PRESTASI cabang olahraga sepak bola kembali ke setelan pabrik. Begitu kata teman saya saat mengomentari capaian Timnas Sepak Bola Indonesia di SEA Games 2025, Thailand. Menelaah omongan itu me mang banyak benarnya. Pada SEA Games 2023 lalu, Garuda Muda berhasil meraih emas.
Prestasi itu sekaligus meng akhiri puasa juara di ajang multi cabor bergengsi di Asia Tenggara itu selama 32 tahun. Sebelumnya, Tim Sepak Bola Indonesia meraih emas di SEA Games Manila pada tahun 1991.
Sekarang, untuk lolos dari fa se grup saja sangat susah. Kalah dari Timnas Sepak Bola Fi lipina pada babak awal. Aki batnya, perlu menang de ngan banyak gol saat me la wan Timnas Myanmar un tuk lolos ke semifinal. Tapi, hal itu tidak bisa diwujudkan.
Skuad Garuda Muda saat ini sejatinya tidak terlalu bu ruk dibandingkan dua tahun lalu. Ivar Jenner, Mauro Zijlstra, Rafael Struick, Dony Tri P a mungkas, Dion Markx, Ka dek Arel beberapa pemain bagus yang ada di tim. Staf pelatih berisi para legend yang ber pengalaman menangani tim merah putih di SEA Games.
Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Indra Sjafri. Sosok yang di balik keber hasilan Garua Muda meraih emas dua tahun lalu. Jika melihat bio Instagram Indra Sjafri, eks juru taktik Bali Uni ted itu punya empat prestasi di turnamen Asia Tenggara.
Terakhir kali Tim Sepak Bola Indonesia gagal men capai babak semifinal atau hanya sam pai fase grup terjadi pada SEA Games 2009. Setelah itu, me raih perak, perak, menem pati urutan keempat, meraih perunggu, perak, pe runggu, dan emas di SEA Games 2023 lalu.
Kondisi tersebut menjadi se buah ironi dan anomali. Ironi karena dana Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Tim Sepak Bola Putra dan Putri sebelum SEA Games 2025 menjadi tertinggi dibandingkan cabor lain. Berdasar informasi dari berbagai sumber, mencapai Rp 199,7 Miliar.
Sebelum SEA Games 2025 bergulir, sepak bola masuk cabor strategis. Hal itu, mem buat PSSI mendapatkan bantuan pendanaan Pelatnas tahap pertama. Sejajar dengan 12 cabor yang sukses mengirim atlet ke Olimpiade Paris 2024. Di antaranya, panjat te bing, angkat besi, bulu tang kis, judo, dayung (rowing), menembak, gimnastik, panahan, selancar ombak, atle tik, akuatik, dan balap sepeda.
Salah satu aspek yang jadi pertimbangan besaran dana ban tuan untuk Pelatnas adalah prestasi. Pada April lalu, Man tan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo mengatakan, sepak bola merupakan cabor berpo tensi tinggi meraih prestasi. Menpora juga berpatokan dengan Inpres No.3 Tahun 2019 tentang percepatan sepak bola nasional.
Saat SEA Games dari 13 cabor tersebut, hanya sepak bola yang pulang dengan tangan kosong. Sedangkan cabor badminton, wushu, pan jat te bing berhasil jadi juara umum. Lifter Indonesia Rizki Juniansyah, mencatatkan sejarah dengan me mecahkan rekor dunia pada kelas 79 kilo gram di SEA Games 2025.
Melihat hasil itu, apakah Kemenpora telah melakukan investasi ’bodong’? Saya rasa banyak versi jawaban terkait per tanyaan itu. Tapi, hasil ter sebut menjawab atau mungkin mematahkan pernyataan tentang diperlukannya sokongan dana besar untuk menciptakan prestasi.
Menelusuri persiapan cabor peraih medali yang jadi wakil Indonesia di SEA Games 2025, ternyata cukup banyak yang harus putar otak. Tidak sedikit juga harus tambal sulam demi program latihan berjalan dengan maksimal. Namun, berkat pembinaan yang selalu diupayakan berjalan baik dan continue selama bertahun-tahun, tantangan mampu mereka hadapi.
Satu contohnya adalah cabor panjat tebing. Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia Yenny Wahid sempat mengatakan, dalam tanda kutip kekuatan panjat tebing Indonesia diancam. Itu akibat, sempat ada penolakan untuk tim Panjat Tebing Indonesia menurunkan atlet andalan dengan prestasi dunia.
Karena itu, bertanding dengan skuad muda. Meski be gitu, berhasil meraih empat emas dari enam nomor yang dipertandingkan. Para atlet junior mampu unjuk gigi saat Veddriq Leonardo, Kiromal Ka tibin, Desak Made Rita Ku suma Dewi hingga Rajiah Salsabillah tidak bisa tampil. Cabor tersebut, memang se cara continue menghadirkan ber bagai kejuaraan berjenjang mulai tingkat daerah dan nasional.
Contoh lainnya bulu tangkis, proses masuk Pelatnas yang ketat dan berliku membuat ke mampuan atlet benar benar diuji. Perlu mengum pulkan banyak poin di Kejua raan Sirkuit Badminton (Sirnas) untuk mendapat tiket seleksi nasional. Sekali Sirnas perlu merogoh saku dalam.
Setelah masuk Pelatnas, para pebulu tangkis menjalani latihan intensif dengan disiplin tinggi. Untuk bisa masuk tim SEA Games harus bersaing ketat dengan atlet potensial dari penjuru daerah di Indo nesia yang ada di Pelatnas.
Sebetulnya, sepak bola su dah melakukan pembinaan dengan menghadirkan kom petisi berjenjang seperti cabor lain. Bahkan memanggil pemain terbaik untuk SEA Games tahun ini. Manajer Timnas Indonesia U22 Sumar dji mengklaim Garuda Muda punya persiapan dan skuad bagus. Di tambah dapat support luar biasa.
Perbedaan capaian antar ca bor itu memang jadi tanda tanya besar. Terlebih Indo ne sia tidak kekurangan pe sepak bola yang bagus. Setiap tahun, selalu ada wonderkid yang muncul di kompetisi. Fasilitas penunjang latihan juga jauh lebih bagus sekarang.
Problem tersebut tidak bisa diabaikan. Meski bukan ajang agenda FIFA, kegagalan di SEA Games harusnya jadi pe ringatan. Sepak bola na sio nal ma sih harus terus ber benah. Federasi dan ma syarakat juga perlu menyadari hampir lolos ke Olimpiade Paris 2024 dan Piala Dunia 2026 hanya fata morgana prestasi. Karena saat ini, ha nya untuk bersaing di level sepak bola Asia Tenggara masih kesulitan.
Kalau PSSI mau, perbaikan bisa dimulai dengan me nang galkan gengsi. Mengakui ke kurangan. Bukan sebuah masalah saat mereka ingin belajar dari cabor lain. Toh, cabor-cabor yang berprestasi lebih terbukti mampu mem bangun fondasi pembinaan yang kuat.
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang