Berita Terbaru Ekonomi Internasional Kesehatan Kriminal-Kasuistika Lifestyle Malang Raya Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Politik-Pemerintahan Sosok Wisata-Kuliner

Nyepi, Idul Fitri, dan Toleransi yang Mengurat Nadi

Aditya Novrian • 2026-03-19 12:11:56
Wahyu Hidayat, Wali Kota Malang
Wahyu Hidayat, Wali Kota Malang

Oleh: Wahyu Hidayat

Idul Fitri kali ini terasa istimewa. Karena beriringan dengan perayaan Nyepi. Dua hari raya umat yang berbeda agama, tapi jatuh di hari yang hampir bersamaan. Idul Fitri bagi umat Islam dan Nyepi bagi umat Hindu.

Bagi Kota Malang dengan tingkat heterogenitas tinggi, ini adalah pembuktian dari warganya yang memiliki toleransi tinggi pula. Yaitu, bagaimana hidup berdampingan secara damai walaupun memiliki perbedaan di sana-sini. Yang mayoritas mengayomi dan melindungi. Yang minoritas tahu diri dan menghormati.

Dalam dasa bakti Pemerintah Kota Malang, hal itu menjadi bagian dari pengembangan Ngalam Santun. Yaitu, penguatan karakter warga Kota Malang, khususnya anak-anak mudanya.

Baca Juga: Tali Jagat yang Merawat Keragaman Malang

Boleh dibilang, toleransi adalah karakter genuine warga kota ini. Karakter yang terbentuk dari perjalanan panjang sejarah kota ini sendiri. Sejak era Raja Gajayana yang jejaknya didapat pada Prasasti Dinoyo, era Raja Kertanegara yang mencetuskan konsep Dwipantara –sebelum ada konsep Nusantara, era kolonial Hindia Belanda yang meletakkan dasar arsitektural kota modern, hingga era kemerdekaan yang membentang hingga sekarang. 

Malang adalah kota kosmopolitan sejak masa lalu. Dan, salah satu ciri kosmopolitanisme adalah toleran dan adaptif. Ini adalah tuntutan dari ciri lain kota kosmopolitan, yaitu pluralitas. Penduduknya terdiri dari beragam latar belakang. Dengan penduduk yang beragam, tanpa ada sikap saling pengertian, tepa selira, dan toleransi yang tinggi, bisa dipastikan wilayah itu akan buyar. Penduduknya akan musnah. 

Tapi, perjalanan panjang Malang menunjukkan hal sebaliknya. Boleh jadi bentuk pemerintahan dan penguasanya silih berganti, tapi sebagai sebuah kesatuan wilayah geografis dan budaya, Malang tetap eksis hingga kini. Toleransi telah menjadi karakter yang mengurat-nadi pada warganya.

Baca Juga: Memperingati Hakordia, Wahyu Pimpin Deklarasi Antikorupsi di Balai Kota Malang  

Karakter inilah yang tidak boleh hilang pada warga Kota Malang. Alih-alih, yang justru perlu dilakukan adalah memperkuat dan mengembangkannya, terutama pada anak-anak mudanya. Momentum perayaan Nyepi dan Idul Fitri yang hampir bersamaan inilah salah satu momentumnya.

Bagaimana umat Hindu bisa merayakan Nyepi dalam sunyi lewat Catur Brata Penyepian yang dimulai pagi ini. Dan, bagaimana umat Islam bisa merayakan Idul Fitri dengan penuh kesukacitaan sekaligus kekhusyukan. Tanpa ada yang saling meniadakan. 

Saya yakin, jika sesama umat Islam yang merayakan Idul Fitri di tanggal Masehi berbeda saja bisa saling menghormati, bukan hal yang sulit untuk menghormati umat lain yang jelas berbeda keyakinan.

Perbedaan adalah ibarat taman sari keindahan yang diberikan Tuhan dalam kehidupan umat manusia. Dari para kiai dan ustadz, saya sering mendapat nasihat bahwa perbedaan di antara umat manusia adalah rahmat. Seandainya mau, Tuhan bisa saja menciptakan manusia di bumi ini seragam. Tapi, kita tidak menjumpai yang seperti itu di belahan bumi mana pun. Tuhan sengaja menciptakan perbedaan agar manusia bisa saling bekerja sama.

Dalam konteks inilah, Dasa Bakti Ngalam Santun diperlukan. Yaitu, mengelola perbedaan dengan mengembangkan karakter toleran pada warga sehingga mereka bisa bekerja sama. Inilah energi yang dibutuhkan untuk mewujudkan visi Malang Mbois Berkelas. 

Baca Juga: Stok Aman, Wali Kota Minta Masyarakat Tak Panic Buying

Pengembangan karakter ini bisa dilakukan melalui jalur pendidikan. Baik formal, nonformal, maupun informal. Formal, lewat kurikulum di sekolah. Nonformal, lewat kursus atau pelatihan. Sedangkan informal, dan ini lebih efektif karena tidak punya durasi yang terbatas, lewat interaksi sehari-hari di lingkungan keluarga maupun sosial.

Lalu mengapa anak muda? Bukan saja karena merekalah yang menjadi penentu masa depan. Akan tetapi, karena mereka memiliki tantangan yang lebih berat daripada generasi sebelumnya. Sebagai generasi yang sejak lahir sudah memegang HP, ancaman perpecahan lebih rawan dihadapi oleh mereka. 

Hari-hari mereka dipenuhi oleh konten yang berisi hasutan dan ujaran kebencian. Tanpa ada bekal karakter yang kuat, mereka bisa larut dan hanyut di dalamnya. Lalu, menganggap diri paling benar dan yang lain salah.   

Idul Fitri kali ini terasa istimewa. Karena “ditemani” oleh Nyepi. Berjalan beriringan tanpa ada yang saling menegasi. Inilah rahmat dari Tuhan untuk Indonesia. Rahmat dari Tuhan untuk Malang dengan karakter genuine-nya yang toleran. Selamat merayakan Nyepi. Selamat merayakan Idul Fitri. 

Dr Ir Wahyu Hidayat MM

Arek Mbareng, Wali Kota Malang 2025-2030 

 

 

 

 

 

 

Editor : Aditya Novrian
#kolom pak mbois #Wali Kota Malang #wahyu hidayat #opini #idul fitri #nyepi