Tanggal 9 April 2021, keluarga besar TNI Angkatan Udara (TNI AU) di tanah air, memperingati hari lahirnya ke-75, namun dilaksanakan secara sederhana dan terbatas karena masih mewabahnya virus corona 19.
Keprihatinan TNI AU, masyarakat Indonesia dan dunia selama setahun lebih ini memang harus dijalani, karena keganasan virus corona 19 yang cepat meluas dan menjalar serta sangat mematikan. Sehingga siapapun harus hati-hati menyikapinya dengan mengedepankan protokol kesehatan seperti tidak keluar rumah, tidak berkumpul, keharusan memakai masker dan kebiasaan mencuci tangan.
Pada perkembangan berikutnya sejak Pebruari 2021, Pemerintah mulai memberikan vaksinasi covid 19 kepada seluruh warga negara yang di awali para tokoh-tokoh masyarakat, aparat pemerintah dan bagi personel Pangkalan TNI AU (Lanud) Abdulrachman Saleh telah dilaksanakan pada pertengahan Maret 2021.
Perlu diketahui, hingga kini di Wilayah Malang Raya selain Lanud Abdulrachman Saleh terdapat beberapa instansi TNI AU yang diawaki oleh Prajurit-prajurit dan PNS TNI AU lainnya meliputi Depo Pemeliharaan (Depohar 30), Batalyon Komando (Yonko) 464 Paskhas, Detasemen Matra (Denmatra) 2 Paskhas, Satuan Radar (Satrad) 221 Ngliyep Kosekhanudnas II, Sekolah Bahasa (Sesa) Abdulrachman Saleh dan Gudang Persediaan Pusat (GPP) 5.
Peran Vital Kekuatan Udara Nasional (National Air Power)
TNI AU sebagai bagian Tentara Nasional Indonesia (TNI) bertugas mempertahankan keutuhan wilayah dan kedaulatan Negara Republik Indonesia (NKRI) secara utuh pada aspek udara. Dengan perkembangan ilmu pengatahuan teknologi kedirgantaraan, peran Angkatan Udara melalui berbagai jenis pesawat udaranya menjadi sangat vital, karena berbagai karakteristik keunggulannya seperti ketinggian, kecepatan, daya jangkau, fleksibilitas, daya terobos, daya penghancur, presisi dan daya kejut yang mampu melumpuhkan lawan secara telak.
Karakteristik kekuatan udara Indonesia itu dalam sejarahnya pernah ditunjukkan prajurit-prajurit TNI AU, salah satunya serangan udara dengan pemboman tiga kota di Semarang, Ambarawa dan Salatiga pada 29 Juli 1947, menggunakan Pesawat Guntei dan Cureng oleh Kadet-kadet penerbang AURI yaitu Mulyono, Soetardjo Sigit dan Suharnoko Harbani. Serangan udara dengan segala keterbatasannya itu dilatarbelakangi keinginan pimpinan AURI untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Negara Indonesia masih ada, setelah adanya agresi militer Belanda pada 21 Juli 1947.
Dalam agresinya, pertama-tama Belanda menyerang secara membabi-buta beberapa kekuatan udara RI seperti Pangkalan Udara (PU) dengan pertimbangan sebagai yang cara paling ampuh melumpuhkan perlawanan Indonesia dan mencegah serangan balik Indonesia.
Serangan pertama Belanda dilakukan pada PU Maguwo di Yogyakarta dengan menjatuhkan beberapa bom ke wilayah Maguwo dan Wonocatur. Selanjutnya 25 Juli 1947, Belanda kembali menyerang Maguwo menggunakan dua pesawat P-40, dan salah satunya tertembak senjata Penangkis Serangan Udara (PSU) AURI namun tidak sampai jatuh.
Belanda kemudian juga melakukan serangan udara ke PU Bugis (Lanud Abdulrachman Saleh), PU Maospati (Lanud Iswahjudi, Magetan), PU Panasan (Lanud Adi Soemarmo, Solo), PU Cibereum (Lanud Wiriadinata, Tasikmalaya) dan PU Kalijati (Lanud Suryadarma, Subang). Pasca serangan itu, Belanda juga menduduki PU Bugis dan Kalijati, sehingga sebagian besar kekuatan udara RI nyaris tanpa daya. Belanda kemudian berupaya memasuki berbagai sendi-sendi kekuatan militer Indonesia lainnya.
Di sisa-sisa kekuatan udaranya, Kasau saat itu Marsekal Suryadarma berinisiatif berupaya melaksanakan operasi udara dengan pertimbangan menggugah semangat juang rakyat Indonesia dan memperlihatkan kehadiran AURI serta eksistensi negara RI.
Setelah direncanakan, akhirnya serangan terhadap tangsi militer Belada di Semarang, Ambarawa dan Salatiga dapat diwujudkan oleh kadet-kadet muda penerbang AURI. Serangan yang di mulai di waktu fajar itu ternyata mampu memporak-porandakan markas Belanda di tiga kota tersebut.
Dapat dikatakan serangan udara itu memiliki kontribusi yang sangat besar bagi eksistensi Bangsa Indonesia di mata internasional, sehingga menimbulkan kecaman dunia terhadap tindakan agresi Belanda dan simpati pada Indonesia. Inilah bukti kekuatan udara nasional bernilai strategis dan vital bagi eksistensi Negara Indonesia.
Lahir dan Perkembangan TNI AU
Hari jadi TNI AU ditetapkan 9 April 1946 tidak berapa lama setelah terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal-bakal TNI, yang lahir pada l 5 Oktober 1945. Awalnya TNI AU bernama TKR Jawatan Penerbangan, selanjutnya berdasarkan Penetapan Pemerintah Nomor 6/SD tanggal 9 April 1946, status TKR Jawatan Penerbangan ditingkatkan menjadi Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI-AU) yang kedudukannya sederajat dengan TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.
Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia, TRI kemudian namanya diubah menjadi TNI. Penetapan Presiden tanggal 9 April 1946 tersebutlah yang menjadi alasan utama ditetapkannya sebagai hari jadi TNI AU, yang tahun ini memasuki usia ke-75.
Di bawah kepemimpinan Kasau saat ini Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, S.E., M.P.P, TNI AU terus berupaya dikembangkan sesuai perkembangan teknologi persenjataan udara mutakhir, seperti adanya pesawat tempur Sukhoi SU 27 dan SU 30. Serta berupaya turut serta dalam upaya memberikan solusi permasalahan nasional sesuai kemampuan yang dimilikinya, melalui Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Aktivitas OMSP antara lain angkutan udara untuk pengambilan APD, penyebaran APD, angkut pengungsi, angkut pasien corona, juga peran prajurit TNI AU sebagai tracher covid 19, TMMD dan lainnya.
Sebelum kekuatan TNI AU seperti saat ini, dalam sejarahnya TNI AU mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Di awali masa pertumbuhannya 1946-1950, TNI AU bermodalkan pesawat tua peninggalan Jepang (buatan tahun 1930-an) seperti Cureng, Guntei, Hayabusha dan Cukiu. Selain itu, TNI AU juga mulai menata organisasi dan PU-PU dengan segala fasilitasnya, yang diserahkan Angkatan Udara Belanda pada AURI di berbagai daerah di tanah air.
Pada tahun 1950, TNI AU mulai berkembang yaitu menggunakan teknologi barat, ditandai hadirnya Pesawat Mustang, Mitchell, Dakota, Harvard dan Catalina. Melalui pesawat itu, TNI AU mampu memberikan andil dalam penumpasan berbagai pemberontakan di tanah air seperti RMS, PRRI, Permesta dan DI-TII.
Tahun 1960-an, TNI AU turut andil mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi menggunakan Pesawat Mustang, Mig 17, Mig 19, Mig 21, Antonov, Hercules, Ilyhusin dan TU-16. Juga Operasi Dwikora dan penumpasan pemberontakan PKI Blitar Selatan.
Pada tahun 1970-an, hadir pesawat tempur OV 10 F Bronco, F-86 Sabre dan T-33. Pada tahun 1980-an, TNI AU memasuki era supersoniknya dengan kehadiran F-5 Tiger II, A-4 Sky Hawk, Hawk MK 53, Pesawat Boeing 737, Hercules tipe H, Helikopter Puma, F-16 serta Radar Thomson dan Plessey.
Di era 1990-an, hadir pesawat Hawk 100/200, CN 235, Helikopter NAS 332 Super Puma dan Radar Plessey AR 325. Memasuki tahun 2000, TNI AU di awaki pesawat dari barat dan timur yaitu Sukhoi SU 27 dan SU 30, T 50 Golden Eagle, Super Tucano, F16 C/D, pesawat latih dasar KT-1 Wong Bee, Helikopter EC 120 Colibri, C-130 Hercules, CN 235-200 MPA dan CN 295.
Melalui sejarah pertumbuhan dan perkembangannya yang penuh dinamika tersebut, memperkuat tekad, kemampuan dan profesionalisme seluruh prajurit TNI AU yang bersemboyan Swa Bhuana Paksa ( sayap tanah air), sebagai kekuatan udara nasional (national air power) dalam upaya mempertahankan keutuhan wilayah NKRI secara terus-menerus, Dirgahayu TNI Angkatan Udara. (*)
Oleh:
Letkol Sus Dodo Agusprio S., S.S.
Kepala Penerangan (Kapen) Lanud Abdulrachman Saleh Editor : Shuvia Rahma