BURSA transfer BRI Super League tengah musim berjalan dinamis. Klub-klub papan atas, tengah, dan bawah kompak melakukan bongkar pasang skuad. Mereka punya beragam tujuan mengubah komposisi skuad.
Semen Padang dan Persis Solo misalnya, mendatangkan amunisi anyar asing supaya tidak turun kasta. Persija Jakarta dan Persib Bandung memburu gelar juara.
Di tengah proses perekrutan pemain yang kerap disambut dengan euforia para suporter itu ada beragam cerita jenaka. Tentunya, humor itu merupakan perspektif saya. Salah satunya, pernyataan Pelatih Kepala Bali United Johnny Jensen kepada salah satu media Belanda.
Dia menyampaikan, sistem perekrutan pemain yang dilakukan klubnya berbeda dengan kebanyakan tim-tim Eropa. Itu menyusul, tidak ada tim scouting khusus yang memantau siapa pemain yang akan direkrut. Klub bermodal data dari agen. Pihak ketiga itu, menyodorkan video YouTube dan berbekal data dari transfermarkt untuk menawarkan pemain anyar.
Meski belakangan pernyataan itu diklarifikasi sang pelatih sendiri. Tapi, Pelatih Kepala PSIM Jogjakarta Van Gastel dalam salah satu wawancara dengan awak media di Indonesia tidak membantah mekanisme tersebut. ”Begitulah cara orang-orang bekerja di sini. Jadi kami harus menyesuaikan dan mencoba melakukannya,” kata dia.
Melihat skema itu rasanya jadi ironi, tetapi juga mengundang tawa. Meski saya yakin tidak semua klub BRI Super League melakukannya hehehe, ini ibarat percaya dengan harga iPhone 17 Pro Max Rp 500 ribu di toko online.
Harapan menambah kekuatan tim bisa berakhir menjadi boncos. Terlebih, jika amunisi anyar yang didatangkan punya riwayat cedera. Selain berpotensi menepi, secara performa kemungkinan besar juga tidak maksimal.
Salah satu dokter dari klub tanah air pernah bercerita kepada saya, merekrut pemain asing itu ibarat membeli mobil Ferrari bekas. Kenapa second? Karena kemungkinan yang baru (saat peak performance) tidak bermain di sini, katanya sambil bercanda.
Menurutnya, klub harus benar-benar cermat dalam merekrut pemain asing. Khususnya, yang belum pernah bermain di Indonesia. Itu karena, ada bagian part dari mobil Ferrari tersebut yang berpotensi tidak optimal.
Pelatih harus mengatur pemanfaatannya sebaik mungkin. Anda bisa bayangkan berapa banyak klub bakar uang hanya untuk hal-hal semacam itu. Kalau sedang bermain Manager Career Mode di FC 25 akan menyenangkan melakukan aktivitas transfer.
Efek positif dari keberhasilan kebijakan transfer sejatinya tidak hanya tentang hal teknis. Tapi, bisa jadi peluang memperkuat dan menyelamatkan financial klub. Arema FC dengan Gustavo Almeida pada musim 2023/2024.
Transfer AFC Bournemouth musim ini bisa jadi gambaran. Klub tersebut meraih keuntungan finansial mencapai sekitar Rp 4 triliun melalui strategi transfer efektif. The Cherries menjual pemain muda yang direkrut tidak dengan harga tinggi. Musim lalu, mampu kompetitif saat melawan tim big six Liga Inggris.
Skema perekrutan pemain di Eropa dilakukan secara detail. Tujuannya menghindari kerugian yang berpotensi timbul. Dalam hal itu, tugas tim scouting krusial.
Pemandu bakat klub akan melihat pemain yang ingin direkrut berbulan-bulan. Datang langsung ke tempat latihan atau pertandingan. Tujuannya, memastikan pemain itu memang cocok untuk direkrut, sesuai kebutuhan teknis tim sampai punya attitude yang bagus.
Mantan Scout Liverpool dan West Bromwich Albion Mel Johnson pernah mengatakan, harus datang ke pertandingan dan wajib memiliki insting, tidak bisa cuma menyaksikan pertandingan di laptop. Itu merupakan hal yang tidak berguna. David Moyes saat masih di Everton selalu menuntut laporan lengkap dari pemain-pemain yang jadi incaran.
Kabarnya dia memiliki 10 sampai 12 scout yang bekerja untuknya. Semuanya selalu dia minta untuk memberikan laporan yang ekstra detail. Memberikan laporan terkait 12 kriteria untuk masing-masing posisi. Dia memiliki 5.000 laporan hasil scouting untuk 1.000 pemain.
Meski bukan hal yang mudah dicontoh atau ditiru klub tanah air akibat adanya keterbatasan financial dan sumber daya ahli, namun harus ada langkah-langkah yang lebih menguntungkan klub saat bursa transfer. Seperti salah satunya dengan melakukan proses trial.
Kendati juga harus keluar uang tidak sedikit, tapi itu bisa jadi solusi termudah untuk menghindari pemain anyar flop. Keuntungan lainnya, tidak perlu mengganti fondasi permainan tim karena harus mengubah pelatih kepala setiap musim. Seperti diketahui pihak paling bertanggung jawab terkait hasil tim adalah pelatih kepala. Mengganti nakhoda berarti harus membangun ulang tim, yang ujungnya bisa gagal lagi.
Pemain Diaspora Pulang Kampung
Humor lainnya di bursa transfer adalah bergabungnya pemain Diaspora ke klub Liga 1. Khususnya untuk pemain muda seperti Dion Markx, Jens Reven, Rafael Struick, Eliano Reijders. Tiga nama terakhir itu gabung bursa transfer 2025 lalu.
Di sini saya tidak ingin menyebut kompetisi kasta tertinggi tanah air jelek, tapi sebaik-sebaiknya sepak bola tetap di Eropa. Atau minimal mencari peruntungan karier di Jepang, Korea Selatan, Thailand, atau Australia.
Dikutip dalam Antara 2024 Eks Pelatih Timnas Shin Tae-yong mengatakan, naturalisasi bukan hanya soal status kewarganegaraan, tetapi soal kualitas dan kedalaman skuad yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi. Sedangkan Ketua Umum PSSI Erick Thohir dikutip dari Republika 2023 menekankan pentingnya membangun skuad yang mampu bersaing dalam jangka waktu panjang. Harapannya pemain-pemain muda dinaturalisasi membentuk fondasi tim (Timnas) masa depan yang matang secara teknis dan mental. Dari dua peryataan itu, kalian bisa menilai bagaimana keputusan mereka. (/*)
Editor : Aditya Novrian