MALANG KOTA-RADAR MALANG- Komisi Pemilihan Aremania (KPA) resmi merilis daftar calon presidium yang lolos fit and proper test. Ada 10 kandidat yang terpilih memenuhi kriteria tim penguji. Mereka saat ini sedang menjalani masa kampanye selama empat hari sampai 18 Juni mendatang.
Anggota KPA Dedi Arisandi mengungkapkan, pihaknya tidak memberikan aturan yang ketat kepada para calon presidium. Hanya mengingatkan agar para kandidat memberitahukan jadwal dan materi dari kampanye yang akan disampaikan. Tujuannya, agar bisa menghindari isu SARA dan berjalan dengan damai.
”Dalam masa kampanye ini titik beratnya adalah kepada pengenalan visi misi dan program kerja,” ujar dia. Menurutnya, aspek tersebut harus bisa disampaikan dengan baik kepada Aremania selama masa kampanye. Harapannya, pendukung Singo Edan mengetahui rencana dan program kerja calon presidium Aremania.
Menurutnya, supaya proses kampanye berlangsung objektif, sejumlah anggota presidium periode 2024-2026 yang dicalonkan lagi memutuskan untuk mengambil cuti. Mereka adalah Ali Rifki, Teddy Krisna, Prayogi Setiawan, dan Soni Taufik. Langkah tersebut diambil untuk menjaga netralitas serta memastikan proses demokrasi berjalan secara fair.
Sementara itu, salah satu calon presidium Aremania Utas Rida Hartatik mengungkapkan, dirinya akan memaksimalkan kekuatan media sosial untuk berkampanye. Itu karena menurutnya jauh lebih efektif dalam menjangkau Aremania. Strategi itu digunakan, karena dirinya harus membagi waktu dengan tugas sebagai kepala sekolah di dua sekolah di Malang Raya.
”Saya akan memanfaatkan medsos untuk menyampaikan visi dan misi,” kata Rida kepada Jawa Pos Radar Malang. Sebagai kandidat yang baru pertama kali jadi calon presidium, dia merasa ada tantangan tersendiri. Salah satunya melewati uji kelayakan saat fit and proper test/.
Menurutnya, sebagai perempuan bukan sebuah halangan untuk menjadi presidium. Justru menjadi kesempatan untuk menunjukkan kalau pemimpin lahir dari kapasitas, komitmen dan keberanian bekerja sama. ”Karena itu saya maju bukan untuk menjadi simbol perempuan di presidium, tetapi menjadi bagian dari dinamika dan suka duka dalam kebersamaan organisasi,” tandasnya. (zan/gp)
Editor : Galih R Prasetyo