Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Yuk, Bisa Yuk!

A. Nugroho • Minggu, 21 September 2025 | 16:53 WIB
Adi Nugroho, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Adi Nugroho, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

Relate. Meresap dalam kosakata Gen Z yang biasa nyampur kalimat (baca: kemenggres), makna kata ini sedikit berubah.

"Kamu relate nggak?" "Aku ternyata relate sama ceritanya." "Relate banget sama suasana ini, nih."

Meski tanpa ‘to’ di belakangnya, penjelasannya adalah ‘terkoneksi dengan..’ atau ‘punya nuansa yang sama’. Agak sedikit ribet, tapi begitulah bahasa dimengerti. Bila lebih dari satu orang sepakat dan bisa berkomunikasi, terciptalah bahasa.

Di sisi lain, ahli mengatakan bahasa itu arbitrer. Artinya, tidak ada hubungan antara simbol (kata) dengan makna yang diwakilinya. Bergantung konsensus atau kesepakatan.

Tak heran, makin banyak bahasa unik dalam percakapan. Tua dan muda. Ada yang punya pakem dan patern yang jelas. Namun ada yang semau-mau si pemilik bahasa. Gaul, katanya.

Sebut saja penyanyi terkenal, Isyana Sarasvati. Bisa jadi awalnya dia iseng saat menciptakan kata baru seperti piu, yao, inyo, hingga drigana. Bahkan yang lebih panjang seperti yamitri yamyap pipi ya pupu yang berarti dingin. Serta, yamitri yamyap pupu ya pipi yang berarti panas.

Alih-alih layaknya boso Walikan Malang yang masih ada sentuhan pakem, bahasa Isyana jauh lebih kompleks. Nyaris tak ada pola bagaimana morfem-morfemnya terbentuk. Kendati demikian, kini makin banyak teman sampai fans Isyana yang bisa mengobrol dengan bahasa itu. Sampai muncul gurauan, Isyana punya KBBI sendiri. Kamus Besar Bahasa Isyana.

Bahasa sebagai Pemersatu

Bahasa sangat penting. Tak hanya sarana komunikasi, tapi juga berfungsi sebagai perekat persatuan. Bahasa Indonesia contohnya. Bahasa ini disadari akan menjadi pemersatu bangsa jauh sebelum kemerdekaan diproklamirkan. Tepatnya dalam momen Sumpah Pemuda di akhir 1928.

Bayangkan negeri ini bakal terpecah-belah jika tak punya bahasa sebagai elemen kunci. Dengan keberadaan 718 bahasa daerah dengan dialek serta keragamannya, maka satu manusia di negeri ini akan sulit berkomunikasi dengan manusia lain.

Walau punya semangat kebangsaan yang seiya, jika tak fasih bercakap dalam bahasa yang sama, saling bertukar ide, maka lambat laun kecurigaan akan muncul. Pemuda negeri ini sadar betul akan hal itu.

Sekarang? Kondisinya sudah bertolak belakang. Setidaknya bukan lagi di garis yang sama. Anda bisa menguji kemahiran berbahasa Indonesia pemuda zaman now? Boleh jadi mereka akan lebih lazim mengatakan, “Its Okay!” atau “No, no, no, no!” Bahasa yang mereka dengar sejak bayi. Semudah mereka mengucapkan, “Ottoke” atau “Jinjja?” saat beranjak remaja.

Sementara bahasa Indonesia makin tenggelam dalam berbagai bentuk absurdnya. Belum lagi munculnya jenis bahasa baru dalam percakapan tulis lewat aplikasi perpesanan hingga permainan daring.  

Tak heran, makin sering terjadi kesalahpahaman. Bagaimana kritik justru dianggap hinaan atau aspirasi yang malah disebut ancaman oleh pihak seberang. Begitu pun mereka yang membangun citra, dirundung sebagai pembohong. Salah siapa?

Ayo Saling Memahami

Kembali soal relate. Bahasa dan kisah yang disampaikannya akan menjadi penentu bagaimana kita bisa mengerti antara satu dan lainnya. Terkoneksi dengan gaya pemikiran lama atau yang paling mutakhir sekalipun. Generasi Old dengan Generasi Z, Alpha, dan seterusnya.

Seorang senior di media ini pernah curhat malam-malam. Usai rapat redaksi dan menunggu hujan reda, dia bercerita sulit sekali relate dengan generasi baru. Saat dia bertanya soal pekerjaan Superman alias Clark Kent dalam sebuah pelatihan jurnalistik, anak-anak Gen Z yang berada di hadapannya diam. Mereka tak paham.

Padahal dia hanya mencari padanan budaya pop untuk memberi gambaran kerja-kerja jurnalis. “Superman kan jurnalis. Reporter di Daily Planet. Itu koran juga,” ungkapnya di hadapan sejumlah wartawan. Percakapan itu dia utarakan beberapa bulan sebelum film Superman terbaru garapan James Gunn rilis di layar lebar.

Katanya, dulu di awal 2000-an, kisah Superman ini masih nyambung-nyambung saja. Tapi sekarang gap budaya begitu kentara.

Saya menyela. Berupaya mencairkan suasana di tengah sejumlah wartawan Gen Z yang kayaknya tidak sebegitu ngeh. “Spiderman?” “Bukan. Peter Parker itu fotografer!” jawab sang senior. Beberapa wartawan mengangguk-angguk. Tatapan mereka masih kosong. Hehee.

Sayang, dua superhero itu produksi Hollywood. Jelas Amerika dan kebarat-baratan. Formatnya film panjang. Apesnya, generasi sekarang tak tahan berlama-lama menonton film yang berdurasi 1,5 bahkan 2 jam.

Mereka lebih sering menyaksikan rangkuman alur cerita via You Tube atau TikTok. Bahkan mayoritas justru memfavoritkan film seri. Itu pun bukan bikinan Amerika. Melainkan K-drama alias seri drama Korea (drakor).

Di waktu yang lain, saya coba mengajukan judul film seri drakor ke anak-anak Gen Z. Penasaran. Ingin mengetes seberapa relate saya dengan mereka.

“Pinocchio.” Ada yang nyantol soal kisah boneka kayu yang hidungnya memanjang jika berbohong. Sementara yang lain hanya tolah-toleh. Menggeleng pelan. “Bukan dongeng klasik itu, tapi yang drakor.” Saya beri pancingan lagi. Mereka malah mengangkat bahu.

Saya coba cek di Google, ternyata film seri dengan tokoh utama seorang jurnalis ini keluaran 2014. Saat itu, Lee Jong-suk dan Park Shin-hye sedang moncer-moncernya.

Dunia sepertinya bergerak sangat cepat. Terlalu cepat. Hingga menempatkan waktu layaknya kilatan cahaya. Membuat kita terperangah, terengah-engah, dan mudah abai pada sejarah.

Semoga saja, baik yang hidup di masa lalu, masa kini, dan masa depan, bisa terus relate dengan perkembangan zaman. Menyesuaikan diri. Beradaptasi. Mencari banyak referensi. Saling terbuka memahami. Sebab dengan cara itulah manusia mempertahankan eksistensinya.

Bagaimana pun, saya berupaya positif. Meski sejenak harus menghela napas panjang. Yuk, bisa yuk!

(penulis adalah jurnalis Jawa Pos Radar Malang dan bisa disapa di adinugroho.ohorgunida@gmail.com)

Editor : A. Nugroho
#jawa pos radar malang #Drakor #bahasa #relate