Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Semangka

Mahmudan • Senin, 13 November 2023 - 22:31 WIB
Photo
Photo

Oleh: Mahmudan

Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

 

BEBERAPA pekan ini, buah semangka semakin populer. Media sosial (medsos) dijejali unggahan aksi bela Palestina disertai gambar potongan semangka. Rupanya, buah yang berasal dari daerah tropis di selatan Afrika itu tidak sekadar menghilangkan dahaga lantaran terdapat kandungan air yang tinggi. Namun juga menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel.

Mengapa semangka menjadi simbol perlawanan? Apa hubungan rakyat Palestina dengan semangka? Simbol muncul dari hasil kesepakatan masyarakat atau konvensi sosial. Karena itu, simbol mempunyai histori meski tak selalu mempunyai makna filosofi.

Secara histori, semangka sudah menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina sejak 56 tahun silam. Setelah pendudukan Israel di Tepi Barat pada 1967, rakyat Palestina dilarang mengibarkan bendera. Rakyat Palestina menunjukkan ekspresi perlawanan dengan membawa potongan semangka. Kebetulan di tanah mereka, semangka tumbuh subur.

Ketika dibelah, perpaduan warna semangka juga menyerupai warna bendera Palestina. Kulit luarnya berwarna hijau, kulit lapisan dalam putih, lalu ada bagian berwarna merah disertai biji hitam.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga tidak bisa lepas dari simbol. Berkomunikasi menggunakan simbol-simbol dan memahami sesuatu melalui simbol. Kita menilai seseorang tersebut kaya lantaran memiliki rumah yang megah dan mobil mewah. Atau aset mereka tersebar di mana-mana. Kita juga kerap menilai seseorang itu sukses setelah berhasil menduduki jabatan penting.

Sebaliknya, seseorang dilabeli sebagai warga prasejahtera ketika masih tinggal di rumah kontrakan dan hidupnya serba kekurangan. Rumah, mobil, dan aset adalah simbol kekayaan. Sedang profesi mentereng menjadi simbol kesuksesan.

Ungkapan cinta kepada pasangan juga disampaikan melalui simbol. Misalnya lewat bunga atau kue cokelat. Pada moment-moment spesial, seseorang kerap mengirim bunga dan cokelat kepada pasangannya. Si penerima bunga dan cokelat pasti senang. Sekaligus menyimpulkan bahwa si pengirim mencintainya, meski tidak ada tulisan ”I Love You” di dalam bunga maupun bingkisan kue cokelat tersebut. Si penerima juga tidak mempersoalkan, kenapa bunga dan cokelat menjadi simbol cinta dan kasih sayang. Mungkin bagi dia, memahami arti simbol lebih penting daripada menggali makna filosofinya.

Dalam urusan agama juga demikian. Untuk memahami Tuhan yang transenden, manusia membutuhkan simbol-simbol yang imanen. Misalnya, umat Kristiani punya salib dan muslim menjadikan Kakbah sebagai kiblat dalam menunaikan salat. Tentu, masing-masing ada historisnya, meski tidak sedikit yang abai terhadap makna filosofinya. Semua muslim yang taat pasti bersujud menghadap Kakbah, tapi mereka tidak mau repot-repot mengkaji dari sisi filosofinya. Misalnya, kenapa bangunan Kakbah berbentuk kubus, bukan melengkung seperti kubah masjid. Umumnya mereka juga tidak mencari tahu kenapa bangunan Kakbah setinggi 12 meter dengan panjang 13 meter, dan lebar 11 meter.

Bagi mereka, ketaatan lebih penting. Lebih baik menghabiskan waktu untuk beribadah, dari pada susah-susah mencari makna di balik bangunan Kakbah. Sebab, melalui simbol-simbol itu mereka bisa berkomunikasi dengan Tuhan.

Filsuf Amerika sekaligus peletak dasar teori semiotika, Charles Sanders Peirce (1839-1914) menyebut bahwa simbol merupakan tanda yang ditentukan oleh peraturan yang berlaku di masyarakat. Simbol memiliki sifat konvensional dan arbiter. Artinya, tanda disepakati untuk ditaati bersama. Misalnya, bendera kuning menandakan adanya kematian atau duka. Tidak perlu dipersoalkan kenapa harus kuning, bukan warna lainnya seperti merah, putih, hijau dan biru. Bagaimana menurut Anda?(*)

Editor : Mahmudan
#semangka #Malang Raya #Kota Malang #opini