pada 11 Mei lalu.
Panitia pelaksana laga Arema FC dinyatakan terbukti melanggar Kode Disiplin PSSI Tahun 2023.
Khususnya Pasal 68 huruf (c), Pasal 69 ayat 1 dan ayat 2.
Terkait kenyamanan dan keamanan laga.
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Arema FC Erwin Hardiyono menghormati sanksi yang diberikan PSSI.
Menurutnya, sanksi itu akan menjadi pelajaran yang berharga bagi semua pihak.
”Dari keputusan itu kami akan segera melakukan introspeksi dan berbenah untuk lebih baik,” katanya.
Harapannya, kerja sama penyelenggaraan laga dengan berbagai pihak terkait semakin kuat.
Artinya, sama-sama menggunakan insiden lalu sebagai bahan evaluasi.
Mulai dari kepolisian, Aremania Utas, hingga manajemen Arema FC akan terus berusaha lebih baik.
”Karena kami yakin dengan usaha-usaha baik tersebut akan semakin maksimal menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan selama pertandingan,” katanya.
Menurutnya, dalam laga mendatang akan dilakukan penyesuaian.
Lalu, rencana pengamanan akan dibuat lebih detail lagi.
Pengamanan di zona empat atau area luar Stadion Kanjuruhan akan diperketat.
Satu tujuannya menghindari insiden serupa terulang.
Harapannya, ada evaluasi pola pengamanan dan penertiban di sektor itu.
Di tempat terpisah, Koordinator Presidium Aremania Ali Rifki melihat, sanksi Komdis PSSI menjadi pembelajaran berharga bagi semua pihak.
Tidak hanya klub, tapi juga para pemain ke-12.
Di mana, tindakan-tindakan yang jauh dari kata fair play dan sportivitas di sepak bola dampaknya besar.
”Tentu yang kami menyesalkan adanya cara anarkis yang dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Mewakili organisasi Arek Malang Mania, dia meminta maaf untuk pihak yang dirugikan.
Dia yakin insiden itu akan jadi bahan pembelajaran bersama.
Selama Arema FC mendapat sanksi dan denda dari Komdis PSSI, penyebabnya tidak sekadar akibat tindakan oknum.
Lebih jauh, juga berasal dari tim.
Contohnya, enam kartu kuning yang didapatkan penggawa Singo Edan saat melawan Persis Solo, pada 5 Mei lalu berbuah denda Rp 50 juta. (zan/gp)
Editor : A. Nugroho