Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengulik Jejak Lama Dualisme Sepak Bola di Malang sejak Masa Kolonial, Masalah Utama Perpecahan karena Sosial dan Politik

Aditya Novrian • Jumat, 13 Februari 2026 | 11:35 WIB
PERNAH TERPECAH: Skuad MVB foto bersama dalam sebuah laga pada 1930 silam. MVB mengalami dualisme pada masa Hindia Belanda karena kepentingan sosial dan politik.
PERNAH TERPECAH: Skuad MVB foto bersama dalam sebuah laga pada 1930 silam. MVB mengalami dualisme pada masa Hindia Belanda karena kepentingan sosial dan politik.

SEPAK bola bukan sekadar permainan 11 lawan 11 di Kota Malang. Ia tumbuh sebagai cermin dinamika sosial kota sejak era kolonial hingga masa modern.

Jika publik hari ini masih mengingat dualisme federasi PSSI dan KPSI pada 2011  yang memecah Arema menjadi dua kubu, Arema FC dan Arema Indonesia, sesungguhnya kisah serupa sudah pernah terjadi hampir seabad silam.

Dualisme itu pernah membelah denyut sepak bola Malang pada masa Hindia Belanda. Yakni saat klub dan federasi berdiri di tengah tarik-menarik kepentingan sosial dan politik.

Pada masa kolonial, sistem sepak bola di Nusantara berbeda jauh dengan sekarang. Setiap daerah memiliki perserikatan sendiri yang disebut voetbal bond. Semacam federasi lokal yang mengelola liga dan kompetisi internal. Di atasnya berdiri Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) sebagai induk organisasi sepak bola Hindia Belanda.

Klub-klub bermunculan dari berbagai latar etnis sperti Tionghoa, Arab, Belanda, hingga pribumi membentuk lanskap kompetisi yang ramai. ”Setiap federasi daerah ada liga dan kompetisinya sendiri. Saat itu klub-klub bola banyak bermunculan di daerah, dengan beragam ras di dalamnya,” terang penggemar sejarah dari Komunitas History Fun Walk Malang Hannu Ayodya Mamola.

Selain liga resmi, pertandingan uji coba antarklub kerap digelar. Dari kompetisi tingkat daerah, para juara kemudian bertemu di level NIVB. Bahkan, beberapa pemain dipanggil memperkuat tim nasional Hindia Belanda.

”Ada yang kemudian dipanggil dari klub-klub itu untuk memperkuat timnas. Salah satu contohnya Tan Bing Mo Heng, kiper timnas Hindia Belanda asal Malang dengan klub HCTNH (Hua Chiao Tshing Nien Hui),” imbuhnya.

Jejak awal sepak bola Malang tercatat dalam buku 40 Jaar Voetbal in Nederlands Indie 1894–1934 karya W. Berretty. Di sana disebutkan olahraga ini mulai tumbuh pesat sekitar 1914. Awalnya, para pemilik perkebunan seperti Fransen, Van de Putte, dan Van Exter mendatangkan tim dari luar kota untuk bermain di Malang.

Pertandingan digelar di Alun-Alun Merdeka, satu-satunya lapangan yang dianggap layak sebelum aktivitas perlahan bergeser ke lapangan Rampal. Militer ikut ambil bagian mempopulerkan olahraga ini membuat sepak bola cepat menjadi hiburan favorit warga.

Klub-klub pun bermunculan mewakili beragam komunitas. Pada 1917, empat klub sepakat membentuk Malangsche Voetbal Bond (MVB), federasi lokal yang kemudian menghidupkan persaingan sengit dengan Surabaya, kota tetangga yang sama-sama gandrung bal-balan.

Namun, MVB tak lepas dari gejolak. Dalam perjalanannya, federasi ini diwarnai konflik internal dan pergantian kepengurusan. Ayodya menyebut persoalan yang muncul tak sekadar teknis olahraga.

”Masalahnya lebih ke sosial dan politik. MVB ini lebih pro ke golongan Eropa (Belanda) dan pribumi dari golongan Priyayi (Ningrat),” sebutnya.

Buku karya Berretty juga menyinggung adanya intrik dan rasa iri di antara pengurus memicu persaingan untuk memegang kendali organisasi. Dari retakan itu lahir Voetbalbond voor Malang en Omstreken (VMO) sekitar 1929, federasi tandingan yang dianggap lebih mewakili pribumi dan kelompok Indo-Belanda.

Sejumlah klub perlahan meninggalkan MVB dan bergabung dengan VMO, menciptakan dua kiblat sepak bola di satu kota. Dualisme tersebut tak berlangsung lama. Memasuki awal 1930-an, dorongan untuk bersatu semakin kuat.

Arsip koran De Indische Courant edisi 13 Juli 1933 mencatat rapat pengurus VMO yang mengumumkan rencana peleburan dengan MVB. Agenda itu mencakup pemilihan pengurus baru hingga penyelesaian utang lama MVB. Hasilnya, lahirlah Malangsche Voetbal Unie (MVU) pada 1933, menandai berakhirnya perpecahan federasi lokal.

Meski begitu, jejak soal pelunasan utang MVB tak banyak diketahui. ”Karena ada dorongan dari federasi pusat baru bernama Nederlands Indische Voetbal Unie (NIVU). Dalam hal ini, ada anggapan Stadion Gajayana sudah berdiri tapi sepak bolanya terpecah,” ujar Ayodya.

MVU bertahan hingga 1942, ketika situasi politik kawasan berubah drastis. Setelah Indonesia merdeka, organisasi-organisasi kolonial itu tidak dinasionalkan. Di tengah semangat kebangkitan, warga pribumi Malang pada 1933 sebenarnya telah membentuk PSIM (Persatoean Sepakbola Indonesia Malang) yang kemudian berganti nama menjadi Persema Malang pada 1953.

Dari sana, sepak bola Malang memasuki babak baru dengan identitas yang lebih nasional. Namun, riwayat dualisme pada era kolonial menjadi pengingat bahwa sepak bola selalu berjalan beriringan dengan dinamika sosial kota.

Dari lapangan Alun-Alun Merdeka hingga stadion modern hari ini, Malang menyimpan cerita panjang tentang persaingan, persatuan, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#Ningrat #mvb #NIVB #malang