Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Seperti Dapat Hidup Kedua

Farik Fajarwati • Minggu, 8 Agustus 2021 | 12:00 WIB
Photo
Photo
Sembuh dari Covid-19 ini seperti hidup kedua bagi saya. Tuhan benar-benar memberi kesempatan kepada saya untuk memperbaiki kekurangan yang belum bisa saya perbaiki di 'hidup' pertama saya. Covid-19 juga membuka lebar mata saya bahwa ternyata masih banyak orang baik di luar sana yang peduli dengan saya. Selain dukungan materi, support dalam bentuk motivasi dan optimisme bahwa saya bisa bertahan hidup dan menang dari virus yang sudah menjajah dunia hampir dua tahun belakangan ini jadi obat terbaik.

Perkataan adalah doa, istilah ini rasanya tepat menggambarkan kondisi di pertengahan Bulan Juli lalu. Sekitar sebulan sebelumnya, saya berbincang sambil membonceng sahabat di atas motor. "Aku kok capek banget ya kerja ini. Kayaknya waktunya cuti, pengen liburan tapi takut korona. Pengen libur yang diem aja deh, mau sewa vila atau di hotel terus diem aja dah di dalem. Yang penting dapet suasana baru," ucap saya.

Tak di sangka, ucapan saya itu jadi kenyataan. Kira-kira hanya berselang dua minggu dari ucapan itu, takdir berkata bahwa saya positif terpapar virus Covid-19 varian delta. Varian yang membuat India sempat kalang kabut dan Indonesia amburadul karena menghadapi gelombang keduanya sejak awal Juni lalu.

Berawal pada tanggal 10 Juli saya mulai merasa kondisi tubuh tidak nyaman dan menunjukkan tanda-tanda akan sakit. Nyeri telinga dan tenggorokan, sakit kepala, demam, lalu batuk. Saat itu akhir pekan, tapi jadwal saya masuk kerja karena hari libur saya bukan weekend, tetap saya paksakan masuk karena saya pikir hanya kelelahan dan flu biasa.

Dua pekan sebelumnya sebenarnya saya sempat menjalani rapid test antigen karena kontak erat dengan pasien terkonfirmasi Covid-19. Hasilnya negatif. Saya semakin tidak khawatir karena rekan sekantor yang satu ruangan dengan saya juga baru saja melakukan tes serupa dengan hasil yang sama, negatif.

Tapi rasa percaya diri itu luruh tak bersisa ketika hari Minggu (11/7) tepatnya setelah bangun tidur siang saya sama sekali kehilangan indra penciuman dan perasa. Menulis dan mengedit puluhan atau bahkan sudah ratusan berita tentang Covid-19 membuat saya praktis menyimpulkan bahwa saya terpapar virus asal Kota Wuhan itu meski belum ada satu pun tes yang saya jalani.

Keesokan harinya, Senin (12/7), tanpa babibu saya pergi naik motor sendiri ke Puskesmas Pakis untuk swab antigen. Saya tidak mau diantar karena takut keluarga saya nanti tertular juga. Hasilnya sesuai dugaan, swab antigen saya menunjukkan dua garis, alias reaktif. Dengan hasil tersebut, oleh pihak puskesmas saya langsung di test PCR, gratis. Sementara menunggu hasil PCR selama dua hari, dokter yang menangani saya di Puskesmas Pakis meminta saya untuk isolasi mandiri (isoman).



Takut, bingung, resah, dan panik menjalari sejak saat itu. Bayang-bayang meringkuk lemah diatas brankar perawatan dengan berbagai alat bantu pernafasan membuat kondisi saya cepat sekali menurun. Saya diberi sekitar enam macam obat oleh dokter untuk saya minum. Ada Azythromycin Dyhydrate, Ambroxol, Paracetamol, Methylprednisolone, Chlorphenamine Maleate, dan Vitamin C500mg.

Yang saya ingat, sepulang dari puskesmas saya langsung cari koper dan mengemas beberapa pasang pakaian dan perlengkapan sehari-hari. Saya tidak mau isoman di rumah karena ada keluarga yang tinggal bersama saya. Kondisi rumah saya juga tidak mendukung untuk melakukan isoman. Maka saya minta tolong kepada rekan di kantor supaya dicarikan safe house. (Sejak saat ini saya punya hutang budi yang besar kepada rekan saya yang satu ini).

Keesokan harinya, Selasa (13/7) kondisi saya semakin menurun. Napas saya mulai tersengal-sengal. Tapi saya harus berangkat ke laboratorium RS Lavalette untuk kembali melakukan PCR atas perintah dari kantor. Saya pernah nyetir sendiri ke salah satu desa terujung di Kabupaten Malang, jaraknya 65 kilometer dengan lama perjalanan 3,5 jam untuk berangkat saja, tapi rasanya belum pernah semati-matian itu nyetir sepeda motor sendiri dengan napas yang sangat pendek-pendek.

Keesokan harinya, Rabu (14/7), hasil PCR saya dari Puskesmas Pakis dan RS Lavalette keluar bersamaan. Dua-duanya positif. Saya kabarkan orang tua karena tidak tinggal bersama, sayangnya ayah saya adalah tim yang meyakini bahwa Covid-19 ini hanyalah konspirasi. Astaghfirullah, ketimbang rasa sulit bernafas yang semakin berat, sebenarnya lebih berat harus menerima kenyataan bahwa orang tua menganggap bahwa wabah ini adalah bohong.

Kondisi saya semakin turun, selain harus berperang dengan batin dan mental yang berantakan, entah kenapa dukungan dan motivasi dari teman-teman justru membuat saya semakin putus asa. Hampir semua orang yang menelpon saya dan memberi dukungan saya respon dengan menangis tersedu-sedu, saya tidak bisa menahan lagi.

Masih di hari yang sama, pihak Puskesmas Pakis segera mengatur evakuasi saya ke Safe House Rusunawa ASN di Block Office Kepanjen. Pukul 11.00 WIB ambulans tiba dan saya langsung di evakuasi. Kalau biasanya saya meliput, memotret, atau mengedit berita dengan ilustrasi para petugas dengan APD level 3, saat itu pertama kalinya saya benar-benar ada dihadapan mereka. Saya yang jadi objek untuk mereka tolong, Ya Allah, lagi-lagi mental saya di uji. Sudah, yakin iik, ini supaya kamu sembuh! Hanya itu yang ada di kepala saya. Saya mau sembuh!

Naik turun kondisi saya lewati di Safe House Rusunawa ASN Kepanjen selama dua minggu menjalani isolasi di sana. Yang terburuk, saturasi saya sempat turun di angka 56. Entah alatnya yang error atau memang malaikat maut sedang lewat saat itu, saya pasrah. Ingin rasanya bersimpuh ke makam almarhumah ibu dan mencium kaki bapak, minta maaf pada orang-orang yang pernah saya lukai hatinya, berterima kasih pada orang-orang yang sudah sangat baik membantu saya dalam kondisi apapun, dan memohon doa. Ya Allah, hamba mohon ampun.

Selama 12 jam di kondisi terburuk itu, saya hanya bisa berdoa dan meminta maaf kepada siapapun tanpa ada yang memaafkan. Silih berganti dukungan dari teman-teman, baik yang berupa doa, hingga sekedar mengirimkan apa yang saya butuhkan atau inginkan. Perawat keluar masuk ruangan saya dan bilang ada banyak teman yang peduli. "Ini mbak banyak sekali yang kirim buat kamar 308 (nomor kamar yang saya tempati di safe house) setiap hari," kata mas perawat yang saya cuma bisa kenal dari matanya dan tidak kenal namanya bahkan sampai saya pulang.



Alhamdulillah, sore hari, bertepatan dengan tarkhim jelang adzan maghrib, ketika di cek saturasi saya sudah meningkat jauh. Yang saya ingat antara 90-93, belum normal, tapi sudah sangat membaik dibanding pagi harinya.

Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Bapak Sekretaris Daerah Kabupaten Malang Dr Ir Wahyu Hidayat MM dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang drg Arbani Mukti Wibowo  yang sudah memberikan kemudahan dalam proses perawatan saya hingga sembuh dan bisa kembali bekerja seperti sekarang.

Juga utang rasa dan budi kepada para nakes di Puskesmas Pakis dan Rusunawa ASN Kepanjen yang sangat sigap memberikan pelayanan dan perawatan kepada saya. Salut kepada para nakes di Rusunawa ASN Kepanjen yang sangat sabar, telaten, juga siaga merawat saya secara pribadi dan pasien lain yang menjalani isoman di sana. Saya masih ingat, beberapa hari sebelum pulang saya sempat mengalami sakit kepala hebat. Sekitar pukul 01.30 dini hari saya tidak tahan dan minta obat, kurang dari 10 menit saya sudah di layani dengan sangat baik.

Nyatanya virus ini ada. Terlepas dari teori konspirasi yang bermunculan di sana-sini, vaksinasi Covid-19 itu juga penting. Banyak sekali saya temui orang-orang disekitar saya yang mengalami gejala jauh lebih parah dari yang saya alami. Mayoritas di antara mereka adalah orang-orang yang belum dan bahkan menolak untuk divaksin.

Dan yang terpenting, selain obat-obatan medis, kondisi mental yang sehat juga menjadi salah satu penentu akan berperang atau menyerahkah mereka yang terpapar Covid-19. Dear orang-orang baik yang tidak bisa saya sebut satu persatu, terimakasih. Saya sembuh!

  Editor : Farik Fajarwati
#safe house #Perspektif #COVID-19 #Hidup Kedua