MALANG KOTA - Setelah laga Super League pekan ke-3, aktivitas Achmad Maulana Syarif akan lebih banyak diisi proses pemulihan. Dia harus menepi sejenak dari urusan sepak bola akibat mengalami problem lutut. Cedera itu dialaminya setelah mendapat pelanggaran keras dari pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Dokter Tim Arema FC Nanang Tri Wahyudi mengatakan, Achmad mengalami problem lutut. Pada Sabtu lalu (23/8) menjalani proses Magnetic Resonance Imaging (MRI) di Rumah Sakit Persada. ”Saya rasa, untuk sementara dia bakal absen (dari pertandingan sepak bola),” katanya.
Menurutnya, butuh menepi sejenak untuk pemulihan. Saat dipaksakan untuk bermain terlalu berisiko. Salah satunya, membuat problem lututnya tambah lebih berat.
Nanang menjabarkan, cedera di area lutut tidak bisa disepelekan. Perlu pemeriksaan yang detail, supaya proses penanganan untuk pemulihan pemain maksimal. ”Minimal dia harus menepi selama enam minggu,” katanya.
Dia menjelaskan, masih perlu menunggu hasil MRI. Supaya mengetahui secara spesifik cedera Achmad. Baru kemudian menyiapkan program pemulihan yang ideal.
”Senin (hari ini) dia akan berkonsultasi ke (dokter) Ortopedi,” jelas dia. Saat ini pemain bernomor punggung 19 sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Itu bertujuan untuk mengurangi masalah lutut yang dideritanya.
Sementara itu, Fisioterapis Arema FC Reta Arroyan memastikan, cedera lutut bukan akhir dari karier pemain. Selama jadi bagian Singo Edan, dia banyak melihat penggawa tim kembali lebih kuat setelah mengalami problem itu. ”Dari tim medis pasti akan membantu proses pemulihannya dengan maksimal,” katanya.
Berdasar pengalamannya, manajemen Singo Edan tidak pernah meninggalkan pemain tim yang cedera. Berusaha membantu penggawa tim sampai pulih dan bermain lagi. Dia mencontohkan Pablo Oliveira dan center back Syaeful Anwar.
Menurutnya, yang terpenting adalah kemauan pemain untuk bangkit dari problem cedera. Tanpa hal itu, segala macam program pemulihan tidak akan terasa manfaatnya. ”Jadi antara pemain dan tim medis harus saling support,” katanya.
Terkait metode pemulihan untuk Achmad, Reta belum bisa menjabarkan secara detail. Saat ini, dirinya masih menunggu hasil MRI. Apakah masuk di level ringan, sedang, atau sangat berat.
Tingkatan itu punya metode pemulihan yang berbeda-beda. Paling berat harus naik meja operasi seperti pernah dirasakan Dedik Setiawan, Pablo Oliveira.
Manajer Timnas Indonesia Sumardji menjelaskan, akan berkomunikasi dengan tim pelatih Timnas U-23. ”Kalau kondisi Achmad parah, kami akan berdiskusi dengan coach (Gerald Vanenburg) untuk mencari penggati,” ujar dia. Sejatinya Achmad dapat panggilan pemusatan latihan. (zan/gp)
Editor : A. Nugroho