Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Peran TNI Angkatan Udara dan Sejarahnya

Shuvia Rahma • Jumat, 9 April 2021 | 13:00 WIB
Letkol Sus Dodo Agusprio S., S.S. Kepala Penerangan (Kapen) Lanud Abdulrachman Saleh (ist)
Letkol Sus Dodo Agusprio S., S.S. Kepala Penerangan (Kapen) Lanud Abdulrachman Saleh (ist)
Dipersembahkan dalam Memperingati HUT ke-75 TNI AU

Tanggal 9 April 2021, kelu­arga besar TNI Angkatan Uda­ra (TNI AU) di tanah air, mem­peringati hari lahirnya ke-75, na­mun dilaksanakan secara seder­hana dan terbatas karena ma­sih mewabahnya virus corona 19.
Keprihatinan TNI AU, masya­rakat Indonesia dan dunia selama setahun lebih ini memang harus dijalani, karena keganasan virus corona 19 yang cepat meluas dan menjalar serta sangat me­matikan. Sehingga siapapun harus hati-hati menyikapinya dengan mengedepankan pro­tokol kesehatan seperti tidak keluar rumah, tidak berkumpul, keharusan memakai masker dan kebiasaan mencuci tangan.

Pada perkembangan berikutnya sejak Pebruari 2021, Pemerintah mulai memberikan vaksinasi covid 19 kepada seluruh warga negara yang di awali para tokoh-tokoh masyarakat, aparat pemerintah dan bagi personel Pang­kalan TNI AU (Lanud) Abdulrachman Saleh telah dilaksanakan pada pertengahan Maret 2021.
Perlu diketahui, hingga kini di Wilayah Malang Raya selain Lanud Abdulrachman Saleh terdapat beberapa instansi TNI AU yang diawaki oleh Prajurit-prajurit dan PNS TNI AU lainnya meliputi Depo Pemeliharaan (Depohar 30), Batalyon Komando (Yonko) 464 Paskhas, Detasemen Matra (Denmatra) 2 Paskhas, Satuan Radar (Satrad) 221 Ngliyep Kosekhanudnas II, Sekolah Bahasa (Sesa) Abdulrachman Saleh dan Gudang Persediaan Pusat (GPP) 5.

Peran Vital Kekuatan Udara Nasional (National Air Power)
TNI AU sebagai bagian Tentara Nasional Indonesia (TNI) bertugas mempertahankan keutuhan wilayah dan kedaulatan Negara Republik Indonesia (NKRI) secara utuh pada aspek udara. Dengan perkembangan ilmu pengatahuan teknologi kedirgantaraan, peran Angkatan Udara melalui berbagai jenis pesawat udaranya menjadi sangat vital, karena berbagai karakteristik keunggulannya seperti ketinggian, kecepatan, da­ya jangkau, fleksibilitas, daya terobos, daya penghancur, presisi dan daya kejut yang mampu melum­­puhkan lawan secara telak.

Karakteristik kekuatan uda­ra Indonesia itu dalam sejarah­nya pernah ditunjukkan praju­rit-prajurit TNI AU, sa­lah satunya serangan udara de­ngan pemboman tiga kota di Semarang, Ambarawa dan Sa­latiga pada 29 Juli 1947, meng­gunakan Pesawat Guntei dan Cureng oleh Kadet-kadet pener­bang AURI yaitu Mulyono, Soetardjo Sigit dan Suharnoko Harbani. Serangan udara de­ngan segala keterbatasannya itu dilatarbelakangi keinginan pim­pinan AURI untuk me­nun­jukkan kepada dunia internasional bahwa Negara Indonesia masih ada, setelah adanya agresi militer Belanda pada 21 Juli 1947.

Dalam agresinya, pertama-tama Belanda menyerang seca­ra membabi-buta beberapa keku­atan udara RI seperti Pang­kalan Udara (PU) dengan pertim­ba­ngan sebagai yang cara paling ampuh melumpuhkan perla­wanan Indonesia dan mencegah serangan balik Indonesia.

Serangan pertama Belanda dilakukan pada PU Maguwo di Yog­yakarta dengan menjatuhkan be­berapa bom ke wilayah Ma­guwo dan Wonocatur. Selan­jut­nya 25 Juli 1947, Belanda kem­ba­li menyerang Maguwo meng­gunakan dua pesawat P-40, dan salah satunya tertembak senjata Penangkis Serangan Udara (PSU) AURI namun tidak sampai jatuh.

Belanda kemudian juga melakukan serangan udara ke PU Bugis (Lanud Abdulrachman Saleh), PU Maospati (Lanud Iswahjudi, Magetan), PU Panasan (Lanud Adi Soemarmo, Solo), PU Cibereum (Lanud Wiriadinata, Tasikmalaya) dan PU Kalijati (La­nud Suryadarma, Subang). Pasca serangan itu, Belanda juga menduduki PU Bugis dan Kali­jati, sehingga sebagian besar kekuatan udara RI nyaris tanpa daya. Belanda kemudian berupaya memasuki berbagai sendi-sendi kekuatan militer Indonesia lainnya.

Di sisa-sisa kekuatan udaranya, Ka­­sau saat itu Marsekal Surya­darma berinisiatif berupaya melak­­sa­nakan operasi uda­ra de­ngan pertimbangan menggugah semangat juang rakyat Indonesia dan memperlihatkan kehadiran AURI serta eksistensi negara RI.

Setelah direncanakan, akhir­nya serangan terhadap tangsi militer Belada di Sema­rang, Ambarawa dan Salatiga dapat diwujudkan oleh kadet-kadet muda pener­bang AURI. Sera­ngan yang di mulai di waktu fajar itu ternyata mampu memporak-porandakan markas Belanda di tiga kota tersebut.

Dapat dikatakan serangan udara itu memiliki kontribusi yang sangat besar bagi eksisten­si Bangsa Indonesia di mata internasional, sehingga menim­bulkan kecaman dunia terhadap tindakan agresi Belanda dan simpati pada Indonesia. Inilah bukti kekuatan udara nasional bernilai strategis dan vital bagi eksistensi Negara Indonesia.

Lahir dan Perkembangan TNI AU
Hari jadi TNI AU ditetapkan 9 April 1946 tidak berapa lama se­telah terbentuknya Tentara Kea­manan Rakyat (TKR), cikal-ba­kal TNI, yang lahir pada l 5 Ok­tober 1945. Awalnya TNI AU ber­­nama TKR Jawatan Pener­ba­ngan, selanjutnya berdasarkan Pene­tapan Pemerintah Nomor 6/SD tanggal 9 April 1946, status TKR Jawatan Penerbangan diting­katkan menjadi Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI-AU) yang kedudukannya sederajat dengan TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.
Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia, TRI kemudian namanya diubah menjadi TNI. Penetapan Presi­den tanggal 9 April 1946 terse­butlah yang menjadi alasan utama ditetapkannya sebagai hari jadi TNI AU, yang tahun ini memasuki usia ke-75.

Di bawah kepemimpinan Kasau saat ini Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, S.E., M.P.P, TNI AU terus berupaya dikembangkan sesuai perkembangan teknologi persenjataan udara mutakhir, seperti adanya pesawat tempur Sukhoi SU 27 dan SU 30. Serta berupaya turut serta dalam upaya memberikan solusi permasalahan nasional sesuai kemampuan yang dimilikinya, melalui Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Aktivitas OMSP antara lain angkutan udara untuk pengambilan APD, penyebaran APD, angkut pengungsi, angkut pasien corona, juga peran prajurit TNI AU sebagai tracher covid 19, TMMD dan lainnya.
Sebelum kekuatan TNI AU seperti saat ini, dalam sejarah­nya TNI AU mengalami perkem­ba­ngan yang cukup dinamis. Di awali masa pertumbu­hannya 1946-1950, TNI AU bermodalkan pesawat tua peninggalan Jepang (buatan tahun 1930-an) seperti Cureng, Guntei, Hayabusha dan Cukiu. Selain itu, TNI AU juga mulai menata organisasi dan PU-PU dengan segala fasilitasnya, yang diserahkan Angkatan Udara Belanda pada AURI di berbagai daerah di tanah air.

Pada tahun 1950, TNI AU mulai berkembang yaitu menggunakan teknologi barat, ditandai hadirnya Pesawat Mustang, Mitchell, Dakota, Harvard dan Catalina. Melalui pesawat itu, TNI AU mam­pu memberikan andil dalam penumpasan berbagai pem­be­rontakan di tanah air seper­ti RMS, PRRI, Permesta dan DI-TII.
Tahun 1960-an, TNI AU turut andil mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi meng­gunakan Pesawat Mustang, Mig 17, Mig 19, Mig 21, Antonov, Her­cules, Ilyhusin dan TU-16. Juga Operasi Dwikora dan penum­pasan pemberontakan PKI Blitar Selatan.

Pada tahun 1970-an, hadir pesa­wat tempur OV 10 F Bronco, F-86 Sabre dan T-33. Pada tahun 1980-an, TNI AU memasuki era super­soniknya dengan kehadiran F-5 Tiger II, A-4 Sky Hawk, Hawk MK 53, Pesawat Boeing 737, Herc­ules tipe H, Helikopter Puma, F-16 serta Radar Thomson dan Plessey.

Di era 1990-an, hadir pesawat Hawk 100/200, CN 235, Helikopter NAS 332 Super Puma dan Radar Plessey AR 325. Memasuki tahun 2000, TNI AU di awaki pesawat dari barat dan timur yaitu Sukhoi SU 27 dan SU 30, T 50 Golden Eagle, Super Tucano, F16 C/D, pesawat latih dasar KT-1 Wong Bee, Helikopter EC 120 Colibri, C-130 Hercules, CN 235-200 MPA dan CN 295.

Melalui sejarah pertumbuhan dan perkembangannya yang penuh dinamika tersebut, memperkuat tekad, kemampuan dan profesionalisme seluruh prajurit TNI AU yang bersemboyan Swa Bhuana Paksa ( sayap tanah air), sebagai kekuatan udara nasional (national air power) dalam upaya mempertahankan keutuhan wilayah NKRI secara terus-menerus, Dirgahayu TNI Angkatan Udara. (*)

Oleh:
Letkol Sus Dodo Agusprio S., S.S.
Kepala Penerangan (Kapen) Lanud Abdulrachman Saleh
Editor : Shuvia Rahma
#Tni au